Perjalanan Proyek Satelit Satria Yang Akan Meluncur Di Tahun 2023

Siapa yang tak kenal dengan berita teknologi terbaru yaitu proyek satelit SATRIA dari Indonesia? Sebagai warga negara Indonesia, tentu saja kamu akan bangga karena Indonesia kembali meluncurkan satelit yang dikenal dengan nama SATRIA. Sebenarnya proyek ini sudah terlambat meluncur karena banyak hal.

Misalnya pernah mengalami finansial closing pengadaan dan juga peluncuran yang harusnya selesai tahun 2019 harus mundur lagi. Pasalnya perakitan yang akan dilakukan Desember 2019 lalu sempat terhenti karena efek Covid 19.

Kelanjutan Proyek Satelit Satria

Sebenarnya proyek ini terhenti merupakan hal yang sangat wajar, khususnya di era pandemi seperti sekarang. Maklum saja karena sebaran virusnya bukan di Indonesia saja melainkan hampir seluruh dunia juga mengalami masalah yang sama.

Akhirnya, penyelesaian proyek ditunda karena terganggu pada supply chain, melambatnya fasilitas pabrikasi hingga terbatasnya tenaga kerja satelit dari Maret 2020 lalu. Namun jangan khawatir karena proyek satelit SATRIA Indonesia ini tetap berlanjut.

Dengan penandatanganan Preparatory Work Agreement (PWA) Proyek Satelit Multifungsi Republik Indonesia (SATRIA) beberapa hari yang lalu, ini menandakan jika proyek satelit ini tetap akan bergulir kembali.

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Bagaimana?

Bergulirnya proyek satelit Indonesia kembali bukan hanya isapan jembol. Pasalnya Johnny G Plate selaku Menteri Komunikasi dan Informatika menyebutkan jika ia sangat optimis dengan tahapan PWA yang akan dilakukan di Indonesia.

Dengan tahapan ini diharapkan ekonomi di Indonesia bisa terdorong maju, khususnya setelah melewati era pandemi seperti sekarang. Tahapan PWA proyek satelit SATRIA Indonesia ini juga menandai adanya kesepakatan antara konsorsium TAS dan PSN untuk memulai pekerjaan manufacturing proyek.

Diantaranya adalah PT Satelit Nusantara Tiga (SNT) selaku bagian dari konsorsium Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dengan tambahan perancang serta pabrikan asal Perancis Thales Alenia Space (TAS).

Tahapan Pokok Di PWA

Dalam penandatangan tersebut ada dua tahapan pokok dari PWA. Pertama adalah melakukan tinjauan kebutuhan muatan sistem satelit yang menjadi penyesuaian desain satelit dengan permintaan para pengguna.

Kedua adalah melakukan tinjauan status kualifikasi komponen yang menjadi tinjauan kualifikasi komponen yang telah dipersyaratkan. Adanya Preparatory Work Agreement ini sekaligus untuk memastikan agar pembuatan proyek satelit SATRIA bisa dilaksanakan tepat waktu.

Selain itu, penandatanganan juga menjadi tanda jika perjanjian pembiayaan akan segera dimulai. Ini dijelaskan oleh Menteri Kominfo. Perlu diketahui jika selama pandemi, sektor komunikasi dan informasi meningkat cukup tajam hingga 10,88 persen.

Johnny menambahkan jika sektor ini menjadi satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan positif sampai 10 persen sektor lain. Tambahnya, dengan adanya investasi proyek satelit SATRIA ini diharapkan bisa menjadi awal investasi bernilai besar di kemudian hari.

Kenapa Indonesia Harus Punya Satelit SATRIA

Kenapa Indonesia harus memiliki satelit seperti SATRIA? Kita tahu jika Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sampai 17 ribu. Tentu akan sangat sulit menghubungkan antar pulau jika tidak ada satelit ini.

Inilah alasan kenapa Pemerintah cukup ngoyo agar Indonesia memiliki satelit sendiri. Tak tanggung-tanggung, satelit yang rencananya akan diluncurkan di tahun 2023 ini adalah satelit yang sudah berteknologi High Throughput Satellite (HTS) yang kapasitasnya sudah mencapai 150 Gbps.

