Al Quran Menguatkan Atlantis mungkin di Indonesia

Al Quran Menguatkan Atlantis mungkin di Indonesia
Al Quran Menguatkan Atlantis mungkin di Indonesia

Kendati ada banyak pertentangan soal keberadaan benua Atlantis yang hilang itu di Indonesia, namun tidak sedikit yang juga ingin membuktikannya. Yang jelas, surga eden the Atlantis itu memang menarik untuk disimak dan ditelusuri.

Salah satu situs di Indonesia menuliskan, selain dari manuskrip kuno peninggalan Plato, kemungkinan besar Atlantis terletak di Indonesia dikuatkan melalui metode Quranic Archeology, atau penelitian dari teks-teks kitab suci Al Quran. Sebagaimana dilakukan oleh Kepala Arkeolog Penelitian Gunung Padang, Ali Akbar.

“Meneliti dari manuskrip Al Quran dibolehkan karena dalam arkeologi, Al Quran adalah artefak,” papar Ali Akbar yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi yang bertajuk “Bencana dan Peradaban” serta peluncuran buku “Plato Tidak Bohong, Atlantis Ada di Indonesia” karya Danny Hilman yang berjudul di Gedung Krida Bhakti kompleks Sekretariat Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Disebutkan dia, pada faktanya nabi-nabi sebelum nabi Ibrahim yang disebutkan dalam Al-Qur’an tidak ada identifikasi geografi dimana mereka itu diturunkan.

“Nabi Adam, Nuh, Hud, Idris, Saleh dan seterusnya, itu tidak disebut dimensi ruangnya, tidak jelas dari mananya, baru kemudian Nabi Yusuf disebutkan dari Mesir. Nabi-nabi pra Ibrahim tidak disebutkan,” papar Ali

Namun dari segi waktu, dapat diperkirakan waktunya adalah antara 25 ribu sampai 5000 tahun sebelum masehi. Dimana yang mengejutkan, dalam rentang tahun ini terjadi kekosongan sejarah dimana belum ditemukan penjelasan tentang kejadian sejarah apa saja yang terjadi pada kurun waktu itu.

“Fakta ini membuat seluruh kemungkinan menjadi mungkin. Karena kosongnya sejarah ini maka semuanya jadi mungkin. Karenakan tidak ada tertulis di Al-qur’an dimana sebenarnya nabi-nabi itu,” tambahnya.

Sebagai contoh, disebutkan Ali Akbar tidak pernah disebutkan dimanakah Nabi Adam AS diturunkan dari surga. Yang disebutkan hanya Nabi Nuh, yang bahteranya mendarat di bukit Ararat.

“Tapi bukit Ararat itu dimana? Berangkatnya juga dari mana? Selain itu, umatnya para nabi terdahulu ini disebutkan hancur karena menyembah berhala. Berhala itu batu, berarti itu megalithikum, dan kita bisa menemukan seluruh situs Megalithikum di seluruh dunia,” ujarnya.

Karenanya, kemungkinan bahwa bangsa-bangsa terdahulu berasal dari Atlantis yang juga kemungkinannya ada di Indonesia menjadi terbuka lebar.

“Fakta bahwa Atlantis berada pada sekitar 11 ribu tahun yang lalu menjadi mungkin saja,” tandasnya.

sumber: http://www.rmol.co

Kerajaan Kandis adalah Atlantis ?

Kerajaan Kandis adalah Atlantis

Dhamna merupakan nama istana Kerajaan Kandis. Secara turun-temurun cerita/tombonya masih tetap ada disampaikan dari generasi ke generasi. Masyarakat Lubuk Jambi meyakini istana ini masih ada, namun tertimbun dan sudah tertutupi oleh hutan yang lebat, atau lenyap dari pandangan manusia. Dalam ceritanya lokasi Istana Dhamna ini pada pertemuan dua sungai.

Namun sampai saat ini belum pernah melakukan penelusuran ke lokasi yang dimaksud. Diyakini Istananya masih utuh karena peradaban Kandis sudah sangat maju, peralatannya terbuat dari emas, perak dan perunggu.

Cerita Istana Dhamna mirip dengan cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.

Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas – Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat berdasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan kekhilafan, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditantang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu.

Lenyapnya Negeri Atlas disebabkan karena peristiwa besar terjadi, yaitu terjadinya letusan besar dari dua gunung berapi (pilar) yang mengapit, yaitu Krakatoa dan Toba. Saking dahsyatnya seluruh bumi berguncang hebat sehingga menimbulkan tsunami yang maha dahsyat, lebih hebat dari pada tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004. Gunung krakatoa dan toba adalah gunung prasejarah yang berukuran sangat besar, gunung krakatoa sekarang dan danau toba adalah kaldera raksasa yang tercipta akibat letusan tersebut. Letusan gunung toba sampai saat ini belum tau pasti kapan terjadinya, namun letusan Karaktoa yang paling dahsyat diketahui terjadi pada tahun 1883 M (puncak letusan Krakatoa).

Istana Dhamna menurut tombo/cerita bukan tenggelam ke dasar lautan, akan tetapi diduga kuat tertimbun akibat abu vulkanik dari dua gunung yang bersamaan meletus. Lokasi Istana Dhamna tersebut adalah di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Apakah Istana Dhamna yang dimaksud oleh Plato sebagai Benua Atlantik? Suatu pertanyaan yang belum terjawab.

Pulau Sumatera dalam Lintasan Sejarah

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Atlas, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.

Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka jelas daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka diperkirakan adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakar yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih, sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.

Istana Dhamna Sebagai Pusat Kerajaan Kandis

Ratusan tahun sebelum Masehi Bukit Bakar mulai didatangi oleh Pendatang yang kurang jelas asal usulnya. Populasi penduduk makin lama makin berkembang, yang akhirnya memerlukan suatu aturan dalam kehidupan bermasyarakat. Kemudian berdirilah Kerajaan Kandis di Bukit Bakar yang diperintah oleh Raja Darmaswara yang disingkat dengan Daswara. Raja Darmaswara dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh Patih dan Temenggung serta Mentri Perdagangan. Darmaswara membangun sebuah istana yang megah sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama dengan Istana Dhamna.

Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dari hasil bumi seperti emas, perak, dan lain-lain. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Raja Darmaswara memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Malaka oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka selama berabad-abad sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan sejarah Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Malaka dan Kepulauan Riau.

Raja Darmaswara memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain diantaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi (Sumatra Barat sekarang).

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) dimana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan. Kedua Tokoh inilah yang menjadi Tokoh Legendaris Minangkabau.

Setelah kerajaan Kandis mengalahkan Kerajaan Koto Alang, Kandis memindahkan pusat pemerintahannya ke Taluk Kuantan oleh Raja Darmaswara (tidak diketahui Raja Darmaswara yang ke berapa). Pemindahan pusat pemerintahan Kandis ini disebabkan oleh bencana alam (tidak diketahui tahun terjadinya) yang mengakibatkan Istana Dhamna hilang tertimbun tanah atau mungkin oleh perbuatan makhluk halus yang menghilangkan istana dari pandangan manusia.

Istana Dhamna yang hilang ini pernah diperlihatkan pada tahun 1984 kepada 7 (tujuh) orang Lubuk Jambi yang waktu itu mencari goa sarang layang-layang (walet) yang dipimpin oleh seorang guru Tharekat yang bergelar Pokiah Lunak. Mereka melihat istana itu lengkap dengan pagar batu disekelilingnya. Pada tahun 1986 untuk kedua kalinya pagar istana diperlihatkan kepada tiga orang yang sedang mencari rotan/manau. Berita penemuan Istana ini menyebar dan besok harinya banyak penduduk pergi ingin melihatnya, namun tidak ditemukan lagi. Begitulah sebagai bukti istana yang hilang yang bernama Istana Dhamna sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Kandis, satu kerajaan yang tertua di Indonesia.

Pada tahun 1375 M Dt. Perpatih Nan Sabatang dan Dt. Ketemenggungan dan beberapa orang lainnya hilir berakit kulim sebagai napak tilas pertama menelusuri negeri asal mereka melalui sungai keruh sesuai dengan peninggalan sejarah dari leluhurnya Dt. Perpatih Nan Sabatang yang pertama pindah ke Sumatra Barat. Dalam pelaksanaan hilir berakit tersebut banyak kesulitan karena sungai masih sempit banyak kayu dan akar yang menjuntai ke sungai, sehingga rakit sering tersangkut. Untuk mengelakkan halangan ini Dt. Perpatih Nan Sabatang selalu memerintahkan kuak-kan-tan, yang akhirnya Dt. Perpatih Nan Sabatang merubah nama Sungai Keruh menjadi Batang Kuantan yang berasal dari kata kuak-kan-tan.

Setelah mereka sampai di Kerajaan Kandis Dt. Perpatih Nan Sabatang menukar nama Kerajaan Kandis dengan Kerajaan Kuantan yang pada waktu itu kerajaan Kandis diperintah oleh tiga Orang Godang, yaitu Dt. Bandaro Lelo Budi dari Kari, Dt. Pobo dari Kopah dan Dt. Simambang dari Sentajo yang selanjutnya dikenal dengan Tri Buana. Pemerintahan dipegang oleh Orang Godang disebabkan karena terputusnya Putra Mahkota dari Raja Darmaswara.

Dt. Perpatih Nan Sabatang mengadakan pertemuan dengan ketiga Orang Godang tersebut serta menghadirkan pemuka masyarakat lainnya di Balai Tanah Bukik Limpato Inuman untuk memusyawarahkan persyaratan berdirinya satu Nagori di daerah Kuantan.

