Tempat Bersejarah di Maluku yang Simpan Banyak Cerita

Maluku dalam catatan sejarah Bangsa Indonesia bukanlah hal yang sepele. Daerah ini merupakan kawasan yang menjadi incaran bangsa asing di masa lalu karena kekayaan rempah-rempahnya. Dengan banyaknya penguasaan Maluku di masa lampau, kemudian banyak tempat bersejarah muncul di sana.

Kekayaan alam Maluku memang tidak bisa diragukan lagi. Bangsa asing yang rela jauh datang ke pulau-pulau ini mengincar Pala dan berbagai jenis rempah lain. Kebutuhan rempah sangat dibutuhkan, khususnya di Eropa. 

Penguasaan Portugis yang kemudian disusul oleh Belanda dalam waktu yang lama membuat Maluku terjajah sangat lama. Masyarakat saat itu berupaya untuk mengusir mereka dari tanah kelahirannya dengan berbagai perjuangan. Salah satunya adalah perang.

Maka, jika datang ke sini akan banyak ditemukan banyak tempat bersejarah di Maluku seperti benteng dan museum yang memiliki banyak cerita. Apa saja itu?

Benteng Amsterdam Peninggalan VOC

Tempat Bersejarah di Maluku yang Simpan Banyak Cerita

Jika kamu menyukai wisata sejarah, maka datang ke Benteng Amsterdam adalah pilihan yang tepat. Di sini, kamu akan melihat peninggalan dari VOC yang pernah berkuasa di daerah Maluku. Kamu akan mendapat banyak informasi baru mengenai pendudukan VOC yang menguasai pasar rempah di masa lalu. 

Benteng yang sangat terkenal ini menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1512 oleh kelompok perdagangan Portugis. Setelah Maluku jatuh ke tangan Belanda, pembangunan benteng kemudian dilanjutkan pada 1637.

Pembangunan ini dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jaan Ottens. Tak membutuhkan waktu lama, di tahun 1642 ada pembangunan besar berupa penambahan dan perluasan benteng. Pembangunan benteng ini selesai pada tahun 1656 yang saat itu dipimpin oleh Arnold De Vlaming Van Ouds Hoorn. Selanjutnya digunakan oleh VOC untuk operasional.

Tempat bersejarah di Maluku ini bisa diakses dengan mudah. Jaraknya dari Kota Ambon kurang lebih 42 km saja. Lokasi Benteng Amsterdam berada di perbatasan antara Negeri Keitetu dan Negeri Hila, berada di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah.

Baca juga: Mengenal Cerita Jenaka Lengkap Dengan Ciri dan Contohnya

Benteng Ferangi, Pusat Pemerintahan Portugis

Benteng lain yang terkenal di Maluku adalah Benteng Ferangi. Benteng ini disebut sebagai bangunan yang menjadi pusat pemerintahan Portugis dulu ketika masih menjajah. Bangunan yang cukup tua ini pertama kali dibangun pada tahun 1575.

Karena bangunan ini dipakai untuk kegiatan pemerintahan Portugis dan memiliki bentuk mirip benteng di Eropa, ada pula yang menyebutnya sebagai Benteng Victoria dan Benteng Kota Laha.

Benteng ini juga difungsikan untuk menyimpan berbagai jenis rempah-rempah sebelum dijual ke Portugis. Setelah Portugis kalah dari Belanda, bangunan ini kemudian dikuasai oleh Belanda mulai tahun 1605.

Sekarang benteng ini menjadi tempat bersejarah yang sangat bermanfaat untuk kegiatan wisata sejarah. Wisatawan tidak hanya disuguhi benteng dan kisahnya, tetapi juga pemandangan alam di sekitarnya yang masih asri. Benteng ini juga sering menjadi berita Maluku tentang bagaimana sejarah terbentuknya Kota Ambon lho.

Taman Makam Persemakmuran Ambon

Mendengar istilah persemakmuran biasanya akan langsung teringat pada bekas jajahan Inggris, tetapi bukan itu lho maksudnya. Taman makan ini disebut juga dengan Ambon War Cemetery

Taman makam ini diperkirakan digunakan untuk menguburkan kurang lebih 3000 pasukan sekutu ketika kalah melawan Jepang. Maka, setiap tanggal 10 September, akan ada pelayat yang merupakan keluarga mereka datang ke mari untuk memperingati kematiannya.