Indonesia sendiri memiliki kebutuhan yang sangat besar. Hingga tahun 2030, kapasitas satelit Indonesia yang diperlukan mencapai 0,9 Tbps atau 900 Gbps. Indonesia juga masih memperlukan pembangunan ground segment untuk perlengkapan pembangunan space segment.

Satelit-Satelit Yang Sudah Ada Di Indonesia

Sebelum proyek satelit SATRIA Indonesia 2023 diluncurkan, saat ini indonesia sudah memanfaatkan lima satelit nasional yang kapasitasnya sudah mencapai 30 Gbps. Selain itu ada juga tambahan 4 satelit asing yang mempunyai kapasitas 20 Gbps.

Kominfo menjelaskan jika proyek satelit ini nanti bisa menghadirkan wifi gratis di 150 ribu titik layanan di seluruh Indonesia. Di mana setiap titik tersebut ada kapasitas internet sebesar 1 Mbps. Cukuplah untuk kemajuan generasi muda berikutnya.

Ratusan ribu titik tersebut sudah dibagi menjadi beberapa bagian. Diantaranya 93.900 titik sekolah dan pesantren. Selain itu ada juga 47.900 titik kantor desa, pemerintahan daerah dan keluharan. Ada juga 3700 titik fasilitas kesehatan dan juga 4500 titik layanan publik lainnya.

Siapa Pengurus Proyek Satelit SATRIA

Perlu diketahui jika proyek ini dikerjakan oleh kerjasama antara Badan Usaha atau KPBU. Di sini Kementrian Kominfo menjadi Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK). Pabrikan proyek ini menggunakan Thales Alenia Space yang berpusat di Perancis seperti yang sudah disebutkan.

Peluncurannya menggunakan roket Falcon 9-5500 yang dibuat oleh Space X, perusahaan telekomunikasi asal Amerika Serikat. Untuk pendanaan, Johnny menyebutkan jika proyek ini didukung dengan equlity portion.

Capital expenditure untuk space segment proyek satelit SATRIA sendiri nilainya mencapai 550 juta dollar. Dari nilai tersebut, 20% akan didanai dengan equity oleh satelit project sponsor. Sisanya didanai oleh sindikasi pembiayaan internasional.

Bandar Judi Online Diringkus Polisi

Bandar judi online beserta dua rekannya ditangkap oleh Polsek Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Ketiga pelaku tersebut ditangkap beserta sejumlah barang bukti. 

Ketiga pelaku berinisial SS (52) yang diduga sebagai bandar, FM (23) serta IM (20) yang diduga membantu SS dalam aksinya. 

Berdasarkan penuturan dari Kapolsek Kota Masohi, Ipda Kasim Rahayamtel, ketiga pelaku tersebut telah diamankan sejak akhir Agustus 2020. Setelah proses penyelidikan lebih lanjut, ketiga pelaku ditetapkan sebagai tersangka. 

Pihak kepolisian mengaku bahwa mendapatkan informasi ketiga pelaku dari laporan masyarakat. Masyarakat mengaku bahwa pelaku melakukan aksi penjualan togel secara online yang dilakukan di rumah. Tepatnya di belakang Terminal Kota Masohi. 

agen-slot
ilustrasi

Setelah mendapatkan informasi tersebut, pihak polisi mulai menaruh perhatian pada SS serta rumah yang dilaporkan tersebut. Setelah cukup waktu, polisi langsung mendatangi rumah pelaku yang diduga digunakan untuk melakukan proses penjualan togel online. 

Dari penuturan SS serta kedua rekannya yaitu FM dan IM, mereka mengaku melakukan penjualan togel online murni untuk mencari keuntungan pribadi. Tidak ada masuk ke dalam jaringan judi online manapun. Selain SS, kedua rekan tersebut ditangkap di rumah pada saat sedang melakukan perekapan judi online. 