Pada tahun 1425 M Kerajaan Kuantan menerima tamu kehormatan yang berasal dari Kerajaan Chola dari India Selatan, yaitu Natan Sang Sita Sangkala dengan julukan Sang Sapurba. Sang Sapurba kawin di Semenanjung Malaka dengan Putri Kerajaan Sriwijaya yang bernama Putri Lebar Daun dan mendapatkan anak empat orang yaitu Sang Nila Utama, Sang Maniaka, Putri Candra Dewi dan Putri Bilal Daun. Sesampainya di Kerajaan Kuantan Sang Sapurba diminta oleh Dt. Bandaro Lelo Budi, Dt. Pobo dan Dt. Simambang menjadi raja di Kerajaan Kuantan. Sang Sapurba menerima tawaran tersebut.

Kerajaan Kuantan yang berpusat di Sintuo dibawah pemerintahan Sang Sapurba tidak banyak mencapai kemajuan. Peninggalan Raja Sang Sapurba hanya membuat danau Raja untuk pemeliharaan buaya di Paruso, membuat sumur dan kolam raja yang sampai sekarang masih ada bukti peninggalan Sang Sapurba tersebut. Disamping itu Sang Sapurba membunuh naga (ular) yang besar dengan keris Ganjar Iyas karena naga (ular) tersebut telah meresahkan masyarakat. Tempat mati naga (ular) tersebut diberi nama Punago artinya punah naga. Sedangkan Teluk Kuantan sekarang dijadikannya pelabuhan dagang.

Pada tahun 1435 M Sang Sapurba yang datang dengan Ceti Bilang Pandai di Kerajaan Kuantan mohon diri dan melanjutkan perjalanan ke hulu Batang Kuantan (Sumatra Barat sekarang atau Minangkabau) dan menuju Pagaruyung di Tanah Datar. Sepeninggal Sang Sapurba berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di Kuantan dan hilang fungsi Orang Godang nan batigo yang membantu Sang Sapurba dalam kerajaan Kuantan.

Penyebaran keturunan kerajaan Kandis ke berbagai daerah di Sumatra ditandai dengan persamaan bahasa dengan bahasa orang Kuantan seperti ke Payakumbuh, Sibolga, Tapak Tuan, daerah Kampar, Jambi, Bengkulu dan daerah-daerah di Sumatra Barat.

Bukti-bukti Sejarah daerah Kuantan di Bawah Permukaan Laut

Bukti daerah Kuantan dibawah permukaan laut dimasa Sumatra bernama Pulau Perca diantaranya adalah:

  • Adanya tempat bernama Rawang Ojung (kapal kayu), ditempat ini dahulunya Ojung menjatuhkan sauh/jangkar (di Desa Pulau Binjai sekarang).
  • Adanya tempat bernama Rawang Ojung/Rawang Tekuluk (di Desa Sangau sekarang).
  • Ditemukannya fosil kerang laut di Sosokpan pada tahun 1982 oleh penduduk waktu menggali tanah membuat kebun. Dinamakan tempat ini dengan Sosokpan maksudnya ditempat ini dahulunya binatang menyosok/minum ke tepi pantai.
  • Adanya nama tempat bernama Sintongah di Desa Sangau, dimana Raja Sintong (Raja Sriwijaya) mengadakan ekspedisi ke Kerajaan Kancil Putih dan ditempat ini mereka menjatuhkan jangkar, sehingga tempat ini dinamakan Sintongah.
  • Pada tahun 2000 M ditemukan batu laut di daerah Cengar oleh seorang Mahasiswa Arkeologi dari Universitas Hasanudin Makasar.

Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Kandis:

  • Bekas penambangan emas yang disebut dengan tambang titah, artinya diadakan penambangan emas atas titah Raja Darmaswara. Lokasinya dikaki Bukit Bakar bagian timur yang lobang-lobang bekas penambangan telah ditumbuhi kayu-kayuan.
  • Adanya daerah yang bernama Muaro Tombang (Muara Tambang) yang terletak di sebelah hilir tambang titah.
  • Istana Dhamna yang berlokasi di Bukit Bakar (belum terungkap).

Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Koto Alang:

  • Adanya tempat yang disebut Padang Candi di Dusun Botung (Desa Sangau), menandakan Kerajaan Koto Alang menganut agama Hindu. Pada tahun 1955 M pernah dilakukan penggalian dan menemukan Arca sebesar botol, dan Arca tersebut sampai sekarang tidak diketahui lagi keberadaannya. Dilokasi tersebut ditemukan potongan-potongan batu bata candi.
  • Dilain tempat telah berulang kali diadakan penggalian liar dari situs Kerajaan Koto Alang tanpa diketahui maksud dan tujuan oleh penduduk dan tanpa sepengetahuan Pemangku Adat dan Pemerintah. Penggalian tersebut dilakukan dimana diperkirakan letaknya istana Koto Alang di Dusun Botung tersebut.
  • Pada tahun 1970-an banyak penemuan masyarakat yang mendulang emas seperti cincin, gelang, penjahit emas, dan mata pancing dari emas.
    Pada tahun 1967 ditemukan tutup periuk dari emas di dalam sungai Kuantan. Tutup periuk emas ini diambil oleh pihak yang berwajib dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Diperkirakana tutup periuk ini terbawa arus sungai yang berasal dari tebing yang runtuh disekitar Kerajaan Koto Alang.
  • Pada tahun 2007 dilakukan penggalian oleh Badan Purbakala Batu Sangkar bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Riau tanpa sepengatahuan Pemangku Adat dan Pemerintah Daerah. Pada penggalian sebelumnya mereka menemukan mantra berbahasa sangskerta yang ditulis pada kepingan emas yang saat ini tidak diketahui keberadaannya.
  • Adanya sungai yang mengalir dipinggir Padang Candi yang disebut dengan Sungai Salo yang berasal dari kata Raja Bukak Selo karena dikalahkan oleh Kerajaan Kandis.
  • Adanya tempat bernama Lopak Gajah Mati sebelah selatan Pasar Lubuk Jambi. Tempat itu merupakan tempat Gajah Tunggal mati dibunuh oleh Raja Koto Alang yang dibunuh dengan lembing sogar jantan. Disebut Gajah Tunggal karena gading gajah tersebut hanya satu sebelah kiri kepalanya. 

Gading tersebut telah dijual pada tahun 1976 karena tidak tahu nilai sejarahnya. Didalam kepala gajah ditemukan sebuah mustika yang sangat indah sebesar bola pimpong. Sungai yang mengalir disamping Lopak Gajah Mati dinamakan dengan Batang Simujur, artinya mujur/beruntung membunuh gajah tersebut.

Bukti Kerajaan Kancil Putih

  • Adanya ekspedisi Raja Sintong (Raja Sriwijaya) ke Kerajaan Kancil Putih, sehingga ada nama tempat Sintongah di Desa Sangau.

Demikianlah gambaran singkat tentang Pulau Atlas, Istana Dhamna, Kerajaan Kandis dan beberapa kerajaan yang pernah ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau (peta dan letak lokasinya dipegang oleh tim penelusuran peninggalan kerajaan Kandis yang dibentuk oleh Pemangku Adat Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal). Kalau Kerajaan Kandis ini Benua Atlantis yang dimaksud oleh Plato, berarti peninggalan Kerajaan Kandis termasuk warisan budaya dunia. Oleh karena itu partisipasi berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemangku Adat dan masyarakat setempat) sangat menentukan dalam mengungkap kembali pusat peradaban dunia tersebut.

Ini hanyalah sebuah analisis pemikiran tanpa dasar ilmiah yang kuat, jadi sampai saat ini catatan tentang kerajaan Kandis sangat Minim, mungkin hanya terdapat dalam Kitab Negara Kertagama, mohon masukan dari yang lebih ahli, tentang Kerajan kandis

Kerajaan Kandis

Kerajaan Kandis adalah kerajaan tertua yang berdiri di Sumatera, yang terletak di Koto Alang, masuk wilayah Lubuk Jambi, Kuantan, Riau.

SEJARAH
Kerajaan ini diperkirakan berdiri sebelum Masehi, mendahului berdirinya kerajaan Moloyou atau Dharmasraya.

Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah Patih dan Tumenggung.

Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.

Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.

Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.

Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.

Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.

Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).

Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.

Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.

Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

sumber: http://fawaunly.blogspot.jp

Nusantara “The Promised Land”

Nusantara Atlantis Indonesia
Tentang Peradaban Jawa (Peradaban Atlantis) dikaitkan dengan kiprah Bani Israel, ada fakta yang menarik apabila anda berkunjung ke situs resmi Israel misalnya di Kantor Perdana Menteri Israel dan Kantor Kedubes Israel di seluruh dunia terpampang nama Ibukota Israel : JAVA TEL AVIV/JAWA TEL AVIV, dan MAHKOTA RABBI YAHUDI yang menjadi imam Sinagog pake gambar RUMAH JOGLO JAWA.
Dengan demikian apakah Bani Israel merasa menjadi keturunan Jawa?  Yang disebut Jawa adalah seluruh Etnik Nusantara yang dulunya penghuni Benua Atlantis sebelum dikirim banjir besar oleh Allah SWT, setelah banjir besar benua ini pecah menjadi 17.000 pulau yang sekarang disebut Indonesia, hanya beberapa etnik yang masih tersisa, selebihnya menjadi cikal bakal bangsa-bangsa dunia antara lain bangsa India, Cina ( termasuk Jepang ), Eropa, Israel, Arab, dan Indian ( silahkan baca hasil penelitian Prof. Santos selama 30 tahun tentang Benua Atlantis terbitan Gramedia ).
Dalam bahasa Jawi Kuno, arti jawa adalah moral atau akhlaq, maka dalam percakapan sehari-hari apabila dikatakan seseorang dikatakan : “ora jowo” berarti “tidak punya akhlaq atau tidak punya sopan santun”, sebutan jawa ini sejak dulunya dipakai untuk menyebut keseluruhan wilayah nusantara.
Penyebutan etnik-etnik sebagaimana berlaku saat ini adalah hasil taktik politik de vide et impera para penjajah.
Sejak zaman Benua Atlantis, Jawa memang menjadi pusat peradaban karena dari bukti-bukti fosil manusia purba di seluruh dunia sebanyak 6 jenis fosil, 4 diantaranya ditemukan di Jawa. 


