peralatan bedah ortopedi

Peralatan Bedah Ortopedi Wajib Anda Ketahui

Bedah ortopedi merupakan cabang ilmu pembedahan yang bertanggungjawab untuk mengobati pasien dengan keluhan seputar masalah muskuloskeletal. Musculoskeletal atau muskuloskeletal sendiri berarti sistem kompleks dalam tubuh yang mencakup sistem otot dan juga sistem rangka manusia termasuk sendi. Semua keluhan pasien yang mencakup permasalahan muskuloskeletal ditangani oleh dokter dengan peralatan bedah ortopedi alat non-bedah.

Nama ortopedi sendiri tenyata diistilahkan “orthopaedics” oleh seseorang yang bernama Nicholas Andry. Beliau mengambil kata ini dari Bahasa Yunani yaitu “orthos” yang berarti lurus atau betul dan juga “paidion” yang berarti anak. Dan pengucapan kata itu sendiri berbeda-beda di setiap daerah. Di Indonesia sendiri umumnya digunakan istilah ortopedi untuk bidang ini dalam dunia kesehatan. Ada organisasi yang bergerak khusus di bidang ini yaitu IOA (Indonesian Orthopaedic Association).

Dalam artikel kali ini, kita akan mengenal peralatan bedah ortopedi yang biasa ditemukan dan digunakan di rumah sakit. Tetapi sebelum mempelajari lebih lanjut, tentu kita akan mengulas sejarah dan perkembangan ortopedi di Indonesia dan dunia. Selamat membaca ulasan di bawah ini!

Sejarah Ortopedi Dunia

Bila berbicara mengenai ortopedi, nama yang sangat terkenal dan mendunia adalah Jean Andre Venel. Beliau adalah seorang pelopor di bidang ortopedi dalam dunia kesehatan. Jean Andre Venel mendirikan lembaga yang menangani kasus di bidang ortopedi pertama pada tahun 1780. Awalnya, lembaga ini didirikan dengan tujuan mengobati anak-anak dengan permasalahan rangka. Hingga kini, Jean Andre Venel dianggap banyak orang sebagai bapak ortopedi karena lembaga yang didirikannya dan juga metode pengobatannya.

Ada juga yang bernama Antonius Mathysen, yaitu orang yang pertama kali menemukan pembalut gips. Beliau menemukan benda ini sekitar tahun 1851. Ia lahir di sebuah kota di perbatasan Belanda dan Belgia. Antonius Mathysen telah dididik di sekolah kedokteran khusus tentara di daerah Utrecht. Saat sedang bekerja di rumah sakit militer di Haarlem pada tahun 1851, beliau menggunakan pembalut gips yang ditemukannya sebagai perban.

Hingga saat itu, ada metode Belgia yang menggunakan bahan pati dan membutuhkan setidaknya satu hari untuk mengering. Beliau memperhatikan para pekerja di gereja seberang jalan sedang memperbaiki retakan. Mereka menggunakan semacam potongan rami dan plester paris. Hal inilah yang menjadi awal mula ditemukannya perban gips untuk retak tulang oleh Antonius Mathysen. Sejarah mencatat bahwa namanya juga dikenal di daerah setempat sebagai ‘paman perban’ atau ‘om gips’.

Di Indonesia, dokter yang menangani kasus bedah ortopedi telah melalui serangkaian pendidikan panjang sebelumnya. Yaitu menjadi sarjana kedokteran umum ataupun dokter bedah umum. Dokter spesialis di bidang ini diberi gelar SpOT (Spesialis Ortopedi dan Traumatologi) ataupun SpBO (Spesialis Bedah Ortopedi).

Ada pula yang dinamakan ortopedi khusus anak, dan telah berkembang pesat sejak zaman Hippocrates. Keadaan musculoskeletal pada anak-anak telah menjadi fokus ortopedi sejak lama. Seperti skoliosis, pertumbuhan panggul yang tidak sempurna (displasia pertumbuhan pinggul) dan masih banyak lagi. Dan berikut adalah beberapa equipment lengkap atau peralatan bedah ortopedi yang biasa digunakan oleh tenaga medis di rumah sakit.