Dari penangkapan tersebut, terdapat beberapa barang bukti yang diamankan oleh pihak polisi. Barang tersebut adalah arsip kupon rekapan judi online sebanyak 57 buku, uang tunai senilai Rp 14 juta, serta empat unit telepon genggam. Tidak hanya itu, juga terdapat satu botol tinta cap warna merah dan cap warna hitam dengan kode SDY GAME T/R dengan lambang burung kakatua. 

“Ada beberapa barang bukti yang kami amankan dan akan digunakan untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” tutur Kapolsek. 

Berita ini telah ditayangkan di media online JPPN.com dengan judul “Pelaku Judi Online Diringkus Polisi, SS Sebagai Bandar”.

Baca juga: Ini Alasan Memilih San Diego Hills Untuk Pemakaman Keluarga Terbaik

Bandar Judi Bola Darat Di Solo Ini Akhirnya Pilih Pensiun

Dominasi judi bola darat dan offline di Kota Solo menghilangkan perkembangan teknologi yang telah membawa dunia perjudian ke ranah digital dan online.

Solopos.com berkesempatan bertemu dengan seorang dealer sepak bola yang memutuskan mundur karena dominasi judi online dan hilangnya judi. Johnny adalah seorang imigran dari Solo yang dikenal sebagai Bandar.

togel online

Ia mengatakan, Solo saat ini bukanlah pasar yang menarik untuk judi bola offline dan darat. Dia berbicara tentang aktivitas bisnis Perjudian Daratnya yang dimulai pada tahun 2016. Johny adalah seorang mahasiswa di Solo City College ketika dia memulai bisnis perjudian. Namun, bisnis tersebut hanya bertahan setahun.

“Tanah judi bola sangat redup, tapi judi bola masih sangat subur di luar kota,” jelasnya, Kamis (9/3/2020).

Johnny mengatakan, merosotnya perjudian sepak bola tanah di wilayah Solo disebabkan sejumlah alasan. Namun, hal ini terutama terjadi pada kepemilikan ponsel dalam skala besar.

Saat ini setiap warga Kota Solo memiliki smartphone serta dapat mengakses judi bola online. Selain itu, meskipun situs judi online yang sering muncul di berbagai iklan online dikunci, ada jutaan cara untuk mengakses situs yang terkunci tersebut.

Banyak situs judi bola populer dan perjudian di pertandingan sepak bola internasional sering bermunculan. Secara umum terkadang ada iklan situs, ”jelasnya.

Di sisi lain, judi bola online juga tidak ribet menurut Johnny. Penjudi diharuskan untuk menautkan akun perjudian mereka dengan nomor akun mereka. 

Perbedaannya, penjudi online perlu memiliki modal karena harus menambah saldo agar bisa berjudi. Di saat yang sama, judi bola darat bisa dipertahankan meski tanpa modal atau biasa disebut Udu Abab.

Jauh sebelum beralih ke solo dan menjadi penjudi bola, Jhonny yang berasal dari daerah terpencil ini sudah akrab dengan dunia judi sejak kecil. Pemain berusia 26 tahun telah melihat orang berjudi sejak dia masih muda.

Alhasil, Johnny kerap menjadi penjudi saat duduk di bangku SMP dan SMA. Ia mengatakan berjudi sangat mudah di kelas pelajar. 

Dia memainkan peran sebagai bandar taruhan yang menggunakan jumlah koin ess, jumlah sedotan di lorong untuk membuat jumlah keramik paling tidak rasional di lorong sekolah.

Setiap kali dia berjudi, dia selalu menjadi dealer, jarang memainkan installer. Hingga akhirnya, saat kuliah, ia memutuskan untuk membuka lapangan sepakbola.

Artikel ini telah tayang di JPNN.com

Oknum Aparatur Desa Tersangka Pemain Judi Capsa Susun

Aparatur desa harusnya mampu memberikan pelayanan yang baik kepada warganya. Mereka harus bisa menjadi contoh panutan karean merupakan bagian dari aparatur negara. Lalu, bagaimana jika mereka justru terlibat dalam permainan judi jenis capsa susun?