Jenis-Jenis Manusia Purba di Indonesia:

Manusia prasejarah atau yang juga biasa disebut dengan manusia purba adalah manusia yang hidup sebelum tulisan ditemukan.
Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan masih sangat bergantung pada alam. Meskipun tidak meninggalkan peninggalan sejarah dalam bentuk tulisan, namun eksistensi dan kebudayaan mereka berhasil diketahui lewat fosil dan artefak berupa alat-alat sehari-hari yang masih sangat sederhana.
Fosil-fosil manusia purba banyak ditemukan di Indonesia maupun di luar Indonesia. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa situs tempat dimana fosil manusia purba banyak ditemukan, seperti di Mojokerto, Solo, Ngandong, Pacitan, atau yang paling terkenal yaitu Sangiran.
Berikut adalah beberapa jenis manusia purba yang fosilnya pernah ditemukan di Indonesia. 

Meganthropus paleojavanicus 

Meganthropus paleojavanicus berasal dari kata-kata; Megan= besar, Anthropus= manusia, Paleo= tua, Javanicus= dari Jawa. Jadi bisa disimpulkan bahwa Meganthropus paleojavanicus adalah manusia purba bertubuh besar tertua di Jawa. Fosil manusia purba ini ditemukan di daerah Sangiran, Jawa tengah antara tahun 1936-1941 oleh seorang peneliti Belanda bernama Von Koeningswald. 
Fosil tersebut tidak ditemukan dalam keadaan lengkap, melainkan hanya berupa beberapa bagian tengkorak, rahang bawah, serta gigi-gigi yang telah lepas. Fosil yang ditemukan di Sangiran ini diperkirakan telah berumur 1-2 Juta tahun. 


Ciri-Ciri Meganthropus paleojavanicus

  • Mempunyai tonjolan tajam di belakang kepala. 
  • Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok. 
  • Tidak mempunyai dagu, sehingga lebih menyerupai kera. 
  • Mempunyai otot kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat. 
  • Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan. 


Pithecanthropus
Fosil manusia purba jenis Pithecanthrophus adalah jenis fosil manusia purba yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Pithecanthropus sendiri berarti manusia kera yang berjalan tegak. Paling tidak terdapat tiga jenis manusia Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia, yaitu; Pithecanthrophus erectus, Pithecanthropus mojokertensis, dan Pithecanthropus soloensis.

Berdasarkan pengukuran umur lapisan tanah, fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia mempunyai umur yang bervariasi, yaitu antara 30.000 sampai 1 juta tahun yang lalu.
Pithecanthropus erectus Tulang tengkorak Pithecanthropus erectus Pithecanthropus erectus, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di sekitar lembah sungai Bengawan Solo, Trinil, Jawa Tengah.
Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang atas, tengkorak, dan tulang kaki. Pithecanthropus mojokertensis, disebut juga dengan Pithecanthropus robustus. Fosil manusia purba ini ditemukan oleh Von Koeningswald pada tahun 1936 di Mojokerto, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak anak-anak.
Pithecanthropus soloensis, ditemukan di dua tempat terpisah oleh Von Koeningswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran antara tahun 1931-1933. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak dan juga tulang kering.


Ciri-ciri Pithecanthropus

  • Memiliki tinggi tubuh antara 165-180 cm. 
  • Badan tegap, namun tidak setegap Meganthrophus. 
  • Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc. 
  • Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis. 
  • Hidung lebar dan tidak berdagu. Mempunyai rahang yang kuat dan geraham yang besar. 
  • Makanan berupa tumbuhan dan daging hewan buruan.


Homo:

 Manusia purba dari genus Homo adalah jenis manusia purba yang berumur paling muda, fosil manusia purba jenis ini diperkirakan berasal dari 15.000-40.000 tahun SM. Dari volume otaknya yang sudah menyerupai manusia modern, dapat diketahui bahwa manusia purba ini sudah merupakan manusia (Homo) dan bukan lagi manusia kera (Pithecanthrupus).
Tengkorak Homo floresiensis (kiri), dan manusia modern (kanan)
Di Indonesia sendiri ditemukan tiga jenis manusia purba dari genus Homo, antara lain Homo soloensis, Homo wajakensis, dan Homo floresiensis. homo floresiensis Tengkorak Homo floresiensis (kiri), dan manusia modern (kanan) Homo soloensis, ditemukan oleh Von Koeningswald dan Weidenrich antara tahun 1931-1934 disekitar sungai bengawan solo.
Fosil yang ditemukan hanya berupa tulang tengkorak. Homo wajakensis, ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di Wajak, Jawa Timur. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah, tulang tengkorak, dan beberapa ruas tulang leher. Homo floresiensis, ditemukan saat penggalian di Liang Bua, Flores oleh tim arkeologi gabungan dari Puslitbang Arkeologi Nasional, Indonesia dan University of New England, Australia pada tahun 2003.
Saat dilakukan penggalian pada kedalaman lima meter, ditemukan kerangka mirip manusia yang belum membatu (belum menjadi fosil) dengan ukurannya yang sangat kerdil. Manusia kerdil dari Flores ini diperkirakan hidup antara 94.000 dan 13.000 tahun SM.
Menurut “mitologi jawa” yang telah menjadi cerita turun temurun, bahwa asal usul bangsa Jawa adalah keturunan BRAHMA DAN DEWI SARASWATI dimana salah satu keturunannya yang sangat terkenal dikalangan Guru Hindustan (India) dan Guru Budha (Cina) adalah Bethara Guru Janabadra yang mengajarkan “ILMU KEJAWEN”.
Sejatinya “Ilmu Kejawen” adalah “Ilmu Akhlaq” yang diajarkan Nabi Ibrahim AS. Dan dalam versi Islam disebut dalam Alqur’an “Millatu Ibrahim”.
Dalam buku kisah perjalanan Guru Hindustan di India maupun Guru Budha di Cina, mereka menyatakan sama-sama belajar “Ilmu Kejawen” kepada Guru Janabadra dan mengembangkan “Ilmu Kejawen” ini dengan nama sesuai dengan asal mereka masing-masing.
Di India mereka namakan “Ajaran Hindu”, di Cina mereka namakan “Ajaran Budha”.  
Dalam sebuah riset terhadap kitab suci Hindu, Budha dan Alqur’an, ternyata tokoh BRAHMA sebenarnya adalah NABI IBRAHIM, sedang DEWI SARASWATI adalah DEWI SARAH yang menurunkan bangsa-bangsa selain ARAB.
Relief Brahma di Situs Candi Borobudur
Bukti lain bahwa Ajaran Budha berasal dari Jawa adalah adanya prasasti yang ditemukan di Candi-candi Budha di Thailand maupun Kamboja yang menyatakan bahwa candi-candi tersebut dibangun dengan mendatangkan arsitek dan tukang-tukang dari Jawa, karena memang waktu itu orang Jawa dikenal sebagai bangsa tukang yang telah berhasil membangun “CANDI BOROBUDUR” sebagai salah satu keajaiban dunia.
Ternyata berdasarkan hasil riset Lembaga Studi Islam dan Kepurbakalaan yang dipimpin oleh KH. Fahmi Basya, dosen Matematika Islam UIN Syarif Hidayatullah, bahwa sebenarnya “CANDI BOROBUDUR” adalah bangunan yang dibangun oleh “TENTARA NABI SULAIMAN” termasuk didalamnya dari kalangan bangsa Jin dan Setan yang disebut dalam Alqur’an sebagai : “ARSY RATU SABA”, sejatinya PRINCE OF SABA atau “RATU BALQIS” adalah “RATU BOKO” yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Jawa.
Sementara patung-patung di Candi Borobudur yang selama ini dikenal sebagai patung Budha, sejatinya adalah patung model bidadari dalam sorga yang menjadikan Nabi Sulaiman sebagai model dan berambut keriting.
Dalam literatur Bani Israel dan Barat, bangsa Yahudi dikenal sebagai bangsa tukang dan berambut keriting, tetapi faktanya justru Suku Jawa yang menjadi bangsa tukang dan berambut keriting (perhatikan patung Nabi Sulaiman di Candi Borobudur ).
Hasil riset tersebut juga menyimpulkan bahwa “SUKU JAWA” disebut juga sebagai “BANI LUKMAN” karena menurut karakternya suku tersebut sesuai dengan ajaran-ajaran Lukmanul Hakim. Juga tertera dalam Alqur’an.
Nabi Sulaiman mewarisi kerajaan dari Nabi Daud yang dikatakan didalam Alqur’an dijadikan Khalifah di Bumi (menjadi Penguasa Dunia dan diperkirakan Benua Atlantis sebagai Pusat Peradabannya).
Nabi Daud juga dikatakan raja yang mampu menaklukkan besi (membuat senjata dan gamelan dengan tangan, beliau juga bersuara merdu) dan juga menaklukkan gunung hingga dikenal sebagai Raja Gunung. Di Nusantara ini yang dikenal sebagai Raja Gunung adalah “Syalendra”.
Menurut Dr. Daoed Yoesoef;  nama Syailendra berasal dari kata Saila dan Indra, Saila = Gunung dan Indra = Raja.
Jadi sebenarnya Bani Israel yang sekarang menjajah Palestina bukan keturunan Israel asli yang hanya terdiri 12 suku, tapi mereka menamakan diri suku ke 13 yaitu Suku Khazar (yg asalnya dari Asia Tengah) hasil perkawinan campur Bani Israel yang mengalami diaspora dengan penduduk lokal, posisi suku Khazar ini mayoritas di seluruh dunia.
Sedang Yahudi asli Telah menghilang yg dikenal sebagai suku-suku yang hilang “The Lost Tribes” yang mana mereka pergi ke timur. Dan banyak yg menuju ke “THE PROMISED LAND” yaitu NUSANTARA.
Sumber : http://primbondonit.blogspot.com

Bukti Cinta Ratu Kidul dengan Sang Senapati

Ini cerita lain dari Babad Demak. Berbagai ragam kesaktian melingkupi kehidupan para Raja di Pulau Jawa. Sebutir telor yang dinamai Langsung Jagat dan minyak Jayekatong disebut-sebut punya khasiat luar biasa.