Arthroscope

Dalam dunia medis, dikenal sebuah prosedur dalam pembedahan ortopedi yang dinamakan artroskopi. Prosedur ini bertujuan untuk membuat lubang sebesar lubang kunci untuk memasukkan alat bernama artroskop. Tujuan dilakukannya prosedur ini adalah untuk melihat, menangani, dan mengetahui berbagai gangguan pada sendi yand diteliti. Prosedur artroskopi ini biasa dilakukan bagi pasien yang memiliki keluhan gangguan sendi. Baik  di bahu, di pinggul, di pergelangan tangan dan pergelangan kaki, di siku, maupun di lutut.

Arthroscope atau artroskop merupakan sebuah peralatan bedah ortopedi yang memiliki ujung runcing dan bentuknya seperti selang. Ada pula sebuah lensa mikro dan juga senter yang akan terhubung dengan artroskop yang telah dimasukkan. Fungsinya adalah untuk memperbesar objek yang dapat dilihat.

Ada beberapa keadaan pada pasien yang mengakibatkan harus dilakukannya prosedur artroskopi ini. Misalnya ketika pasien ingin mengeringkan cairan yang berlebih di dalam sendi. Juga ketika ingin mengangkat potongan-potongan tulang keras maupun tulang rawan yang lepas. Prosedur ini juga harus dilakukan apabila terdapat luka pada tulang rawan, tendon dan juga ligamen. Ligamen adalah jaringan ikat yang menghubungkan antara tulang dengan tulang. Sementara itu, tendon adalah jaringan ikat yang menghubungkan antara tulang dengan otot. Prosedur ini juga dilakukan ketika terdapat keluhan jepitan pada jaringan ikat di bahu atau biasa disebut dengan impingement syndrome. Hal ini biasa disebabkan oleh aktivitas berlebih yang melibatkan pergerakan sendi bahu dan juga tulang belikat secara terus-menerus.

Ada beberapa keadaan yang harus diperhatikan sebelum mengikuti prosedur artroskopi ini. Misalnya, prosedur ini tidak disarankan untuk diterapkan pada ibu hamil. Karena mungkin akan mengganggu tumbuh dan kembang janin. Pasien diharapkan untuk aktif dalam memberi tahu tenaga medis bila memiliki alergi tertentu pada obat-obatan. Dan juga beritahu dokter bila ada obat yang sedang anda konsumsi, misalnya obat untuk pengencer darah. Dan prosedur ini harus diterapkan dengan lebih hati-hati pada pasien diatas paruh baya.

Kirschner Wire

Kirschner wire adalah sebuah peralatan bedah dalam dunia ortopedi yang disebut juga sebagai pin bedah. Alat ini berbentuk seperti kawat tipis yang memiliki fungsi menahan fragmen tetap pada tempatnya. Kawat ini biasa digunakan dengan cara dibor melalui tulang pasien. kirschner wire juga dapat dijalin sehingga pergerakan tulang pun semakin terbatas, namun tentunya alat ini akan sulit dilepaskan kembali.

Prosedur pemasangan kirschner wire atau pin tipis ini pun memiliki beberapa resiko ringan yang harus diperhatikan oleh pasien. Yaitu salah satunya adalah dapat menimbulkan infeksi. Lokasi tubuh yang menjadi tempat pemasangan pin, dapat menjadi sumber utama infeksi yang masuk ke tubuh pasien. Oleh karena itu, biasanya pasien dengan pin yang dibiarkan terbuka akan diinstruksikan untuk merawat pin agar terhindar dari infeksi.

Dan kirschner wire ini dapat segera dilepas apabila proses penyembuhan tulang sudah cukup baik. Ketika tulang sudah membaik dan mendekati posisi normal, maka hal ini dapat dilangsungkan.

Goniometer

Peralatan bedah ortopedi yang satu ini mungkin masih terdengar asing bagi masyarakat awam yang tidak berkecimpung di dunia kesehatan. Alat ini memiliki fungsi utama untuk mengukur Lingkup Gerak Sendi (LGS) atau Range Of Motion (ROM). Pemeriksaan untuk mendapatkan data lingkup gerak sendi biasa digunakan untuk mendeteksi pergerakan sendi yang aktif atau pasif. Juga bisa untuk mengetahui ekstensibilitas dan fleksibilitas jaringan lunak, serta panjang otot. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan alat ini biasa didapatkan dalam satuan derajat sudut.