Di tanggal 25 April, di sini juga menjadi tempat untuk memperingati AZNAC day. Keluarga yang turut merayakan AZNAC Day ini biasanya datang dari Negara Australia dan Selandia Baru. Dalam sejarah perang dunia, tentara AZNAC merupakan tentara khusus di sekutu yang berasal dari dua negera tersebut.

Taman Pattimura yang Legendaris.

Ketika datang ke Maluku, tidak lengkap jika tidak mengunjungi tempat bersejarah satu ini. Taman Pattimura menjadi salah satu tempat yang harus dikunjungi ketika ingin wisata sejarah. Taman ini memang identic dengan pahlawan dari Maluku, yaitu Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura.

Ia adalah pahlawan yang gigih berperang mengusir penjajah dari tanah Maluku. Ia juga merupakan tokoh penting dalam perebutan Benteng Duurstede ketika melawan kolonial.

Benteng ini dikenal sebagai benteng pusat pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai wilayah Indonesia Timur. Maka, dengan menguasai benteng ini bisa menaklukan seluruh wilayah Indonesia Timur. Tetapi, aksi ini gagal.

Pattimura justru dihukum gantung oleh pemerintah Hindia Belanda pada 16 Desember 1817. Oleh karena itu, dibangunlah taman Pattimura untuk mengenang jasanya.

Di taman ini ada patung Pattimura dan menjadi pusat bermain maupun kegiatan anak muda lainnya. Ketika jalan-jalan ke Ambon, jangan lupa untuk mampir dan mengenang perjuangan PAttimura melalui taman ini

Beberapa pilihan tempat bersejarah lainnya yang bisa dikunjungi ketika ke Maluku antara lain Benteng Duurstede, Monumen Martha Christina Tiahahu, Museum Siwalima Ambon. Selain itu, ada pula Gong Perdamaian Dunia Ambon, Benteng Nasau Banda, Benteng Victoria, dan Masjid Wapauwe. Tertarik untuk mengunjunginya?

Mengenal Cerita Jenaka Lengkap Dengan Ciri dan Contohnya

Ingin membuat cerita lucu? Mengenal cerita jenaka adalah hal yang tepat. Pengertian cerita jenaka adalah sebuah cerita lucu dan terdapat berbagai bagian dari cerita rakyat hingga membuat pendengarnya tertawa.  Cerita ini merupakan gambaran dari kehidupan sehari-hari.

Cerita ini telah berkembang di Indonesia dan menjadi hiburan. Dalam sebuah cerita jenis ini, hampir keseluruhan cerita menunjukkan kebodohan dalam sebuah karakter utama. Hingga menghasilkan salah tafsir yang menyebabkan karakter melakukan tindakan humor.

Mengenal Cerita Jenaka Secara Lengkap

Mengenal Cerita Jenaka Lengkap Dengan Ciri dan Contohnya

Untuk dapat membuat cerita jenaka, mengenal pengertian cerita jenaka saja tidak lengkap. Berbagai unsur yang mendukungnya harus kita pahami dengan baik. Berikut adalah ulasan lengkap tentang cerita jenaka yang harus Anda ketahui;

1. Ciri-Ciri

Cerita jenaka adalah sebuah cerita lucu yang tujuannya untuk menghibur banyak orang. Dari pengertian tersebut dapat kita tarik ciri-ciri tentang cerita jenaka yang paling umum antaranya adalah karakter pemainnya pintar dan bodoh. Sebagai hiburan yang jadi kritik sosial.

Ciri lain dari cerita jenaka adalah ciri yang membentuk pola yang terdiri atas judul cerita, aksi dan nama karakter. Ciri selanjutnya adalah watak karakter utama dan pendukung. Lainnya berupa sumber cerita yang berasal dari kehidupan sehari-hari.