Konon, telur Lungsung Jagat dan minyak Jayekatong dahulu dimiliki oleh Panembahan Senopati yang merupakan pemberian dari Kanjeng Ratu Kidul sebagai bukti tanda cintanya kepada sang Senopati.

Kedua pusaka ini bukanlah pusaka sembarangan, karena memiliki khasiat menjadikan tubuh menjadi sangat kuat dan memiliki umur yang panjang.

Alkisah, setelah menerima pemberian ini, sang Senopati bertemu dengan Sunan Kadilangu, gurunya. Sunan Kadilangu bertanya kepada sang Senopati bahwa ia diberi apa oleh Ratu Kidul.

Sang Senopati menunjukkan benda-benda yang diberikan oleh Ratu Kidul, yaitu telur Lungsung Jagat dan minyak Jayengkatong. Senopati kemudian memberikan benda itu kepada Sunan Kadilangu. Dalam kesempatan itu Sunan Kadilangu ingin singgah ke Mataram. Mereka ingin membuktikan khasiat keduanya.

Sang Senopati mempunyai juru taman yang kesukaannya meminum candu sehingga menderita sakit pernafasan. la sering berdoa kepada Yang Mahakuasa agar dianugerahi kekuatan dan umur panjang. Sang Senopati memberikan telur Lungsung Jagat kepada juru taman. la memberitahukan juru taman bahwa sesudah memakan telur itu penyakitnya akan sembuh dan akan memiliki umur panjang.

Sesudah juru taman memakannya, badannya berputar sangat cepat dan tidak berapa lama terdengar bunyi menggelegar, dan bersamaan dengan itu ada pohon yang tumbang. Tiba-tiba juru taman berubah menjadi raksasa yang bertaring dan berambut tebal.

Benarlah ternyata khasiat telur Lungsung Jagat menjadikan orang yang memakannya menjadi raksasa yang kuat, sehat, dan berumur panjang.

Sunan Kadilangu dan sang Senopati ingin membuktikan khasiat minyak Jayengkatong. Sang Senopati memanggil dua orang abdinya, bernama Nini Panggung dan Ki Kosa.

Begitu ditetesi minyak itu, keduanya menjadi tidak tampak sebab sudah berubah menjadi siluman. Keduanya disuruh oleh Sunan Kadilangu agar mengasuh sang Senopati. Kemudian Nini Panggung dan Ki Kosa disuruh tinggal di pohon beringin tua, sedangkan juru taman disuruh tinggal di Gunung Merapi.

Konon karena kesaktian telur Lungsung Jagat dan minyak Jayekatong ini, sampai sekarang ketiga abdi sang Senopati ini tetap dalam wujudnya. Sang Juru Taman menjadi makhluk gaib yang menjaga kawasan Gunung Merapi. Sedangkan Nini Panggung dan Ki Kosa, menurut cerita masih dapat ditemui oleh orang-orang tertentu yang melakukan tirakat dan semedi di Kotagede Jogjakarta.

sumber: http://geovedi.blogspot.com

Nusantara, Awal Peradaban Dunia

Atlantis Indonesia

Ada banyak bukti otentik Nusantara pada zamannya adalah sumber kebudayaan. Sebut saja seperti nama-nama sanskrit yang ada di beberapa dana negera: di Rusia ada Selo Bimo : Astana (tempat yang luas), Vanavara (hutan tempat anugrah), di benua Amerika ada nama: Yukatan (ya terlihat),  Guatemala (Papanne mema la), Maya (samar), Brasil  (berhasil), Lima (5). Di afrika ada nama Pantai Gading, Tanjung Harapan. Kenya (perempuan muda), di Eropa ada nama: Creta (kura-kura) dan sebagainya.

Belum lagi beberapa mahakarya peninggalan para leluhur Nusantara yang diakui dunia. Bahwa, suku-suku bangsa Nusantara adalah orang-orang sakti dengan kemampuan tinggi. Mampu mendirikan candi Prambanan dalam semalam, candi Borobudur (tanpa menyiksa budak), atau mendirikan piramid-piramid diberbagai penjuru negeri…

silahkan membuka http://www.lakubecik.org

atau buka terrajawa.net

Dunia sebenarnya mengakui tentang kebesaran ini. Namun entah kenapa, sebagai warga Nusantara kita seolah lupa atau tidak berpikir kearah sana. Bahkan cenderung merasa kecil, lalu berkiblat dengan budaya luar.

Ada yang lebih mengenaskan lagi,  sebagian malah ingkar tentang kebesaran itu. Lalu tidak merasa bangga terhadap akar dan cikal-bakal bangsa Nusantara itu sendiri. Namun tidak sepenuhnya hal itu salah.

Ketidak tahuan, dan hilang ingatan atau abai pada leluhur sesungguhnya, atau sepenuhnya bukan salah bangsa ini, itulah jalannya. Namun kita sebagai generasi penanggungjawab masa depan perlu mengingat kembali, mengakui dan mengangkat kembali akar ke permukaan.

Ratusan tahun bangsa di Nusantara dibutakan oleh Belanda dengan politik tidak hanya devide et impera, namun Belanda mengobrak-abrik sejarah, menghilangkan secara sistematis dan yang paling parah menciptakan sejarah Baru, sejarah Palsu.

Mengkerdilkan pemikiran-pemikiran bangsa ini, agar tidak berani bermimpi. Karena hal itu berpotensi menghancurkan kekuasaannya sebagai penjajah. Dan itu berjalan dalam waktu yang lama. Sehingga, secara bertahap bangsa kita tumbuh layaknya ‘bonsai’ kerdil didalam pot dan mempercayai bahwa itulah takdir dan memang itu kita adanya.

Alhasil, lihatlah disekeliling kita atau tanpa disadari kita adalah bagiannya; mayoritas berpikir bahwa kita hidup di bangsa yang terbelakang, miskin adalah bagian dari kita. Rasa saling menyalahkan, picik, dan terlalu melebihkan kebesaran-kebesaran bangsa lain. Bahkan yang lebih ironis, kita merasa kecil dimata dunia luar.

Ada banyak bukti pusaka, dan pustaka yang sejati, bukan pustaka asal Belanda, yang mengobrak-abrik Sejarah Nusantara, sehingga suku-suku bangsa di Nusantara tidak lagi SAKTI, melainkan baik dan patuh serta tidak mempunyai pendirian sendiri.

Kisah Ramayana terjadi di Nusantara

Adipati prabu Rama itu di Bogor kratonnya di Poncowati, adipati prabu Rahwana itu di Majalengka.
Di sekitar Desa Poncowati yg ada di Bogor krn disitulah kadipaten tempat Prabu Ramawijaya memerintah, lalu datangi daerah Nagrek(nagrek artinya burung bertengger) krn disitulah perang antara Jatayu dan Rahwana saat Rahwana menangkap Dewi Shinta, juga datangi lokasi daerah Majalengka, krn disitulah kraton Mahajaya Alengka…
Bila diukur secara geografis, siapa yg melanggar batas wilayahnya yg ke 2. Maka Rama masuk Wilayah Rahwana tanpa ijin.

Jejak Peradaban di Sumatera

Kraton terbesar di Swarnadwipa yg kekuasaannya tercatat di serat Kandabuana adalah Kraton Lesanpura, Kraton ini seharusnya ada di sekitar Medan, maka banyak nama daerah yg mengarah pada nama2 Sansekerta disana seperti Dalam bahasa Sansekerta ditimbun itu adalah diuruk, maka perhatikan dan cermati daerah2 di sekitar Medan yg memakai nama “URUK” krn pasti ada yg tertimbun disana. Selain itu dalam melihat itu berarti ” Ndeleng” maka didaerah yg pakai nama Deleng pasti didaerah tinggi dan itu tempat pengamatan, “Tangkis” itu artinya Tanggul, Semoga juga pada paham adanya nama hamparan perak disana.

Atlantis ada di SINI di Nusantara

Pada Jaman Kali Yoga di Kala Dwara, terdapat kerajaan yg sangat besar dan Megah di Selatan Jawa, Kerajaan itu dipimpin oleh perempuan yg sangat cantik yg bernama Ni mas Angin2 atau Ni Mas Gilang Kencana, karena jarang keluar kraton maka disebut juga Ni Mas Pagedongan, beliau adalah putri bungsu dari Sri Aji Jayabaya.

Atlantis adalah bahasa Sanksekerta leluhur yang berarti perempuan cantik. Kerajaan ini melegenda di seluruh pantai selatan, bukti kebesarannya saat ini sudah digeser ke mitos.

Tapi inilah kerajaan Atlantis yg melegenda itu, dari googleearth di koordinat 16°11’53.69″S,112°51’47.47″E ada bekas tapak tangan raksasa, sesuai cerita di pakem pedalangan serat Kandabuana saat ditenggelamkannya kraton para putri di jaman Kala Dwara terus di sekitar koordinat 14°31’8.86″S,117° 8’45.77″E juga terlihat ada seperti beteng di dasar laut yang panjangnya tak kurang dari 721 km dengan lebar 14 km, gambar itu akan jelas di eye alt:1129.34 km,dengan elev -5714 m.