Tentu saja hal ini membuat warga menjadi resah karena perbuatan yang dilakukan oleh beberapa oknum ini. Oknum yang terlibat di dalam kasus judi capsa susun ini adalah aparatur Desa Tanjung Pasir, Tangerang.

Wah, kok bisa ya mereka malah asyik bermain judi yang jelas-jelas dilarang oleh pemerintah.

Kronologis Kejadian Penangkapan

capsa online
source: merdeka.com

Pihak kepolisian yang berasal dari Polres Metro Tangerang Kota berhasilm menyergap enam orang yang sedang saat itu tengah bermain judi. Mereka sedang asik bermain judi capsa susun di salah satu rumah yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangeŕang.

Tersangka yang saat itu ditangkap tidak berhasil melarikan diri karena polisi sudah mengepung tempat tersebut. Keenam tersangka ini langsung diamankan oleh pihak kepolisian. Setelah dilakukan investigasi, ternyata tiga dari enam pelaku ini merupakan aparatur Desa Tanjung Pasir, Kec Teluknaga, Tangerang.

Kanit Resmob Polres Metro Tangerang Kota, Iptu Prapto Lasono mengonfirmasi bahwa keenam pelaku ini memang terlibat dalam permainan judi capsa susun dan tiga diantaranya adalah aparatur desa.

Baca juga: Pemain Judi Togel Jenis Hongkong di Kotamobagu Ditangkap Polisi

Setelah adanya insiden ini, pihak kepolisian segera memberitahu Kepala Desa Tanjung Pasir, Arun. Ia merasa terkejut setelah ada pegawainya yang ternyata terlibat dalam permainan judi capsa susun ini. Ia sangat menyayangkan tindakan ini.

Muncul adanya pembelaan bahwa judi yang mereka lakukan hanya sebagai hiburan tanpa adanya uang taruhan. Sementara itu, untuk melihat kebenarannya, pihak kepolisian masih mendalami kasus ini lebih jauh agar mengetahui apakah benar hanya permainan biasa atau merupakan judi dengan taruhan.

Pihak kepolisian kemudian menghimbau kepada warganya untuk menjauhi perbuatan judi dan juga meminta untuk saling bekerja sama melaporkan siapa saja yang bermain judi. Dengan adanya kerja sama dan sinkronisasi yang tepat antara warga dan pihak kepolisian untuk memberantas judi, tentu akan membuat lingkungan menjadi lebih aman dan tentram.

Sumber: lensametro.com

Main Judi Online di Tengah Covid-19, Tiga Pemuda Diringkus Polisi

Pihak kepolisian berhasil meringkus tiga pelaku JS (38), BU (28) warga Kecamatan Singaparna dan AS (34) warga Kecamatan Sodonghilir, Kabupaten Tasikmalaya. Mereka diamankan oleh polisi karena sedang asyik bermain judi poker online di salah satu warung internet (warnet) di Kecamatan Singaparna.

Ketiganya berhasil ditangkap ketika pihak kepolisian sedang mengadakan razia di tempat umum terkait covid-19. Saat itu, pihak kepolisian sedang memberikan imbauan ke warnet untuk tidak berkerumun di tengah penyebaran wabah Covid-19 di wilayah Singaparna. 

Ketika menyisir bilik warnet, mereka kedapatan sedang bermain judi online. Cara pelaku bermain judi, terang Hendria, dengan melakukan transaksi terlebih dahulu di ATM salah satu bank. Setelah deposit baru mereka bermain secara online di warnet. 

situs judi online
ilustrasi

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Siswo De Cuellar Tarigan menjelaskan bahwa modus pelaku bermain judi semata-mata untuk mendapatkan keuntungan dan sebagai mata pencaharian. 

