Instalasi Pengolahan Air Untuk Kesehatan

Definisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) (wastewater treatment plant, WWTP), adalah sebuah struktur. Struktur ini dirancang untuk membuang limbah biologi dan kimiawi dari air. Sehingga ini memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain.

Fungsi Instalasi pengolahan air limbah ini mencakup pengolahan air limbah pertanian, perkotaan dan industri. Maka dari itulah semakin banyak kegiatan dalam sektor tersebut. Ini juga meningkatkan limbah yang dihasilkan oleh masyarakat umum.

Tahun 2020 ini kita di guncang banyak peristiwa, mulai dari banjir hingga COVID-19. Dengan adanya COVID-19 ini beberapa sektor harus berhenti untuk mengikuti protocol pemerintah mengenai #dirumahaja. Hal ini tentu sangat berdampak pada rendahnya limbah yang diproduksi oleh beberapa sektor.

Rendahnya limbah tersebut dapat dilihat dari sungai Vanesia di Italia, Sungai Gangga di India dan Sungai Jeram Tinggi Jementah di Segamat. Semua sungai sangat jernih akibat penurunan aktivitas. Namun siapa sangka kondisi tersebut sangat berbalik arah dengan tingginya aktivitas medis. Tingginya permintaan dan kebutuhan masyarakat akan kesehatan yang terganggu akibat virus. Ini menyebabkan Rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya penuh.

Apa Saja Jenis dan Sumber air limbah yang harus diolah?

Air limbah adalah seluruh air buangan yang berasal dari hasil proses kegiatan sarana pelayanan kesehatan yang meliputi : air limbah domestik (air buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian), air limbah klinis ( air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit, misalnya air bekas cucian luka, cucian darah dll), air limbah laboratorium dan lainnya.

Prosentase terbesar dari air limbah adalah limbah domestik sedangkan sisanya adalah limbah yang terkontaminasi oleh infectious agents kultur mikroorganisme, darah, buangan pasien pengidap penyakit infeksi, dan lain-lain.

Air limbah yang berasal dari buangan domestik maupun buangan limbah cair klinis umumnya mengandung senyawa pencemar organik yang cukup tinggi dan dapat diolah dengan proses pengolahan secara biologis.

Air limbah yang berasal dari laboratorium biasanya banyak mengandung logam berat yang apabila dialirkan ke dalam proses pengolahan secara biologis dapat mengganggu proses pengolahannya., sehingga perlu dilakukan pengolahan awal secara kimia-fisika, selanjutnya air olahannya dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah.

Jenis air limbah yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dikelompokkan sebagai berikut: Air limbah domestic, Air limbah klinis, Air limbah laboratorium klinik dan kimia dan Air limbah radioaktif (tidak boleh masuk ke IPAL, harus mengikuti petunjuk dari BATAN)

Adapun sumber-sumber yang menghasilkan air limbah, antara lain : Unit Pelayanan Medis, yang terdiri dari : rawat inap, rawat jalan, rawat darurat, rawat intensif,  haemodialisa, bedah sentral dan rawat isolasi.

Unit Penunjang Pelayanan Medis yang terdiri dari : laboratorium, radiologi, farmasi, sterilisasi dan kamar Jenasah. Unit Penunjang Pelayanan Non Medis, yang terdiri dari : logistik, cuci (laundry), rekam medis, fasilitas umum : Masjid / Musholla dan kantin, kesekretariatan / administrasi, dapur gizi dan lain lain. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Kenapa Instalasi Pengolahan Air Limbah itu Penting?

Air limbah yang dihasilkan oleh aktivitas dan kegiatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan yang lain merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial karena mengandung senyawa organik yang cukup tinggi, serta senyawa kimia lain yang berbahaya serta mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan.

Hal itu dikarenakan komposisi, alat dan bahan medis yang sangatlah bervariasi. Maka dari itu air limbah tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan maupun masalah kesehatan masyarakat. Terlebih lagi saat ini sangat rentan dengan masalah kesehatan.

Dengan tingginya pasien akibat CIVID-19 ini sangat berdampak dengan tingginya kebutuhan mengenai fasilitas rumah sakit. Mulai dari ruangan, alat medis dan hal – hal lainnya. Maka dari itulah semakin meningkatnya jumlah fasilitas pelayanan kesehatan maka mengakibatkan semakin meningkatnya potensi pencemaran lingkungan, karena kegiatan pembuangan limbah khususnya air limbah akan memberikan konstribusi terhadap penurunan tingkat kesehatan manusia.

Upaya Pengendalian Pencemaran Lingkungan

Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman dan berkelanjutan maka harus dilaksanakan upaya-upaya pengendalian pencemaran lingkungan pada fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan dasar tersebut, maka fasilitas pelayanan kesehatan diwajibkan menyediakan instalasi pengolahan air limbah atau limbah cair.

Akibat potensi dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat sangat besar maka berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/Menkes/SK/X2004 mengenai Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit maka setiap fasilitas pelayanan kesehatan diwajibkan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Sedangkan baku mutu air limbah mengacu pada Keputusan Menteri Negara Hidup No.58 Tahun1995 tanggal 21 Desember 1995 mengenai Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit.