Salah satu vesri menceritakan; Ratu Kadipaten Atlantis itu kan putri bungsu-nya Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya, Sri Aji Jayabaya (titis Sang Hyang Batara Wisnu) beristrikan Dewi Tara (titis Dewi Sri) mempunyai 4 orang anak, yaitu Angling Darma, Jaya Amijaya, Jaya Amisena dan yang bungsu bernama Nimas Pagedhongan.

Diceritakan, Nimas Pagedhongan dikenal juga dengan nama Nimas Angin-Angin, dinamakan Pagedhongan karena waktu kecilnya lebih banyak tinggal di dalam istana/kraton (gedhong) dan mempunyai ajian Sepi Angin (bisa berpindah tempat dalam waktu sekejap), setelah cukup usia dinobatkan menjadi Adipati di Kadipaten Atlantis (sansekerta, yang artinya perempuan cantik) dan bergelar Kanjeng Ratu Gilang Kencana, yang setelah Atlantis di-moksa-kan ini sosok Kanjeng Ratu Gilang Kencana yang kita kenal sekarang dengan nama Kanjeng Ratu Kidul.

Berikut adalah Link bukti-bukti keberadaan Atlantis, dari sandi berasal Nuswantara: Serial “Nuswantara Code of Atlantis Empire”

Klaim tentang penemuan Benua yang disembunyikan (Atlantis), Bisa dilihat dalam urutan 1 chanel
“Atlantis di Indonesia” dengan Link:
http://www.youtube.com/watch?v=HMDQZ3GqdJE&list=PLnYOphQKw9b2_b2mGioTPor-hucTNbNSB

RATU KIDUL Leluhur Prabu Airlangga

Sang Maha Prabu Airlangga (yang juga merupakan titis Sang Hyang Batara Wisnu) dari Kerajaan Kuripan itu 10 generasi di bawah masa-masa-nya Sri Aji Jayabaya (di dalam sejarah sekarang posisi itu dibalik dengan dibikin kesan lebih dulu Airlangga daripada Jayabaya) …jadi sebetulnya dalam hal ini …Kanjeng Ratu Kidul adalah leluhurnya Sang Maha Prabu Airlangga (sumber Timmy Hartadi)

GARUDA—> Kendaraan Wisnu, Lambang Negara REPUBLIK INDONESIA

(burung2 lain juga dipakai sebagai lambang Negara)
Dalam Jawa; Awalnya …sesaat setelah bumi diciptakan, Sang Hyang Wening menciptakan Dang Hyang penjuru bumi …salah satunya adalah Garuda Yaksa Retna Peksi Jala Dara yang bertugas menjaga jagad awang-awang (angkasa) …dalam suatu peristiwa kemudian Garuda Yaksa akhirnya ikut kepada Sang Hyang Batara Wisnu dan dijadikan tunggangannya beliau sampai sekarang <– detail tentang ini ada di document Jagad Gumelar …untuk spesies binatang, menjadi salah satu bagian dari keseharain seorang Dewa adalah pencapaian tertinggi dan kesempurnaan tertinggi sehingga Garuda Yaksa juga dikenal sebagai raja-di-raja-nya burung …dengan fungsi awal sebagai pengawal awang-awang dan tunggangan Dewa Wisnu inilah Garuda dijadikan lambang Indonesia.

Dalam peradaban yang lain sosok Garuda Yaksa inilah yang dikenal juga dengan nama Jatayu …juga selalu terdapat ornamen Garuda Mahambira yang dipahatkan di areal kraton-kraton jaman dulu, mulai dari pahatan di Sitihinggil sampai ornamen di seputar beteng kraton (Timmy Hartadi)

Info ini diperoleh Turangga Seta dengan menanyakan ke Leluhur, pada cara yg ini kita tidak boleh bicara astral, jadi harus ada real, maka leluhur yg ditanya harus mempunyai kriteria: 1.tidak buta huruf pallawa, 2.bisa bahasa sansekerta, 3.tahu lokasi situs yg dimaksud dgn bukti2 lengkap.(sumber Turangga Seta). Adapun penjelasan bukti2 terkait fungsi Turangga Seta menggunakan penjelasan ilmu science (fisika dan kimia dan lain-lain).

KERAJAAN MAJAPAHIT

Kerajaan Majapahit (aslinya bernama Mojopoit) itu bukan hanya ada 5 raja tetapi ada 8 raja (Brawijaya VIII) yang bertahta di tanah Jawa yang di-inisiasi oleh Raden Wijaya (Harya Sedah) seorang pangeran dari Kadipaten Magadha (sekarang Bandung) yang merupakan putra dari Adipati Panjalu yaitu Sang Prabu Siyung Wanara.

Pada saat Adeging Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya memakai gelar Brawijaya, dari bahasa sansekerta Bra = putra, Wi = paling, Jaya = unggul, atau ‘Putra yang Paling Unggul’.

Raden Wijaya atau Sang Maha Prabu Brawijaya I mendirikan Kraton-nya di Sastra Wulan (sekarang lebih dikenal dengan nama Trowulan dari Sastro Wulan).

Tahta kemudian diteruskan oleh putra angkatnya (anak dari Adipati Dandangan) bernama Jayanegara dan bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya II. Posisi kraton masih di wilayah Trowulan tetapi beda lokasi.

Kemudian tahta berikutnya diteruskan oleh Tri Buwana Tungga Dewi yang merupakan putri kandung dari Raden Wijaya, bergelar Sang Maha Ratu Brawijaya III. Letak kraton masih di wilayah Trowulan tapi bebeda lokasi dengan Kraton Brawijaya I dan Brawijaya II.

Berikutnya yang memegang tampuk pimpinan adalah Hayam Wuruk yang merupakan putra angkat dari Jayanegara dan putra kandung dari Sang Maha Patih Gadjah Mada, bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya IV. Letak Kraton awalnya masih di wilayah Trowulan yang kemudian memindahkan Kraton pemerintahannya di wilayah Jombang.

Kemudian tahta Kerajaan Majapahit berikutnya diteruskan oleh Damar Wulan, anak seorang rakyat biasa dari wilayah Probolinggo. Pada saat kecil di-momong oleh Gadjah Mada yang saat itu sudah menjadi pertapa di Madakaripura. Damar Wulan kemudian bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya V atau Kertabumi, mendirikan Kraton-nya di lereng Gunung Kelud di wilayah Puncu – Kediri.

Berikutnya yang meneruskan adalah putra dari Kertabumi yang dikenal dengan nama Bre Pamotan, Bre dari bahasa sansekerta yang artinya keponakan, pada saat usia muda beliau dididik oleh Adipati Pamotan maka kemudian lebih dikenal dengan nama Bre Pamotan dan bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya VI. Letak kraton masih di lereng Gunung Kelud tapi berbeda lokasi dengan Kraton ayahanda-nya.

Setelah itu wahyu keprabon jatuh kepada putranya yang bernama Girincya Wardhana dan lebih dikenal dengan nama Bre Wengker (pada saat usia muda dididik oleh Adipati Wengker atau sekarang yang bernama Ponorogo). Bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya VII dan mendirikan Kratonnya di wilayah Widodaren – Ngawi.

Tahta kemudian berpindah ke putranya, yaitu Pangeran Girindra Wardhana yang sering juga disebut dengan Batara I Kling. Disebut Batara karena kesaktian beliau sudah sekelas Batara, I = dari, Kling = Keling, artinya Batara dari wilayah Keling. Bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya VIII dan letak Kraton-nya ada di daerah Keling di lereng Gunung Kelud.

Pada masa Brawijaya VIII inilah Kerajaan Majapahit surut karena kudeta dari anak angkatnya. Padahal wahyu keprabon sudah jatuh ke tangan putra Bali, yaitu Adipati Asmara Pura (sekarang bernama Semanapura atau Klungkung). Setelah tanah Jawa jatuh, Adipati Asmara Pura tetap mempertahankan wahyu keprabon-nya dan bergelar Sang Maha Prabu Brawijaya IX dengan pusat pemerintahannya ada di Asmara Pura – Bali. Itulah yang membuat kenapa Bali sampai sekarang masih cukup kental tradisi-nya.

Dari proses turunan tahta Kerajaan Majapahit jelaslah bahwa menjadi raja berikutnya tidak selalu harus anak kandungnya. Di Nuswantara siapapun berhak mendapat ‘wahyu keprabon’ sesuai dengan ‘laku’ dan bimbingan dari ‘pamong’ leluhur bangsa, terbukti Damar Wulan yang hanya anak kebanyakan dari rakyat biasa dapat menjadi Raja tertinggi di Nuswantara.

Distorsi juga sangat kental terjadi di sejarah luhur ini, sekarang dikenal oleh umum Kerajaan Majapahit hanya sampai 5 Raja saja, bahkan Kertabumi atau Sang Maha Prabu Brawijaya V tetap ditulis dalam sejarah resmi tetapi nama aslinya yaitu Damar Wulan telah digeser ke mitos.
Dan kalau diteliti lebih mendalam, dalam hirarki asli peradaban Nuswantara sebetulnya tidak ada Kraton yang diwariskan,  karena setiap Raja akan membuat Kraton-nya sendiri dan akan memuliakan Kraton pendahulunya, ini disebabkan karena setiap Raja Nuswantara mempunyai panji-panji-nya sendiri sesuai dengan sosok Dewa yang memomong mereka.