Akibat perbuatannya ini, mereka dijerat pasal 303 ayat 1 ke 3e KUHPidana tentang barang siapa turun bermain judi sebagai pencaharian dihukum penjara selama-lamanya 10 tahun. Barang bukti yang diamankan adalah dua ATM dan dua set PC komputer. Para pelaku rata-rata bermain judi dengan modal uang ratusan ribu. Dengan taruhan pada bandar judi online.

Sumber: www.ayotasik.com

Judi Online Dalam Sepak Bola Bisa Dijerat TPPU Ungkap Polri

Polri membuka kemungkinan penerapan Pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) kepada pelaku judi online dalam pertandingan sepak bola. 

“Iya kita bisa ke TPPU, nanti kita selidiki undang-undang lainnya,” kata Brigjen (Pol) Hendro Pandowo dari Satgas Anti Mafia Sepak Bola, Kamis (20 Februari 2020) di Hotel Century Park, Jakarta Pusat. 

Saat ini, kata Hendro, Satgas masih menyelidiki kemungkinan adanya perjudian online dalam pertandingan sepak bola. 

Satgas sedang menyelidiki kemungkinan penjudi online dari Indonesia dan luar negeri, yang mempengaruhi rating. 

“Ada kemungkinan bandar akan menentukan skor, apakah dari luar negeri seperti Singapura, Vietnam atau Indonesia, tentu akan kita selidiki,” ucapnya. 

Namun, sejauh ini pihaknya mengaku belum menemukan bukti adanya perjudian online.

Baca juga: 8 Alat Safety yang Wajib ada Di Laboratorium

daftar maxxqq

Untuk Satgas Bola Antimafia Jilid III itu, Hendro mengatakan, pihaknya akan fokus pada pengawasan dan pengawasan. 

Hendro mengatakan pengawasan secara teknis bisa dilakukan di lokasi. Entah ada skor, misalnya pemain tiba-tiba terjatuh sendiri, tidak ada lawan yang tiba-tiba terjatuh atau wasit menunjuk titik putih, tidak ada cedera yang masuk dalam pantauan kami, ”tandasnya.

Pemantauan juga bisa dilakukan dari service center atau call center, dari media informasi atau dari video match. 

Namun, Hendro mengatakan Satgas juga memiliki pengalaman memata-matai indikasi pengaturan pertandingan sebelumnya. Karena itu, pihaknya juga akan melakukan upaya penegakan hukum.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com

Judi Togel di Banyumas Merajalela, Ormas Islam Lapor Kapolda

Banyumas telah mengganggu warga Perjudian Toto (Togel) ilegal di Banyumas dan telah mengganggu banyak organisasi masyarakat Islam (Ormas) dan mendorong polisi Banyumas untuk menghilangkan dan menutupnya.

“Kami sedang berkoordinasi dengan organisasi masyarakat lain untuk bersama-sama menyangkal adanya perjudian toggle di yurisdiksi kepolisian Banumas,” kata Ketua Pemuda Banyumas Mohammed Noor Fauzi kepada KRJogja.com, Sabtu (18/1/2020).

pkv

Selain itu, Pemuda Banyumas Mohammedia berencana untuk mendukung Kapolsek Banyumas agar berani menutup dan melepas saklar dari wilayah hukum Banyumas. Kami akan mengirim surat ke Polda Jawa Tengah dan Polri untuk melaporkan maraknya perjudian togel  di Banyumas, ”tambah Noor Fauzi.

Mengenai KRJogja.com, ada dua bandar judi togel  yang beredar di Banyumas. Toggle white kupon untuk Kuda Larry dan Hong Kong (HK)

Dalam judi togel tersebut, Marno, 35, warga Kecamatan Zumbang, mengaku yang membeli nomor pada pukul 11.00 sedang membeli kupon undian.

Untuk kupon dengan nomor seribu, seribu, jika Anda menekan tepat Jika, Anda mendapatkan Rp. 60 ribu tiga digit akan mendapat Rp 120.000 dan kelipatannya.

Banyak tokoh masyarakat telah menyatakan keprihatinannya bahwa jika perjudian togel  dibiarkan berlanjut, perjudian togel  akan meluas, membuat upaya untuk memberantasnya semakin sulit. Ini karena segala bentuk perjudian melanggar hukum.