2. Fungsi Cerita Jenaka

Agar dapat mengenal cerita jenaka dengan baik, mengetahui fungsinya juga harus Anda tahu. Adapun fungsi dari cerita jenaka adalah sebagai hiburan karena ceritanya yang penuh humor.  Cerita tersebut mampu menghibur pembaca maupun yang mendengarnya

Apalagi cerita jenaka terkini memang selalu berusaha menenangkan pikiran pembacanya. Unsur yang penuh kelucuan tersebut ada pada sifat maupun peristiwa karakter utamanya. Contoh cerita jenaka dengan kelucuan karakternya adalah cerita pak Pandir.

Mengenal cerita jenaka sebagai kritik sosial sering orang gunakan di dalam masyarakat. Cerita jenaka pun dapat kita gunakan untuk mengkritik tingkah laku yang terbilang buruk. Misalnya saja kritik sosial golongan biasa terhadap orang kaya yang suka bersifat tamak.

Mencari contoh cerita jenaka yang demikian saat ini bukanlah hal yang sulit. Coba cek di https://academia.co.id/, banyak beredar cerita yang mampu siapapun merasa tertarik. Cerita yang penuh kelucuan yang akan membuat siapa saja senyum-senyum saat membacanya.

Cerita jenaka mempunyai fungsi lain yaitu penyedia instruksi pendidikan. Banyak contoh cerita jenaka yang beredar di masyarakat yang mampu memberikan pengajaran. Tentunya hal yang demikian akan berguna dala kehidupan sehari-hari.

Cerita jenaka memang jenis prosa yang paling banyak orang gunakan untuk mengkritik sosial masyarakat yang tidak tepat. Menggunakan bahasa yang lucu penyampaiannya terasa lebih halus. Tentunya hal yang demikian jadi sarana ampuh bagi keadilan sosial di masyarakat.

3. Struktur

Mengenal cerita jenaka dalam strukturnya tidak jauh berbeda dengan prosa yang lainnya. Struktur terpenting dalam cerita jenaka adalah adanya judul yang tentunya harus lucu. Ide cerita yang tidak biasa dan biasanya datang dari kehidupan sehari-hari.

Ceritanya juga harus lucu, karena cerita jenaka adalah cerita lucu. Buat cerita senatural mungkin hingga kesan humor dan pesan kritik sosialnya dapat tersampaikan. Apabila kesan humornya tersampaikan artinya cerita jenaka ini sukses.

4. Kesalahan Dalam Membuat Cerita Jenaka

Mengenal cerita jenaka yang unik juga tidak luput dari adanya kesalahan Kesalahan yang paling sering terjadi adalah garingnya ide sehingga cerita tidak tampak lucu, justru terasa datar. Untuk menghindari kesalahan harus sering membaca cerita jenaka yang ada.

5. Contoh Cerita Jenaka

Adanya contoh dari cerita jenaka, maka upaya untuk mengenal cerita jenaka akan semakin mudah. Contoh paling terkenal dari cerita jenaka adalah kisah pak pandir. Berikut adalah kisah dari pak Pandir;

Pada suatu hari, pak Pandir sedang berada di rumah dan tidak pergi ke ladang karena hujan. Saat itu pak Pandir merasa lapar dan meminta makan pada istrinya agar dibuatkan makanan yang hangat. Oleh istrinya dibuatkan pisang goreng , makanan yang sangat sederhana.

Karena sudah merasa sangat lapar, pak Pandir meminta istrinya memasak lebih cepat agar bisa makan. Pak Pandir membayangkan memakan pisang goreng hangat dengan segelas kopi. Begitu terasa nikmat seolah pisang goreng adalah pengganti nasi.

Melihat pisang terlihat sangat baik, akhirnya pak Pandir segera mengambil satu dan memakannya. Setelah itu hujan nampak reda dan pak Pandir pun ke sawah untuk melihat tanaman yang sudah ia tanam. 

Ternyata tanamannya tumbuh dengan baik dan ia pun menanti untuk panen.Begitu panen pisang yang ada di sawah, pak Pandir pun langsung menjualnya ke pasar. Di pasar hasil dagangannya langsung habis dan menghasilkan banyak uang.

Baca juga: Sebelum Hubungi Jasa Sedot WC Jakarta, Ini Dia 4 Cara Cepat & Mudah Atasi WC Jongkok yang Mampet

Seperti panen sebelumnya yang mendapat banyak hasil panen. Sedangkan uangnya ia berikan kepada istrinya. Makan pisang goreng pun tak jadi. Karena semua pisang telah habis dijual ke pasar.