NAMA-NAMA SANGSEKERTA DI DUNIA: 

Berikut juga nama-namaang  Sangsekerta yang berasal dari bahasa di Nuswantara yang tidak ada dalam sankrit india (yg lebih muda, baru ada saat kerajaan Singosari)
Ngawi – Dedza, Malawi, Afrika
Ngawi – Wellington, New Zealand
Semara/Smara – Sahara Barat
Dahana – Afganistan
Dahana – Weld, Ethiopia
Dahana – Safi, Maroko
Magada – Kaduna, Nigeria
Magada – Namutumba, Uganda
Kavala – Grrece/Yunani
Kawali – Gambia
Yoni – Sierra Leone
Godi – Sierra Leone
Dipa – Guienna
Batara – Nigeria
Batari – Papua Nugini
Buwana – Uganda
Sasana – UK –>  52° 1’8.50″N,   0°46’13.54″W
Praia – Cape Verde
Satria – Madagascar
Asmara – Eritrea
Asmara – Tanzania
Tigan – Burkina Faso
Nduk – Nigeria
Gada – Nigeria
Bandar – Iran
Bandar – Tete, Mozambique
Bandar – Afganistan
Bandar – Quaddai, Chad
Bandar – Batha, Chad
Bandar – St. Ann’s, Trinidad & Tobago
Sanyang – Gambia.
Loka – Congo
Giri – Federasi Rusia
Argo – Sudan
Rat – USA, deket Kansas city & Little Rock
Lenga – Congo
Daraa, Dar’a  – Syria
Tugu – Upper Wst & Northern Wsey – Ghana
jarama – Colmenar Viejo, Spain
Gusti – Sessa Aurunca CE, Italy
Garba – Afrika Tengah
Tilem – Iran
Mauda – Polandia
Liman – Katsina, Nigeria
Liman – Antalya, Liman, Turkey
Liman – Rusia
Liman – Israel
Liman – Katsina, Nigeria
Liman – Antalya, Liman, Turkey
Liman – Rusia
Liman – Israel
Bena – Kossi, Burkina Faso
Bena – Cass, MN
Bena – Sikasso, Mali
Bena – Kayes, Mali
Bena – Sierra Leone
Bena – Bolivia
Bena – VIC, Australia
Boko – Sweden
Boko – Bandundu, Congo
Boko – Afganistan
Boko – Bale, Ethiopia
Boko – Extrem Nord & Nord, Cameroon
Boko – Cenre, Cameroon
Boko – Bas-Congo
Boko – Assam India
Soma – Picardie, Perancis
Soma – Turkey
Soma – Fukushima
Soma – San Francisco
Soma – Gambia
Soma – Sierra Leone
Soma – Japan
Buda – Belarusia
Buda – Congo
Buda – Florida
Buda – Illionois
Buda – Colorado
Buda – Texas
Buda – Budy – Polandia
Buda – Ukraina
Wage – wagi – polandia
legi – leg – polandia
Sada – Spain [ 43°21’3.34″N, 8°15’16.60″W ]
Manisa – Turkey
Maya – Moyen-Chari, Chad
Maya – Kalikot, Nepal
Maya – Oqun, Nigeria
Maya – Maradi, Niger
Maya – Venezuela
Maya – Southern Darfur, Sudan
Maya – Colombia
Maya – Orientale, Congo
Maya – WA, Australia
Maya – Cebu, Philliphinnes
Bulan – Kentucky, USA [ 37°18’5.28″N, 83° 9’57.84″W ]
Indre – Indre, Loire-Atlantique, Pays de la Loire, France [ 47°11’57.64″N, 1°40’20.92″W ]
Indra – Russian Federation, Sverdlovskaya oblast, [ 58°27’10.19″N,  65°10’40.86″E ], dekat danau besar ‘Ozero Indra’ dan danau kecil ‘Ozero Malaya Indra’
Indra – Indra, Kraslavas rajons, Latvia [ 55°52’32.29″N, 27°32’1.89″E ]
Endra – Russian Federation, Autonomous district of Khantia-Mansia,
[ 60°42’21.63″N, 67°54’58.76″E ]
Baruna – Iran [ 26° 7’4.30″N, 59°35’3.26″E ]
Nusa – Russian Federation, Tatarstan, [ 56°25’42.67″N, 49°55’38.39″E ]
Yokaton=Yukatan di Mexico
Selo Bima  – Russia
Selo Vanavara – Russia
Astana – Russia
Isfara – Russia
(Sumber Timmy, Turangga Seta)

sumber http://wartafeminis.com

Membongkar Kode Istana Atlantis di Museum TMII

Atlantis IndonesiaSebuah tulisan yang luar biasa dengan didasari pemikiran yang terbuka. Ditulis oleh seorang blogger Indonesia bernama Hazmi Srondol dengan gaya yang ringan namun cerdas.

Dari pada saya nikmati sendiri, eh.. maaf terakhir tercatat 4627 orang pembaca di postingannya di Kompasiana, ada baiknya saya bagi dalam bentuk asli (copasDotcom). Sangat menginspirasi.

Berikut tulisan tersebut yang ia beri judul: Membongkar Kode Istana Atlantis di Museum TMII.

Terkejut luar biasa dengan sebuah penjelasan pendek tentang suku Asmat yang tertempel di dinding dekat pintu masuk Museum Asmat di TMII ini.

Lha siapa yang tidak kaget, plus rasa gembira yang luar biasa. Gembira akhirnya saya mendapatkan referensi lain yang lebih orisinil dan asli sesuai apa adanya tentang suku Asmat di Papua ini. Bukan informasi standar ala wikipedia atau kebanyakan informasi yang beredar di buku atau media massa lainnya.

Harap maklum, sudah terlalu lama bangsa Indonesia ini di kerdilkan. Bertahun-tahun kebesaran masa lampau Nusantara disembunyikan. Jikalau mendadak muncul bukti-bukti kejayaan ini, data dibelokkan persepsinya atau malah sekalian dikaburkan.

Coba cek pandangan bangsa lain tentang Indonesia sekarang ini. Pasti pandangannya ya begitu-begitu saja, dari tubuhnya yang mungil, berkulit gelap yang diidentikan dengan kotor, masyarakatnya yang primitif dan bertelanjang dada kemana-mana dan hal-hal yang negatif lainnya. Semua ini tujuannya sederhana saja—ingin membuat bangsa ini tidak percaya diri dengan kemampuannya.

Jika sudah tidak percaya diri, tentu mudah sekali menjadikan bangsa ini menjadi bangsa terjajah. Baik terjajah secara ideologi, politik, budaya maupun ekonomi. Boro-boro negosiasi—untuk berdehem saja jadi sungkan dihadapan mereka.

Dan di museum Asmat TMII ini, akhirnya saya bisa menemukan salah satu bukti kesengajaan mereka mengkerdilkan bangsa Indonesia ini. Digambarkannya suku Asmat sebagai suku primitif dan kuno. Lebih parahnya—dianggap suku kanibal, pemangsa sesama manusia.

Padahal buktinya apa? Apa hanya karena ada ada foto suku Asmat tidur beralaskan kepala tengkorak manusia? Lha apa bedanya dengan kita yang mungkin kerja atau tinggal di perumahan bekas kuburan atau pemakaman?

Informasi kanibalisme ini pun setelah aku coba telusuri, sungguh mengagetkan. Informasi ini hanya berdasarkan pada kata ‘konon’ dan ‘katanya’ saja. Konon dan katanya dari pendapat suku lainnya. Lebih menyesakkan lagi, cap kanibal ini di perkuat denga kejadian hilangnya satu anggota keluarga Rockefeller– salah satu keluarga terkaya di dunia. Keluarga yang mensponsori dan mendonasikan keuangannya untuk pendirian lembaga terbesar di dunia bernama PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Michael Clark Rockefelle yang melakukan ekpedisi di Papua sekitar akhir tahun 1961 memang hilang, tapi apakah memang betul karena di kanibal suku Asmat? Jangan-jangan hanya hilang karena dicaplok buaya atau diterkam harimau. Atau jangan-jangan malah dibunuh pemandunya yang dari belanda itu hanya gara-gara ongkos hantarnya tidak cocok?

Kalaulah memang hendak dijadikan ‘bahan makanan’, kenapa mesti berulang kali ia ke pedalaman Papua sambil wira-wiri membawa ukiran khas suku Asmat? Belum lagi, banyaknya foto mas Michael ini yang asyik bermain kamera dan dikeliling wajah orang Asmat yang tampak ramah dan tersenyum lepas?

Nah, berita hilangnya ini satu sisi memang mengangkat nama Papua dan Asmat di seluruh dunia. Namun jika dikaitkan dan menjadi cap kanibal tentu merugikan dan berlebihan. Kadang saya jadi gemas dan pengen diadakan penelusuran sejarah yang sangat menyesatkan ini oleh pihak-pihak yang netral dan kompeten.

Sedangkan kita tahu, kasus-kasus kanibalisme di dunia dan di eropa terjadi karena pelakunya menderita penyakit kejiwaan. Sarap tingkat akut. Dan mungkinkah manusia-manusia dengan kejeniusan seni, seni mengukir, ukiran tanpa sketsa namun hasilnya luar biasa? Yang menjadi koleksi hampir semua museum dan rumah seni dunia? Itu disebut sakit jiwa? Oh no, tidak saudaraku sebangsa dan setanah air. Tidaaaaak!

Oke, jika memang masih dianggap suku Asmat primitif hanya gara-gara memakai koteka—yuk kita lihat makna dan filosofi kehidupan suku Asmat yang tertempel di museum Asmat TMII ini. Disana dijelaskan bahwa:

“Orang Asmat sangat menghormati pohon. Bagi mereka, pohon adalah kehidupan. Mereka mengangap dirinya pohon dan sebaliknya, pohon adalah diri mereka. Mereka mengibaratkan akar pohon itu sebagai kaki, batang sebagai badan, ranting sebagai tangan dan buah adalah kepalanya. Itulah alasan mengapa orang Asmat menyebut dirinya sebagai as-asmat yang berarti manusia kayu atau manusia pohon atau asmat-ow, yang berarti manusia sejati.”