Sumber: krjogja.com

Don’t just blame YouTube’s algorithms for ‘radicalisation’. Humans also play a part

YouTube uses a wide range of tools to keep viewers watching. Shutterstock

Ariadna Matamoros-Fernández, Queensland University of Technology and Joanne Gray, Queensland University of Technology

This is the second article in a series looking at the attention economy and how online content gets in front of your eyeballs. Read part 1 here.


People watch more than a billion hours of video on YouTube every day. Over the past few years, the video sharing platform has come under fire for its role in spreading and amplifying extreme views.

YouTube’s video recommendation system, in particular, has been criticised for radicalising young people and steering viewers down rabbit holes of disturbing content.

The company claims it is trying to avoid amplifying problematic content. But research from YouTube’s parent company, Google, indicates this is far from straightforward, given the commercial pressure to keep users engaged via ever more stimulating content.

But how do YouTube’s recommendation algorithms actually work? And how much are they really to blame for the problems of radicalisation?

The fetishisation of algorithms

Almost everything we see online is heavily curated. Algorithms decide what to show us in Google’s search results, Apple News, Twitter trends, Netflix recommendations, Facebook’s newsfeed, and even pre-sorted or spam-filtered emails. And that’s before you get to advertising.

More often than not, these systems decide what to show us based on their idea of what we are like. They also use information such as what our friends are doing and what content is newest, as well as built-in randomness. All this makes it hard to reverse-engineer algorithmic outcomes to see how they came about.

Algorithms take all the relevant data they have and process it to achieve a goal – often one that involves influencing users’ behaviour, such as selling us products or keeping us engaged with an app or website.

At YouTube, the “up next” feature is the one that receives most attention, but other algorithms are just as important, including search result rankings, homepage video recommendations, and trending video lists.


How YouTube recommends content

The main goal of the YouTube recommendation system is to keep us watching. And the system works: it is responsible for more than 70% of the time users spend watching videos.

When a user watches a video on YouTube, the “up next” sidebar shows videos that are related but usually longer and more popular. These videos are ranked according to the user’s history and context, and newer videos are generally preferenced.

This is where we run into trouble. If more watching time is the central objective, the recommendation algorithm will tend to favour videos that are new, engaging and provocative.

Yet algorithms are just pieces of the vast and complex sociotechnical system that is YouTube, and there is so far little empirical evidence on their role in processes of radicalisation.

In fact, recent research suggests that instead of thinking about algorithms alone, we should look at how they interact with community behaviour to determine what users see.

The importance of communities on YouTube

YouTube is a quasi-public space containing all kinds of videos: from musical clips, TV shows and films, to vernacular genres such as “how to” tutorials, parodies, and compilations. User communities that create their own videos and use the site as a social network have played an important role on YouTube since its beginning.

Today, these communities exist alongside commercial creators who use the platform to build personal brands. Some of these are far-right figures who have found in YouTube a home to push their agendas.

It is unlikely that algorithms alone are to blame for the radicalisation of a previously “moderate audience” on YouTube. Instead, research suggests these radicalised audiences existed all along.


Content creators are not passive participants in the algorithmic systems. They understand how the algorithms work and are constantly improving their tactics to get their videos recommended.

Right-wing content creators also know YouTube’s policies well. Their videos are often “borderline” content: they can be interpreted in different ways by different viewers.

YouTube’s community guidelines restrict blatantly harmful content such as hate speech and violence. But it’s much harder to police content in the grey areas between jokes and bullying, religious doctrine and hate speech, or sarcasm and a call to arms.

Moving forward: a cultural shift

There is no magical technical solution to political radicalisation. YouTube is working to minimise the spread of borderline problematic content (for example, conspiracy theories) by reducing their recommendations of videos that can potentially misinform users.

However, YouTube is a company and it’s out to make a profit. It will always prioritise its commercial interests. We should be wary of relying on technological fixes by private companies to solve society’s problems. Plus, quick responses to “fix” these issues might also introduce harms to politically edgy (activists) and minority (such as sexuality-related or LGBTQ) communities.