Alat ini sangat penting bagi seorang fisioterapis. Karena sangat membantu dalam mengetahui hasil terapi pada kasus seperti post fraktur dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu, alat ini pun semakin berkembang menjadi lebih baik. Hingga saat ini, telah ditemukan berbagai macam goniometer dengan bentuk yang beragam. Tidak hanya itu, bahan pembuatnya pun bermacam-macam. Namun yang pasti tujuan dan fungsi utama dari alat ini tidak berubah.

Secara umum, bentuk goniometer ini cukup sederhana. Seperti penggaris yang ujungnya berbentuk lingkaran. Di sepanjang goniometer, terdapat banyak angka dalam berbagai satuan ukur yang dapat membantu menangani masalah ortopedi. Alat ini cukup praktis digunakan dan tidak berat. Sehingga dapat memudahkan tenaga medis yang akan menggunakan alat ini.

Ada goniometer yang terbuat dari plastik. Ada pula goniometer yang terbuat dari bahan plastik baseline. Dan yang terakhir adalah goniometer yang terbuat dari bahan logam. Goniometer yang berbahan dasar logam tentu memiliki harga yang relatif lebih mahal bila dibandingkan dengan yang berbahan dasar plastik.

Bone Holding Forceps

Bone holding forceps secara umum digunakan para tenaga medis di bidang ortopedi untuk menstabilkan dan memutar tulang. Peralatan bedah ortopedi ini berbentuk seperti tang dalam dunia medis. Selama operasi ortopedi, alat ini digunakan untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh fraktur (patah tulang). Selain itu, alat ini juga digunakan ketika terdapat posisi tulang pada pasien yang berubah dari posisi aslinya.

Bone holding forceps ini memiliki beberapa bentuk umum yang beragam. Ada yang memiliki rahang sempit dan ada pula yang memiliki rahang lebih lebar. Bone holding forceps dengan rahang sempit biasa digunakan dalam prosedur pembedahan di bagian tangan dan bagian kaki. Hal ini dikarenakan tang jenis ini tidak bisa menangani pembedahan yang melibatkan otot dan jaringan lunak lainnya. Sedangkan bone holding forceps dengan rahang yang lebih lebar bisa digunakan untuk menangani prosedur penempatan piring serta sisipan sekrup. Bahkan tang jenis ini dapat memiliki rahang berulir yang sangat memungkinkan untuk masuk ke bagian retakan tulang dan meletakkan sekrup. Intinya, penggunaan berbagai jenis rahang pada bone holding forceps disesuaikan lagi dengan lokasi dan ukuran tulang yang akan ditangani.

Bone Awls

Peralatan bedah ortopedi yang selanjutnya dinamakan bone awls. Bone awls adalah sebuah alat dalam dunia ortopedi yang berfungsi untuk mengubah posisi tulang agar sejajar dalam prosedur pembedahan. Bila diartikan dari Bahasa Inggris, arti dari bone awls adalah penusuk tulang. Alat yang satu ini berbentuk lurus panjang dan juga tumpul. Tidak hanya itu, bone awls juga berfungsi untuk membuat sebuah lubang pada awal prosedur operasi di bidang ortopedi. Bone awls adalah sebuah alat yang dioperasikan dengan menggunakan tangan. Dan alat ini biasa digunakan untuk membuka saluran femoralis.

Saluran femoralis atau biasa disebut dengan arteri femoralis adalah istilah umum yang digunakan untuk menyebut beberapa arteri besar pada paha. Ujung dari arteri ini berakhir tepat di atas lutut pada kanal adductor atau disebut juga kanal hunter. Dan arteri ini dimulai dari kepala femoralis (ligamentum inguinalis).

Arteri femoralis sendiri ternyata dibagi menjadi tiga klasifikasi umum. Yaitu arteri femoralis yang membagi arteri femoralis dalam (profunda). Selanjutnya adalah arteri femoralis superfisial dan arteri femoralis yang menyediakan darah ke bagian paha. Yang terakhir adalah arteri femoralis yang menyediakan darah yang mengalir ke kaki dan lutut.