Hmm, tunggu. Ini sangat penting dan essensial. Hal yang sangat filosofis dan bukan main-main. Hal yang menyangkut ‘kelas’ manusia dimata Tuhannya. Manusia sejati. Dimana penjelasan tambahannya tertulis:

“Kehidupan orang asmat tidak dapat dipisahkan dengan alam sekitarnya. Mereka meyakini sejatinya manusia itu harus bersatu dengan alam. Mereka pun menyebut dirinya sebagai ‘ow Kanak Anakat’ yang artinya “Akulah Manusia Sejati”…”

Sungguh, saya sempat terdiam lama didepan penjelasan ini. Mendadak teringat Plato yang mengatakan serupa, tentang fungsi akal budi untuk menyelaraskan dengan alam dan menuju ke Sang Baik (Tuhan). Filosofi TAO juga berujung hal yang sama, bahkan filosofi ‘menyatu dengan alam semesta’ dalam ajaran Tao adalah tujuan utama manusia hidup dan menjadi sempurna sebelum bertemu Tuhannya.

Kita juga bisa melihat filosofi menyatu dengan alam ini pun menjadi filosofi utama Bushido (jalan pedang/ksatria) para Samurai (ksatria Jepang). Bagi mereka, ketika mereka sudah ‘menyatu dengan alam’ maka ia akan mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu dan jajaran para Samurai.

Tak heran jika dahulu rakyat Jepang sangat menghindari pembuatan jalan berkelok kelok dan lebih menyukai pembuatan tunnel (terowongan) untuk jalur kereta/transportasi. Mereka khawatir, pembangunan yang menyakiti pohon dengan menebangnya akan berarti menentang alam. Pilihan bijak dan terbukti sukses membawa Jepang sebagai salah satu negara dengan sistem transportasi terbaik di dunia.

Nah, bagi yang masih belum puas dengan pembanding diatas, coba cek lagi istilah ‘moksa’ atau ‘mukti’ dalam ajaran Hindu. Konsep serupa pun terlihat disana. Kondisi penyatuan atman dan brahman menuju kebebasan rohani dan jiwa tanpa keterikatan dengan dunia dan materi. Kondisi yang juga menjelaskan tentang menyatunya manusia dan alam semesta ini sebagai tanda kesempurnaan manusia.

Bahkan dalam dunia tasawuf pun, konsep ma’rifat juga mirip dengan konsep Asmat ini. Pada tingakatan pemahaman spritual manusia, tiap orang mempunyai level tersendiri. Dari terendah yaitu level syariat—dimana seremoni ritual ibadah dan pemahaman terhadap Tuhan hanya berdasarkan text book atau kata-kata yang tertuang pada ayat Al Qur’an semata. Lalu meningkat pada level pemahaman ke hakikat, yaitu pemahaman makna dibalik kata atau arti mendalam dari sebuah ayat Al Qur’an.

Dan akhirnya masuk kedalam level tertinggi yaitu ma’rifat—sebuah kondisi dimana manusia sempurna ibadah syariat-nya, jelas pemahaman hakikatnya dan akhirnya bersatu dengan alam—“berputar” seperti gerakan galaxy dan tata surya sebagai bentuk bertasbih dengan seluruh nafas dan jiwany kepada Tuhan pencipta alam semesta. Dan saat itu adalah saat yang dinanti-nantikan, saat dimana terbukanya hijab (pembatas) antara Tuhan dan mahluknya.

Nah, Jika dikaitkan dengan tingkatan itu—bisa saya artikan bahwa filosofi orang Asmat seperti melompat beberapa tingkat. Langsung ke level tertinggi.

Jadi, masih pantaskah kita yang sama-sama satu bangsa ini menganggap orang Asmat primitif dengan kedalaman filosofi hidupnya? Apakah kita masih merasa jika kita memakai jas dan mereka memakai hiasan ala pohon-pohonan berarti kita lebih canggih daripada mereka? Bisa jadi, kitalah yang masih ‘primitif’ karena dangkal pemahaman esensi kehidupannya dan mudah terbawa opini penjajah.

Sungguh, akhirnya tersisip rasa kagum dengan orang Asmat ini. Bahkan saya sempat saya bertanya-tanya, agaimana pemahaman menyatu dengan alam ini bisa sampai kepada mereka?

Rasanya tak mungkin jika mereka tahu dengan seketika. Ujug-ujug ngerti. Seperti menemukan batu di pinggir jalan saja.

Saya menduga, jauh sebelum kita dan mereka saat ini telah ada peradaban tinggi yang menguasai seluruh wilayah Nusantara ini. Termasuk di wilayah Papua dan suku Asmat didalamnya. Peradaban yang memberikan pengajaran filosofi tinggi kepada leluhur suku Asmat. Peradaban yang telah membuat Nusantara ini sudah begitu teratur dan tertib dengan adat dan istiadatnya. Bahkan kearifan lokal ini tampak mudah menyatu dengan ajaran-ajaran agama baru yang kemudian hari masuk ke wilayahnya.

Dan saya menduga, budaya dan kearifan lokal ini adalah peninggalan kebudayaan yang oleh Plato disebut dengan kebudayaan “ATLANTIS” .

Ya, saya tahu. Sepertinya terdengar bombastis.

Tapi jika melihat banyaknya penemuan baru perihal bukti-bukti keberadaan Atlantis di Nusantara ini, seperti yang tertuang dalam buku Atlantis The Lost Continent Finnaly Found karya Prof. Arisio Santos dari Brazil dan buku biru berjudul EDEN In The EAST karya Prof. Sthepen Oppenheimer dari Oxford University sepertinya memang benar bahwa Nusantara ini memang Atlantis yang hilang. Hilang dengan timeline waktu yang sangat jauh belasan ribu tahun kebelakang.

Apalagi setelah sebagian sejarawan dan arkelog Indonesia berani menggugat penjelasan standar ala penjajah perihal arti relief di Candi Borobudur di Magelang dan Candi Cetho di lereng gunung Lawu. Candi yang merupakan pengisahan ulang sejarah leluhurnya. Dimana jelas terlihat di kedua candi itu gambaran bahwa bangsa-bangsa lain seperti Mesir, Inca, Maya, Indian, Arab, Sumeria, Eropa dan lain sebagainya merupakan bekas wilayah kekuasaaan Atlantis atau Nusantara ini.

Bahkan lebih mencengangkan, banyaknya termuan benda terbang seperti pesawat dan lainnya terdapat dalam relief candi Borobudur dan sikap menghormat dan bersimpuh bangsa-bangsa lain ke nenek moyang kita di Candi Cetho. Hal semakin memperjelas bukti bahwa Nusantara pernah menguasai hampir 2/3 belahan bumi serta kecangihan teknologi bangsa ini. Kebesaran dan kecanggihan sebelum akhirnya tenggelam oleh kesombongan serta “hadiah” mencairnya es dan meletusnya gunung-gunung yang memisahkan nusantara menjadi pulau-pulau terpisah.

Saya mengerti, semakin banyak informasi kebesaran Nusantara ini akan muncul juga informasi tandingan menutupi dan mengaburkannya. Tak perlu saya jelaskan lagi alasannya. Yang pasti, Atlantis identik dengan pusat tambang logam mulia EMAS dan ini sangat berbahaya bagi bangsa lain yang berkepentingan jika sampai muncul kesadaran bersama rakyat Indonesia.

Tambang emas yang sudah terbukti dengan habisnya satu gunung di Papua dan kini sudah ditemukan lagi gunung dengan kandungan emas 10 kali lipat di kepulauan Sumatra.

Saya juga mendadak ingat saat Bung Karno—founding father bangsa ini pernah juga membahas Atlantis ini sekitar 48 tahun yang lalu di markas ALRI Tanjung Priok. Saat itu Bung Karno mengatakan, “ada kupasan yang mengatakan bahwa di selatan Pulau Jawa ini ada satu Pulau besar, yang seperti Nusa Tembini, kepulauan pulau Nusa ini, seperti Nusa Tembini diereh oleh seorang Raja Putri.”

Dimana Raja Putri itu, mempraktekkan hukum matriarchal. Namun, kerajaan Nusa Tembini tenggelam ke dasar laut yang dikenang dengan cerita Nyi Roro Kidul. Menurut bung Karno, kisah Nusa Tembini ini sangat identik dengan kepercayaan orang eropa mengenai kerajaan lautan Atlantis. Walau saat itu Bung Karno tidak ingin Indonesia menganggap kisah ini hanya menjadi cerita mistik belaka. Namun hal ini menjadi orientasi negara agar memperkuat sisi maritim dan kelautannya.

Bahkan sampai presiden penerusnya—Pak Harto mempunyai pandangan yang serupa tetapi beda gaya. Pak Harto memilih menyembunyikan pengetahuan beliau tentang keberadaan ibukota kerajaan Atlantis di Nusantara ini—tepatnya di pulau Jawa. Namun beliau tetap memberikan kisi-kisi berupa peta istana Atlantis yang ternyata berada tidak jauh dari lokasi acara di TMII hari itu (Minggu, 24 Maret 2013). Tempat itu bernama Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Seperti yang kita ketahui, cerita kemegahan istana Atlantis ini sangat menginspirasi siapa saja. Konsep berupa menara tinggi yang menembus awan dan tangga yang melingkar yang pernah menjadi inspirasi Raja Namrud untuk membuat tiruannya bernama menara Babelonia. Konsep bentuknya pun kini juga menginspirasi gedung tertinggi di dunia—Burj Khalifa di Dubai. Namun kebesarannya masih belum bisa menyamai istana Atlantis yang asli.

Menurut kode pak Harto dalam design museum Purna Bhakti Pertiwi yang mirip dengan bentuk nasi tumpengan yang membudaya di era kepemimpinannya, jika kita lihat dengan mengungakan google maps atau wikimapia–terlihat keterkaitan yang kuat antara Gunung Penanggungan di Jawa Timur dengan peta atau kode rahasia dari pak Harto ini.