When we try to understand YouTube, we should take into account the different factors involved in algorithmic outcomes. This includes systematic, long-term analysis of what algorithms do, but also how they combine with YouTube’s prominent subcultures, their role in political polarisation, and their tactics for managing visibility on the platform.

Before YouTube can implement adequate measures to minimise the spread of harmful content, it must first understand what cultural norms are thriving on their site – and being amplified by their algorithms.


The authors would like to acknowledge that the ideas presented in this article are the result of ongoing collaborative research on YouTube with researchers Jean Burgess, Nicolas Suzor, Bernhard Rieder, and Oscar Coromina.

Ariadna Matamoros-Fernández, Lecturer in Digital Media at the School of Communication, Queensland University of Technology and Joanne Gray, Lecturer in Creative Industries, Queensland University of Technology

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.

Bandar Judi Togel Hongkong di Jawa Barat Dibekuk Polisi


Pamor permainan togel memang belum bisa dihentikan oleh pemerintah Indonesia. Tentunya semua kegiatan yang berbau judi atau taruhan selalu menjadi larangan utama di negara ini. Karena ini dianggap sebagai salah satu kegiatan yang haram dan merugikan. Maka dari itu, tak salah jika ada ketentuan hukum yang sudah diberlakukan bagi semua orang. Yakni bagi semua orang di Indonesia akan sangat dilarang untuk melakukan praktek perjudian. Apapun jenis permainan yang dimainkan dan sistem yang diterapkan. Jelas ini menjadi salah satu kegiatan yang sudah menjadi larangan utama bagi semua orang di Indonesia.

slot online


Namun, ketentuan hukum yang diberlakukan pemerintah Indonesia. Yakni berupa larangan untuk berkecimpung dalam dunia perjudian. Ini kerap diremehkan oleh kebanyakan orang. Buktinya masih saja ada banyak orang yang tetap bermain permainan togel. Hal ini menjadi salah satu bentuk bukti jika saja ketentuan hukum yang diberlakukan pemerintah Indonesia selalu diremehkan oleh banyak orang. Dan secara otomatis ini akan membuat pemerintah akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengamankan semua pelaku praktek perjudian. Entah pemain ataupun bandar akan sama-sama diamankan oleh pihak berwajib.
Alasan kuat yang membuat pamor permainan judi togel semakin meningkat sampai saat ini. Sudah jelas karena lemahnya kondisi perekonomian kebanyakan orang di Indonesia. Ini memaksa banyak orang tidak mau berpikir keras untuk melakukan bisnis halal yang menguntungkan. Kebanyakan orang lebih memilih untuk melakukan bisnis yang melanggar ketentuan hukum di Indonesia. Seperti salah satunya dengan bermain permainan judi togel. Bahkan tidak sedikit orang Indonesia yang memastikan diri untuk menjadi bandar judi togel.
Memang dengan melakukan praktek perjudian seperti ini semua orang akan bisa dengan mudah menerima keuntungan menjanjikan. Dimana untuk siapa saja yang menjadi pemain akan bisa menerima omzet mencapai ratusan ribu dalam setiap harinya. Sedangkan untuk yang menjadi bandar bisa menerima omzet mencapai puluhan juta dalam setiap harinya. Hal ini yang membuat banyak orang Indonesia tetap memastikan diri terjun dalam dunia perjudian togel.
Dan salah satu bukti jika dunia perjudian khususnya togel masih tetap eksis di Indonesia adalah adanya penangkapan seorang bandar di Jawa Barat. Seorang bandar judi togel hongkong bernama Ramli Yusuf alias Ending (55), dibekuk polisi di rumahnya. Tepatnya di Kampung Benda RT 3/4, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatirasa, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ending diamankan oleh polisi pada hari Selasa (6/8/2019) malam. Pelaku diamankan setelah pihak berwajib menerima laporan dari masyarakat sekitar. Jika ada praktek perjudian togel hongkong yang cukup meresahkan.
Kasubbag Humas Polres Metropolitan Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswaning Andari menjelaskan warga cukup resah dengan apa yang dilakukan Ramli karena menyebarkan penyakit masyarakat.
“Masyarakat resah dan langsung melakukan aktivitas pelaku, petugas yang ada di lapangan langsung menindaklanjuti dan melakukan penangkapan,” ungkap Erna Ruwaning, Rabu (7/8/2019).
Dari penjelasan warga Ending kerap menawarkan kupon kepada warga sekitar khususnya para pemuda.
“Saat diamankan pelaku sedang merekap nomor togel ke dalam sebuah buku. Pelaku sempat mengelak bahwa rekapan itu adalah bukan judi togel,” kata dia.
Dari penggrebekkan ini polisi langsung mengamankan pelaku. Dengan juga mengamankan beberapa barang bukti seperti buku tulis bertuliskan tiara maxi, sebuah pulsa merk standart warna hitam dan empat lembar potongan kertas kecil bertuliskan nomor pemasangan togel. Bahkan polisi juga mengamankan uang tunai sebesar Rp.309.000.
Tentu saja kita jika memang sedang dalam kesulitan ekonomi di era seperti sekarang ini. Jangan sekali-kali melakukan bisnis haram yang sudah menjadi larangan di negara Indonesia. Salah satunya memastikan diri untuk terjun dalam dunia perjudian. Seperti menjadi bandar judi togel pasaran hongkong yang dilakukan Ramli Yusuf di Jawa Barat. Ini menjadi salah satu bisnis yang haram dan merugikan bagi banyak orang. Memang nanti kita bisa menerima keuntungan besar secara mudah selama menjadi bandar judi togel hongkong. Namun, risiko yang bakal diterima adalah diamankan oleh pihak berwajib. Kemudian, kita harus rela masuk di dalam jeruji penjara.