Nah, itulah sekelumit tentang mengenal cerita jenaka secara lengkap. Ingin berlatih membuatnya hingga mahir, jangan lupa untuk mampir ke https://academia.co.id/., karena di sana banyak contoh cerita jenaka. Demikian semoga informasinya bermanfaat.

Tari Bedhaya Ketawang, reaktualisasi percintaan Kanjeng Ratu Kidul

Bedhaya berasal dari bahasa Sanskerta budh yang berarti pikiran atau budi. Dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi bedhaya atau budaya. Penggunaan istilah tersebut dikarenakan tari bedhaya diciptakan melalui proses olah fikir dan olah rasa. Pendapat lain menyatakan bahwa bedhaya berarti penari kraton, sedangkan ketawang berarti langit atau angkasa. Jadi bedhaya ketawang berarti tarian langit yang menggambarkan gerak bintang-bintang, sehingga gerakan para penarinya sangat pelan.

Tari Bedhaya Ketawang dipercaya merupakan reaktualisasi percintaan Kanjeng Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati (raja pertama Dinasti Mataram Islam). Konon, tari ini diciptakan oleh Kanjeng Ratu Kidul bersama Panembahan Senopati. Setelah Panembahan Senopati mengikat janji dengan Kanjeng Ratu Kidul, ia meminta Kanjeng Ratu Kidul datang ke Kraton Mataram untuk mengajarkan tari Bedhaya Ketawang kepada penari-penari kesayangan Panembahan Senapati. Kanjeng Ratu Kidul menyanggupi permintaan tersebut dan setiap hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) ia hadir di Kraton Mataram untuk mengajarkan tarian tersebut. Selain itu busana dan tata rias penari Bedhaya Ketawang pun diyakini sebagai ciptaan Kanjeng Ratu Kidul.

Berdasarkan kepercayaan tersebut, maka ketika tari Bedhaya Ketawang hendak dipagelarkan harus meminta ijin kepada Kanjeng Ratu Kidul sebagai pemilik tari. Untuk itu dilaksanakan ritual caos dhahar, yang merupakan manifestasi suatu kebaktian dan usaha untuk berkomunikasi dengan roh halus atau dunia gaib. Caos dhahar dilaksanakan 5 kali, yaitu pertama menghadap ke selatan ditujukan kepada Kanjeng Ratu Kidul, lalu menghadap ke utara untuk Bathari Durga, menghadap ke barat untuk Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton, dan terakhir kembali menghadap ke selatan untuk berpamitan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Ritual tersebut dilakukan dengan harapan Kanjeng Ratu Kidul akan berkenan hadir dan turut terlibat baik dalam latihan maupun pagelaran yang akan dilaksanakan.

Raja-raja Dinasti Mataram Islam terutama Panembahan Senopati dan Sultan Agung sering dihubungkan dengan Kanjeng Ratu Kidul, baik dalam bentuk cerita lisan maupun babad. Hal tersebut tidak lepas dari upaya legitimasi kekuasaan para raja tersebut. Dengan menghubungkan diri dengan tokoh mistik yang sangat dihormati, maka seorang raja akan memperoleh legitimasi yang kuat dan meminimalkan kemungkinan adanya pemberontakan.

Oleh karena itu, ketika Perjanjian Giyanti membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, Kraton Surakarta meminta tari Bedhaya Ketawang sebagai pertunjukan sakral istana. Sedangkan kraton Yogyakarta, mencipta bedhaya Semang. Bedhaya Ketawang dibawakan oleh 9 penari wanita dan dianggap sebagai induk munculnya jenis tari Bedhaya lainnya. Kesembilan penari tersebut memiliki posisi masing-masing yang disebut sebagai batak, endhel ajeg, endhel weton, apit ngarep, apit mburi, apit meneng, gulu, dhadha, serta boncit. Masing-masing posisi merupakan suatu simbol, yaitu:
· Apit mburi: melambangkan lengan kiri
· Apit ngarep: melambangkan lengan kanan
· Apit meneng: melambangkan kaki kiri
· Batak: mewujudkan jiwa dan pikiran
· Buncit: mewujudkan organ seks
· Dadha: melambangkan dada
· Endhel ajeg: mewujudkan nafsu atau keinginan hati
· Endhel weton: melambangkan kaki kanan
· Jangga (gulu): melambangkan leher