Dalam sektor medis ini terdapat teknologi pengolahan air limbah yang cukup terkenal untuk memfiltrasi limbah yang dihasilkan. Pemilihan teknologi pengolahan air limbah harus mempertimbangkan beberapa hal. Yakni antara lain jumlah air limbah yang akan diolah, kualitas air hasil olahan yang diharapkan, kemudahan dalam hal pengelolaan. Ketersediaan lahan dan sumber energi juga harus dipertimbangkan, serta biaya operasi dan perawatan diupayakan serendah mungkin

Setiap jenis teknologi pengolahan air limbah mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu dalam hal pemilihan jenis teknologi tersebut perlu diperhatikan aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek lingkungan, serta sumber daya manusia yang akan mengelola fasilitas tersebut. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Proses Biologis dalam Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit

Teknologi digunakan untuk mengolah limbah yang khusus. Polutan tersebut

Dalam proses pengolahan air limbah terkhusus yang mengandung polutan senyawa organik, teknologi yang digunakan sebagian besar menggunakan aktifitas mikro-organisme untuk menguraikan senyawa polutan organik tersebut. Proses pengolahan air limbah dengan aktifitas mikro-organisme biasa disebut dengan “Proses Biologis”.

Proses pengolahan air limbah secara biologis tersebut dapat dilakukan pada kondisi aerobik (dengan udara). Ini juga bisa dilakukan di kondisi anaerobik (tanpa udara) atau kombinasi anaerobik dan aerobik. Proses biologis aeorobik biasanya digunakan untuk pengolahan air limbah. Ini digunakan dengan beban BOD yang tidak terlalu besar. Sedangkan proses biologis anaerobik digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang sangat tinggi.

Pengolahan air limbah secara bilogis secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga. Yakni proses biologis dengan biakan tersuspensi (suspended culture), proses biologis dengan biakan melekat (attached culture) dan proses pengolahan dengan sistem lagoon atau kolam.

Proses biologis dengan biakan tersuspensi adalah sistem pengolahan dengan menggunakan aktifitas mikro-organisme. Ini digunakan untuk menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air. Setelah itu, mikro-organime yang digunakan dibiakkan secara tersuspesi di dalam suatu reaktor.

Beberapa contoh proses pengolahan dengan sistem ini antara lain : proses lumpur aktif standar atau konvesional (standard activated sludge). Ada juga step aeration, contact stabilization, extended aeration, oxidation ditch (kolam oksidasi sistem parit) dan lainya. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Biofilter Tercelup ada Berapa Jenis?

Proses pengolahan air limbah dengan proses biofilter tercelup ini terdiri dari dua proses. Pertama ialah Proses Biofilter. Kedua adalah proses biofilter aenorob. Berikut adalah penjelasannya.

Proses Biofilter

Proses pengolahan air limbah dengan proses biofilm atau biofilter. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam reaktor biologis. Di dalamnya diisi dengan media penyangga untuk pengebangbiakan mikroorganisme dengan atau tanpa aerasi. Untuk proses anaerobik dilakukan tanpa pemberian udara atau oksigen. Posisi media biofilter tercelup di bawah permukaan air.

Mekanisme proses metabolisme di dalam sistem biofilm secara aerobik. Secara sederhana, proses ini akan menunjukkan suatu sistem biofilm yang yang terdiri dari medium penyangga. Selain itu, ada juga lapisan biofilm yang melekat pada medium dan lapisan alir limbah dan lapisan udara yang terletak diluar.

Senyawa polutan yang ada di dalam air limbah, misalnya senyawa organik. Ini bisa berupa (BOD, COD), amonia, fosfor dan lainnya akan terdifusi ke dalam lapisan film biologis. Lapisan tersebut pun akan melekat pada permukaan medium.

Pada saat yang bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut di dalam air limbah. Senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di dalam lapisan biofilm. Dan energi yang dihasilkan akan diubah menjadi biomasa.

Suplai oksigen pada lapisan biofilm dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya pada sistem RBC. Ini adalah dengan cara kontak dengan udara luar pada sistem “Trickling Filter” dengan aliran balik udara. Sedangkan pada sistem biofilter tercelup, dengan menggunakan blower udara atau pompa sirkulasi. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Proses Biofilter Anaerob

Secara garis besar penguraian senyawa organik secara anaerob dapat di bagi menjadi dua. Kedua itu adalah penguraian satu tahap dan penguraian dua tahap. Penguraian satu tahap dalam penguraian anaerobik membutuhkan tangki fermentasi yang besar. Selain itu juga harus memiliki pencampur mekanik yang besar, pemanasan, pengumpul gas, penambahan lumpur, dan keluaran supernatan (Metcalf dan Eddy, 1991).

Penguraian lumpur dan pengendapan terjadi secara simultan dalam tangki. Stratifikasi lumpur dan membentuk lapisan berikut dari bawah ke atas: lumpur hasil penguraian, lumpur pengurai aktif, lapisan supernatan (jernih), lapisan buih (skum), dan ruang gas.

Dalam penguraian dua tahap proses ini membutuhkan dua tangki pengurai (reaktor). Satu tangki berfungsi mencampur secara terus-menerus dan pemanasan untuk stabilisasi lumpur. Sedangkan tangki yang satu lagi untuk pemekatan dan penyimpanan sebelum dibuang ke pembuangan.

 Proses ini dapat menguraikan senyawa organik dalam jumlah yang lebih besar dan lebih cepat. Secara sederhana proses penguraian anaerob dua tahap dapat ditunjukkan seperti pada Gambar 2.5. Terdapat Proses Mikrobiologi Dalam Penguraian Anaerob.

Kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri, terlibat dalam transformasi senyawa komplek organik menjadi metan. Lebih jauh lagi, terdapat interaksi sinergis antara bermacam- macam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah. Keseluruhan reaksi dapat digambarkan sebagai berikut (Polprasert, 1989) :

senyawaOrganik → CH4+CO2+H2+NH3+H2S

Meskipun beberapa jamur (fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam penguraian anaerobik. Bakteri bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik.

Sejumlah besar bakteri anaerobik dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium, Lactobacillus, Streptococcus) terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organik. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Sumber: http://toyaartasejahtera.net/