11 Warga Atambua Ditangkap Gara-gara Judi Bola Guling

11 warga Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum lama ini ditangkap oleh Polres setempat setelah tertangkap basah sedang bermain judi bola guling.

Kapolsek Belu AKBP Yandri Irsan mengatakan 11 orang yang ditangkap adalah YTB (pemilik rumah), IA (Bandar), YYB (Bandar) dan GN (penjaga layar). Selain itu juga ada 7 orang pemain yaitu MMB, VG.  IB, HL, IL, YL dan DB.

Judi Bola

Penangkapan itu terjadi di rumah salah seorang yang berhasil ditangkap yaitu YTB di Jalan Fetor Lidak, Pasar Baru, Atambua.

Selain penangkapan 11 pelaku ini, petugas juga mengamankan barang bukti berupa uang tunai Rp. 79.117.000. 

Selain uang, juga diamankan pula berbagai barang bukti satu meja, satu layar, lima buah bola, satu alat water pass, tiga buah meja ganjalan dan dua buah tas.

Pengungkapan kasus itu dilakukan setelah melalui investigasi.

Kepada Kompas.com, Yandri menegaskan bahwa penangkapan ini karena informasi dari masyarakat (Rabu, 29 Maret 2017).

“Berawal  dari informasi dari masyarakat yang melaporkan tentang maraknya kegiatan perjudian ini.” kata Yandri. 

Baca juga: Jenis Pagar Panel Untuk Kebutuhan Kontruksi

Berdasarkan informasi tersebut, lanjut Yandri, pihaknya kemudian menyergap dan berhasil mengamankan dan menangkap 11 pelaku tersebut. Mereka diamankan dari lantai dua rumah tersebut.

Menurutnya, pada awalnya petugas mengalami kesulitan karena mereka bermain di lantai dua. 

“mereka pintar, mereka bermain di lantai dua sehingga butuh usaha khusus bagi kami untuk menyergap dan menggerebek mereka,” jelasnya

Setelah ditangkap, 11 pemain tersebut dibawa ke Mabes Polri Belu untuk pemeriksaan lebih lanjut lagi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com.