Keseluruhan penari yang berjumlah 9 orang dipercaya merupakan angka sakral yang melambangkan 9 arah mata angin. Hal ini sesuai dengan kepercayaan masyarakat Jawa pada peradaban Klasik, dimana terdapat 9 dewa yang menguasai sembilan arah mata angin yang disebut juga sebagai Nawasanga, yang terdiri dari: Wisnu (Utara), Sambu (Timur Laut), Iswara (Timur), Mahesora (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (Barat Daya), Mahadewa (Barat), Sengkara (Barat Laut), dan Siwa (Tengah).

Upaya mengejawantahkan 9 dewa penguasa arah mata angin dalam wujud 9 orang penari tersebut merupakan suatu simbol bahwa pada hakekatnya tari Bedhaya Ketawang bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam yaitu keseimbangan antara mikrokosmos (jagat kecil) dan makrokosmos (jagat besar). Suatu konsep kosmologi yang telah mendarah daging pada masyarakat Jawa sejak berabad-abad silam.

Sebagai tarian yang sangat sakral, maka para penari Bedhaya Ketawang haruslah seorang gadis yang suci dan tidak sedang haid. Apabila sang penari sedang memperoleh haid, ia tetap diperbolehkan menari dengan meminta izin terlebih dahulu kepada Kanjeng Ratu Kidul. Untuk itu, harus dilakukan caos dhahar di Panggung Sanggabuwana, suatu bangunan yang digunakan sebagai tempat pertemuan Sunan dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Selain suci lahiriah yang dimaknai dengan sedang tidak haid-nya seorang penari Bedhaya Ketawang, ia juga dituntut untuk suci secara batiniah. Hal ini dapat dicapai dengan menjalani puasa selama beberapa hari menjelang pagelaran. Dengan menjalani lelaku tersebut diharapkan para penari tersebut dapat membawakan tarian Bedhaya Ketawang dengan sebaik-baiknya. Hal ini dikarenakan ada suatu beban tersendiri pada para penari. Dipercaya bahwa dalam suatu pagelaran Bedhaya Ketawang, Kanjeng Ratu Kidul akan hadir bahkan ikut menari dan apabila ada penari yang kurang baik dalam menari maka ia akan dibawa Kanjeng Ratu Kidul ke Laut Selatan. Kepercayaan ini memberikan suatu motivasi tersendiri bagi para penari, bahwa mereka harus membawakan Bedhaya Ketawang dengan sesempurna mungkin supaya tidak dibawa ke Laut Selatan.

Sebagai penyempurna tampilan para penari, maka beberapa hari menjelang pagelaran, para penari harus mempersiapkan diri antara lain dengan meratus rambut serta kain, melulur tubuh, maupun perawatan tubuh lainnya supaya aura mereka dapat terpancar sempurna sehingga memperkuat aura kesakralan dari tari itu sendiri.

Sementara itu busana dan tata rias yang dikenakan penari dalam pagelaran tari Bedhaya Ketawang adalah layaknya pengantin putri Kraton Surakarta. Hal tersebut dikarenakan tari Bedhaya Ketawang merupakan reaktualisasi pernikahan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, sehingga busana yang dikenakan haruslah busana pengantin, yang lazim disebut sebagai Basahan. Busana tersebut meliputi kain dodot, samparan, serta sondher. Dodot merupakan kain yang memiliki ukuran 2 atau 2,5 kali kain panjang biasa, hingga panjang dodot bisa mencapai 3,75 hingga 4 meter. Pada masa lalu, kain ini hanya dikenakan oleh raja dan keluarga serta kaum ningrat untuk upacara tertentu, sepasang pengantin keraton, serta penari Bedhaya dan Serimpi.

Sebagaimana pengantin, maka dodot yang digunakan bermotif alas-alasan. Tarian ini memiliki dua penari utama, yaitu batak dan endhel ajeg yang dapat dibedakan dari warna dodot mereka. Meskipun memiliki motif yang sama yaitu alas-alasan, tetapi warnanya berbeda. Batak dan endhel ajeg mengenakan dodot alas-alasan berwarna hijau gelap yang disebut dodot gadung mlathi, sedangkan 7 penari lainnya mengenakan dodot alas-alasan berwarna biru gelap yang disebut dodot bangun tulak.