Penggunaan dari alat ini harus diperhatikan dengan baik. Pasalnya, bila kurang berhati-hati bone awls dapat tergelincir ke dalam tulang dan merusak jaringan lunak. Tidak hanya bone awls saja, namun setiap peralatan bedah ortopedi harus digunakan dengan keterampilan dan perhatian agar tidak terjadi kesalahan.

Bone cutting forceps

Istilah bone cutting forceps biasa digunakan untuk menyebut alat dalam prosedur pembedahan yang secara sederhana mirip dengan tang pemotong tulang. Tang pemotong tulang ini digunakan hanya pada keadaan tertentu saja. Seperti misalnya ketika terjadi patah tulang hidung pada pasien dengan tulang hidung yang luas dan menebal. Dan peralatan bedah ortopedi ini juga biasa digunakan pada proses osteotomi atau osteotomies.

Osteotomi adalah istilah yang biasa dipakai dengan maksud pemotongan tulang. Ada berbagai macam osteotomi yang cukup dikenal di dunia ortopedi. Misalnya osteotomi pada lutut. Osteotomi lutut berarti pemotongan tulang yang dilaksanakan pada bagian lutut pasien. Prosedur operasi ini biasa dilakukan dengan memotong atau meluruskan salah satu tulang baik femur (tulang paha) maupun tibia (tulang kering). Hal ini dilakukan dengan tujuan meringankan beban dari lutut yang berkendala dan juga memperbaiki keluhan tungkai yang bengkok pada pasien.

Ternyata, hasil dari operasi osteotomi ini juga tidak bisa dipastikan akan mendapatkan hasil yang sempurna. Dan tentunya, hasilnya mungkin tidak akan lebih baik daripada operasi penggantian lutut secara keseluruhan. Para pasien juga tidak bisa membebankan berat tubuhnya pada lutut yang menjalani operasi osteotomi selama hampir tiga bulan. Serta, proses pemulihan lutut yang menjalani prosedur operasi osteotomi terbilang lebih lama daripada operasi penggantian lutut.

Tidak hanya itu, ada pula beberapa indikasi atau juga keadaan yang memungkinkan bagi pasien untuk melakukan prosedur osteotomi ini. Seperti misalnya, para pasien harus dapat meluruskan lututnya hingga 180 derajat serta mampu menekuk lutut minimal 90 derajat. Umur pasien yang aman melakukan operasi ini adalah berkisar antara 40 tahun hingga 60 tahun. Pasien yang menderita penyakit rheumatoid juga bukan termasuk kandidat yang aman dalam melaksanakan prosedur osteotomi ini. rheumatoid atau reumatoid adalah penyakit sistem imun yang mengakibatkan nyeri pada sendi yang berlangsung dalam waktu lama.

Bone file

Bone file dalam dunia medis dikenal sebagai alat yang memiliki fungsi utama untuk menghaluskan permukaan tulang dan gigi yang kasar. Cara kerja dari peralatan bedah ortopedi ini adalah dengan memotong dalam satu arah saja. Diketahui bentuk umum dari alat ini adalah berbentuk lurus dengan ujung berbentuk seperti kikir.

Biasanya, bone file sendiri terbuat dari bahan dasar stainless steel. Yang tentunya tahan karat dan tahan air. Serta ringan dan aman untuk digunakan dalam prosedur operasi ortopedi.  Ada bone file yang memiliki satu ujung dan satu pangkal. Ada juga bone file yang memiliki dua ujung aktif yang dapat digunakan sesuai kebutuhan dari tenaga medis yang menjalankan operasi.

Bone file memiliki peran sebagai pemahat dalam dunia peralatan bedah ortopedi. Alat ini juga dapat menghilangkan spikula kecil pada tulang atau ujung runcing pada area tulang yang sempit. Alat ini juga bisa digunakan untuk mengikis tulang sehingga mendapatkan bentuk yang kita mau. Ataupun dengan tujuan untuk mendapatkan permukaan yang lebih halus dari sebelumnya. Dengan bentuknya yang bergerigi, menjadikan alat ini cocok untuk digunakan dalam praktik kedokteran gigi maupun prosedur pembedahan umum.

Demikianlah beberapa peralatan bedah ortopedi yang dapat diulas dalam artikel kali ini. Jaga kesehatan area musculoskeletal anda agar tetap dalam kondisi baik. Semoga artikel ini dapat membantu para pembaca sekalian.