Kata bangun tulak berasal dari kata bango dan tulak. Bango merupakan nama sejenis burung yang dipercaya memiliki umur yang sangat panjang. Sementara itu tulak berarti mencegah bala atau kejahatan. Versi lain kain alas-alasan adalah gadhung mlathi yang memiliki lapisan bawah berwarna hijau sesuai dengan makna gadhung dan lapisan tengah berwarna putih sebagaimana warna bunga melati. Kain tersebut dikenakan sebagai bentuk penghormatan pada Kanjeng Ratu Kidul, karena dipercaya beliau sangat menyukai warna hijau. Selain itu hijau merupakan simbol kemakmuran, ketentraman, dan rasa ketenangan. Lembaran kain dodot tersebut dihiasi dengan motif alas-alasan, yang berarti rimba raya. Penamaan ini berkaitan dengan elemen-elemen yang membentuk motif tersebut, yaitu penggambaran seisi belantara yang meliputi aneka jenis hewan dan tumbuhan, yaitu:

a. Ragam hias garuda
Dalam batik motif semen, motif garuda merupakan motif yang paling tinggi kedudukannya di antara motif lain. Garuda dipercaya sebagai burung dewa, kendaraan Wisnu, dan sekaligus sebagai simbol matahari. Dalam konsep dewa raja, raja diposisikan sebagai titisan Wisnu (dewa pemelihara), sehingga kendaraannya disejajarkan dengan kendaraan Wisnu. Simbol garuda dapat meninggikan kedudukan raja yang berkuasa.

b. Ragam hias kura-kura
Kura-kura dipercaya sebagai lambang dunia bawah atau lambang bumi. Dalam agama Hindu, kura-kura merupakan penjelmaan Wisnu yang diharapkan akan dapat menjalankan tugasnya menjaga bumi bila bersatu dengan istrinya yaitu Dewi Sri atau Dewi Kesuburan.

c. Ragam hias ular Ular dianggap sebagai simbol perempuan dan merupakan bagian dari konsep kesuburan, hujan, samudera, dan bulan. Sementara itu naga sebagai ular dewa merupakan lambang air dan bumi. Watak tersebut dilambangkan sebagai Dewi Sri. Dalam pengertian simbol, naga melambangkan dunia bawah, air, perempuan, bumi, dan yoni.

d. Ragam hias burung Burung merupakan lambang dunia atas yang menggambarkan elemen hidup dari udara (angin) dan melambangkan watak luhur. Kadangkala burung menjadi lambang nenek moyang yang telah meninggal atau dipakai sebagai kendaraan roh menuju Tuhannya. Penggunaan ragam hias burung melambangkan bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke asalnya, yaitu kepada Sang Pencipta.

e. Ragam hias Meru Motif meru merupakan simbol gunung. Menurut paham Indonesia kuno, gunung melambangkan unsur bumi atau tanah. Pada kebudayaan Jawa Hindu, puncak gunung yang tinggi merupakan tempat bersemayam para dewa. Sementara itu pada pola batik, ragam hias meru menyimbolkan tanah atau bumi yang menggambarkan proses hidup tumbuh di atas tanah.

f. Ragam hias Pohon Hayat Melambangkan kesatuan dan ke-Esaan. Bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta

g. Ragam hias Ayam Jantan Di Indonesia dipandang sebagai symbol keberanian dan tanggung jawab

h. Ragam hias kijang Kijang adalah lambang kelincahan dan kebijaksanaan yang menyimbolkan kelincahan dalam berfikir dan mengambil tindakan serta keputusan.

i. Ragam hias gajah Merupakan lambang kendaraan raja yang melambangkan kedudukan luhur, mengandung arti sesuatu yang paling tinggi, paling besar, dan paling baik agar menjadi manusia sempurna.

j. Ragam hias burung bangau Burung bangau dipercaya memiliki umur yang sangat panjang bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Ia dianggap sebagai lambang penolakan keadaan yang tidak baik, sehingga diharapkan dapat menghindari atau menjauhi bahaya apapun, supaya pada akhirnya dapat meraih keselamatan dan berumur panjang.

k. Ragam hias harimau Melambangkan keindahan yang disertai wibawa dan tangguh dalam menghadapi lawan

l. Ragam hias motif kawung Motif ini tersusun atas bentuk elips, yang dapat diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan 4 lembar daun bunganya yang sedang mekar. Bunga ini melambangkan umur panjang dan kesucian. Dewa juga dilambangkan dengan bunga teratai. Berdasarkan hal tersebut, maka motif kawung menyimbolkan kedudukan raja sebagai pusat kekuasaan mikrokosmos sejajar dengan dewa sebagai pusat kekuasaan makrokosmos.

Pada hakikatnya penggunaan kain dodot dengan motif alas-alasan tersebut memiliki harapan yang baik sekaligus sebagai penolak bala. Hal ini sesuai dengan ornamen-ornamen yang digambarkan pada lembaran kain tersebut.

Namun sebelum dodot dipakai, terlebih dahulu dikenakan samparan, yaitu kain panjang yang dikenakan sebagai pakaian dalam bagian bawah. Kain tersebut berukuran 2,5 kacu atau 2,5 kali lebar kain yang dikenakan dengan cara melilitkan kain dari kiri ke kanan. Sisa kain yang biasanya digunakan sebagai wiron diurai ke bawah, di antara kedua kaki mengarah ke belakang sehingga membentuk semacam ekor yang disebut seredan. Pemakaian kain jenis ini disebut samparan. Dalam suatu pagelaran, kain yang digunakan sebagai samparan adalah cindhe dengan motif Cakaran berwarna merah.

Selanjutnya dikenakan sondher, yaitu kain panjang menyerupai selendang yang dikenakan untuk menari. Kain tersebut biasanya memiliki panjang 3 meter dan lebar 50 cm, yang disebut sampur atau udhet. Dalam suatu pagelaran, sondher yang dikenakan bermotif cindhe sekar warna merah, ujungnya berhias gombyok atau rumbai warna emas.

Dari uraian tersebut kita mengetahui bahwa para penari Bedhaya Ketawang mengenakan beberapa helai kain yang dalam teknik pemakaiannya tidak memakai proses jahit dan hanya dililitkan, diselipkan diantara lapisan-lapisan kain lainnya. Oleh karena itu, busana tersebut rentan untuk rusak tatanannya selama menari, baik karena terinjak atau karena sebab lain. Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, maka selama menari terdapat dua orang abdi dalem yang bertugas mendampingi untuk membenahi busana para penari apabila busana tersebut rusak ketika sedang menari. Ada suatu keunikan disini, karena selama membetulkan busana tersebut, para penari tetap menari dan abdi dalem lah yang menyesuaikan dengan gerakan penari supaya sang penari tetap konsentrasi menari dengan baik karena sedang membawakan tari pusaka.

Untuk mendukung tata busana penari Bedhaya Ketawang, maka wajah para penari tersebut juga dirias selayaknya pengantin. Untuk itu pada bagian dahi dilukiskan beberapa bentuk, yaitu:

1. gajahan, bentuk seperti setengah bulatan telur bebek, letak di tengah-tengah dahi ± 3 cm di atas kedua pangkal alis dengan lebar pada pangkal dahi ± 4 cm. apabila ditarik garis lurus pada ujungnya secara vertical tepat pada ujung hidung. Merupakan lambang kendaraan raja yang menyimbolkan kedudukan luhur, sesuatu yang paling tinggi, paling besar, dan paling baik agar menjadi manusia sempurna.

2. pengapit, berbentuk ngudup kanthil yaitu seperti kuncup bunga kanthil. Bentuk ini terletak pada dahi, mengapit di kanan kiri bentuk gajahan. Kedua ujung pengapit jika ditarik dengan garis lurus akan bertemu di suatu titik antara kedua pangkal alis. Titik yang merupakan pusat dari semua unsur bentuk paes dan disebut cihna. Lebar pengapit pada pangkal dahi ± 2 cm. Merupakan pendamping kiri-kanan, yang menyimbolkan bahwa meskipun sudah menjadi manusia sempurna harus selalu waspada terhadap sifat buruk pendamping kiri. Pendamping kanan sebagai pemomong akan selalu setia mengingatkan melalui suara hati agar tetap kuat dan teguh imannya.

3. penitis berbentuk seperti setengah bulatan telur ayam pada bagian ujung. Bentuk ini mempunyai ukuran lebih kecil dari pada gajahan. Ada dua penitis seperti halnya pengapit, bentuk ini terletak pada bagian luar dari pengapit kanan dan pengapit kiri. Ujung penitis menghadap ke ujung alis. Merupakan symbol kearifan dan harapan agar mempunyai tujuan yang tepat.

4. godheg berbentuk seperti kudhup atau kuncup bunga turi dengan ukuran mirip dengan pengapit. Bentuk ini berada di dekat telinga kanan dan kiri. Pembuatan godheg dimulai dari atas telinga turun melengkung sampai di depan telinga. Melambangkan bahwa manusia harus mengetahui asal usul dari mana ia datang dan ke mana harus pergi. Manusia diharapkan dapat kembali ke asal dengan sempurna.

5. alis penari berbentuk menyerupai tanduk kijang bercabang satu atau disebut menjangan ranggah. Melambangkan bahwa agar dapat mengatasi segala serangan buruk dari beberapa arah harus selalu waspada dan bijaksana atau “tanggap ing sasmita”.

Bentuk-bentuk tersebut dioles dengan lotha yaitu ramuan berwarna hijau yang dibuat dari campuran malam kote, minyak jarak, dan daun dhandhang gula. Pada jaman dahulu ramuan tersebut dibuat dari daun yang berbau wangi, disebut daun dhandhang gendhis, sehingga rias wajah penari tersebut disebut paes dhandhang gendhis.

Sebagaimana pengantin, maka rambut para penari Bedhaya Ketawang juga disanggul, yang disebut sebagai sanggul bokor mengkurep. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai bokor yang tengkurap. Sanggul ini ditutup dengan rajutan melati dan dihias dengan bunga tiba dhadha yang dibuat dari roncean melati berbentuk bulat panjang sampai tengah paha. Keanggunan dan keagungan tata busana dan rias tersebut ditunjang dengan pemakaian seperangkat perhiasan yang biasa dikenakan pengantin, yang disebut raja keputren, meliputi cundhuk jungkat, centhung, subang, 9 buah cundhuk mentul, garuda mungkur, kalung, kelat bahu, slepe, serta cincin.

Keseluruhan tata busana dan rias pengantin yang dikenakan oleh para penari Bedhaya Ketawang tersebut seolah mereaktualisasikan perjanjian antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Bahwasanya Kanjeng Ratu Kidul akan senantiasa menjaga dan melindungi Kerajaan Mataram, salah satunya dengan ia akan selalu memperbaharui pernikahannya dengan raja – raja Mataram. Oleh karena itu Sunan biasanya akan mengangkat salah satu penari Bedhaya Ketawang sebagai selirnya. Hal ini dilakukan untuk mereaktualisasikan pernikahannya dengan Kanjeng Ratu Kidul yang dipercaya selalu hadir setiap tari ini dibawakan. Kanjeng Ratu Kidul dipercaya akan masuk ke tubuh salah satu penari, yang kemudian diangkat sebagai selir oleh raja. Oleh karena itu para penarinya haruslah memenuhi syarat-syarat sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Sumber :

  • Claire Holt, Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia
  • Djandjang Purwo Sedjati, “Busana Tari Bedhaya Ketawang: Ragam Hias dan Makna Simboliknya”, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 2004.
  • Nunuk Rahayu, “ Tari Bedhaya dalam Upacara Perkawinan Agung di Kraton Surakarta Masa Paku Buwana X 1893-1939”, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1994.
  • Tutik Winarni, “Tari Golek Gaya Yogyakarta Sebuah Akulturasi Budaya Rakyat dan Budaya Istana”, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1997.
  • Yuli Sectio Rini, “Kajian Sistem Pembinaan Seni Tari Gaya Istana Surakarta pada Masa Susuhunan Paku Buwana X (1893-1939)”, Thesis, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, 1997.

Tulisan ini diambil dari: http://www.ullensentalu.com/versiCetak.php?idberita=66