Dan hal itulah yang juga menjadi dasar ketertarikan yang besar untuk menghadiri acara kunjungan ke museum TMII yang diadakan bersama blogger-blogger lain. Disamping untuk mengikis ketidak-pede-an diri Indonesia terhadap bangsa lain dan titik balik kebangkitan Nusantara. Saya menduga masih banyak kode-kode lain tentang Atlantis yang juga disembunyikan oleh pak Harto di museum-museum TMII.

Syukur-syukur bisa terlibat dalam penemuan emas yang luar biasa banyaknya. Banyak emas yang bukan sebesar gunung lagi namun sebesar pulau. Namun jika belum terbongkar rahasianya, setidaknya saya bisa banyak mengumpulkan bahan untuk membuat novel konspirasi ala Dan Brown yang International Best Seller beneran ini. Cuman masalahnya, kode sudah terlanjur di bahas di artikel ini dan jadi semakin banyak yang tahu. Hal ini berarti mesti bersiap-siap mendapat pesaing baru dalam berburu data–baik dengan penulis atau blogger lain.

Maklum, soal data tulisan novel ini—strategy siapa cepat dapat masih berlaku. Apalagi selama bulan April 2013 ini berlangsung acara besar museum-museum di TMII.

Note:

So… saya berharap apa yang memang menjadi buah pemikiran penulis tersebut khususnya tentang rencana pembuatan novel bisa terwujud. 

Kerajaan Kandis “Atlantis Nusantara”

(Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia)
Oleh: PEBRI MAHMUD AL HAMIDI
Indonesia Atlantis
Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian. Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi
Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.

RINGKASAN

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.

PENDAHULUAN

Nusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-haiyang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantarayang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa(pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi(Kepulauan Jawa).
Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). 
Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).
Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).
Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.
Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.
Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. 
Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.
Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).
Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.
Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.

Nusantara dalam Lintasan Sejarah (TINJAUAN PUSTAKA)

Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan zaman kemerdekaan. 
Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. 
Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar kerajaan. 
Urutan tahun berdiri kerajaan di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Nama Kerajaan
Lokasi Situs
PerkiraanTahun Berdiri
1.
Kerajaan Kandis*
Lubuk Jambi, Riau
Sebelum Masehi
2.
Kerajaan Melayu Jambi
Jambi
Abad ke-2 M
3.
Kerajaan Salakanegara
Pandeglang, Banten
150 M
4.
Kepaksian Skala Brak Kuno
Gunung Pesagi, Lampung
Abad ke-3 M
5.
Kerajaan Kutai
Muara Kaman, Kaltim
Abad ke-4 M
6.
Kerajaan Tarumanegara
Banten
Abad ke-4 M
7.
Kerajaan Koto Alang
Lubuk Jambi, Riau
Abad ke-4 M
8.
Kerajaan Barus
Barus, Sumatra Utara
Abad ke-6 M
9.
Kerajaan Kalingga
Jepara, Jawa Tengah
Abad ke-6 M
10.
Kerajaan Kanjuruhan
Malang, Jawa Timur
Abad ke-6 M
11.
Kerajaan Sunda
Banten-Jawa Barat
669 M
12.
Kerajaan Sriwijaya
Palembang, Sumsel
Abad ke-7 M
13.
Kerajaan Sabak
Muara Btg. Hari, Jambi
730 M
14.
Kerajaan Sunda Galuh
Banten-Jawa Barat
735 M
15.
Kerajaan Tulang Bawang
Lampung
771 M
16.
Kerajaan Medang
Jawa Tengah
820 M
17.
Kerajaan Perlak
Peureulak, Aceh Timur
840 M
18.
Kerajaan Bedahulu
Bali
882 M
19.
Kerajaan Pajajaran
Bogor, Jawa Barat
923 M
20.
Kerajaan Kahuripan
Jawa Timur
1009 M
21.
Kerajaan Janggala
Sidoarjo, Jawa Timur
1042 M
22.
Kerajaan Kadiri/Panjalu
Kediri, Jawa Timur
1042 M
23.
Kerajaan Tidung
Tarakan, Kalimantan Timur
1076 M
24.
Kerajaan Singasari
Jawa Timur
1222 M
25.
Kesultanan Ternate
Ternate, Maluku
1257 M
26.
Kesultanan Samudra Pasai
Aceh Utara
1267 M
27.
Kerajaan Aru/Haru
Pantai Timur, Sumatra Utara
1282 M
28.
Kerajaan Majapahit
Jawa Timur
1293 M
29.
Kerajaan Indragiri
Indragiri, Riau
1298 M
30.
Kerajaan Panjalu Ciamis
Gunung Sawal, Jawa Barat
Abad ke-13 M
31.
Kesultanan Kutai
Kutai, Kalimantan Timur
Abad ke-13 M
32.
Kerajaan Dharmasraya
Jambi
1341 M
33.
Kerajaan Pagaruyung
Batu Sangkar, Sumbar
1347 M
34.
Kesultanan Aceh
Banda Aceh
1360 M
35.
Kesultanan Pajang
Jawa Tengah
1365 M
36.
Kesultanan Bone
Bone, Sulawesi Selatan
1392 M
37.
Kesultanan Buton
Buton
Abad ke-13 M
38.
Kesultanan Malaka
Malaka
1402 M
39.
Kerajaan Tanjung Pura
Kalimantan Barat
1425 M
40.
Kesultanan Berau
Berau
1432 M
41.
Kerajaan Wajo
Wajo, Sulawesi Selatan
1450 M
42.
Kerajaan Tanah Hitu
Ambon, Maluku
1470 M
43.
Kesultanan Demak
Demak, Jawa Tengah
1478 M
44.
Kerajaan Inderapura
Pesisir Selatan, Sumbar
1500-an M
45.
Kesultanan Pasir/Sadurangas
Pasir, Kalimantan Selatan
1516 M
46.
Kerajaan Blambangan
Banyuwangi, Jawa Timur
1520-an M
47.
Kesultanan Tidore
Tidore, Maluku Utara
1521 M
48.
Kerajaan Sumedang Larang
Jawa Barat
1521 M
49.
Kesultanan Bacan
Bacan, Maluku
1521 M
50.
Kesultanan Banten
Banten
1524 M
51.
Kesultanan Banjar
Kalimantan Selatan
1526 M
52.
Kesultanan Cirebon
Jawa Barat
1527 M
53.
Kesultan Sambas
Sambas, Kalimantan Barat
1590-an M
54.
Kesultanan Asahan
Asahan
1630 M
55.
Kesultanan Bima
Bima
1640 M
56.
Kerajaan Adonara
Adonara, Jawa Barat
1650 M
57.
Kesultanan Gowa
Goa, Makasar
1666 M
58.
Kesultanan Deli
Deli, Sumatra Utara
1669 M
59.
Kesultanan Palembang
Palembang
1675 M
60.
Kerajaan Kota Waringin
Kalimantan Tengah
1679 M
61.
Kesultanan Serdang
Serdang, Sumatra Utara
1723 M
62.
Kesultanan Siak Sri Indrapura
Siak, Riau
1723 M
63.
Kasunanan Surakarta
Solo, Jawa Tengah
1745 M
64.
Kesltn. Ngayogyakarto Hadiningrat
Yogyakarta
1755 M
65.
Praja Mangkunegaran
Jawa Tengah-Yogyakarta
1757 M
66.
Kesultanan Pontianak
Kalimantan Barat
1771 M
67.
Kerajaan Pagatan
Tanah Bumbu, Kalsel
1775 M
68.
Kesultanan Pelalawan
Pelalawan, Riau
1811 M
69.
Kadipaten Pakualaman
Yogyakarta
1813 M
70.
Kesultanan Sambaliung
Gunung Tabur
1810 M
71.
Kesultanan Gunung Tabur
Gunung Tabur
1820 M
72.
Kesultanan Riau Lingga
Lingga, Riau
1824 M
73.
Kesultanan Trumon
Sumatra Utara
1831 M
74.
Kerajaan Amanatum
NTT
1832 M
75.
Kesultanan Langkat
Sumatra Utara
1877 M
76.
Republik Indonesia
Kepulauan Nusantara
17-8-1945
Sumber: http://www.wikipedia.com (dengan olahan), *Tahun berdiri berdasarkan tombo adat


Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1 diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.

Kerajaan Melayu Tua di Jambi

Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. 
Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera (Wikipedia, 2009).
Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.
Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.
Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama.
Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.

Kerajaan Kepaksian Sekala Brak

Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.
Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.
Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.

Mitologi Minangkabau

Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.
Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).
Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).
Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).
Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama sabilullah.
Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.
Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.

Mitologi Lubuk Jambi

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.
Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau), sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.
Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.
Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. 
Data yang didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis

Analisis topografi yang dilakukan pada peta satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau). Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh. Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat, dengan topografi perbukitan.
Gambar 1 Hipotesa Lokasi Istana Dhamna
Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan (Gambar 2)
Gambar 2 Batu Karst
 diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan
Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak bukit (Gambar 2). Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap, sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti tiang batu yang diduga bekas menara istana. 
Gambar 3 Batu Karst
yang memenuhi puncak bukit
Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup (Gambar 3).
Gambar 3 Mulut goa
yang diduga pintu masuk istana
Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air.  Sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m, teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan 1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini berdasarkan perkiraan di lapangan dan pengukuran di peta satelit. Untuk mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.
Gambar 4 Sketsa Lokasi situs kerajaan Kandis
Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani “Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. 
Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk Jambi.
Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau disinggahi manusia dulunya.

Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi

Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi, kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang. Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. 
Lain halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi. Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.
Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.

Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis

Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.
Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias” memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.
Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain, Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.
Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato. Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.
KESIMPULAN
Dari penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
  • Bukit yang terletak pada 0042’58 LS dan 101020’14 BT diduga sebagai situs peninggalan Kandis yang dimaksudkan didalam tombo/cerita adat.
  • Kerajaan Kandis diduga sebagai peradaban awal di nusantara.
  • Kerajaan Kandis merupakan replika dari kerajaan Atlantis yang hilang.
 Kesimpulan ini masih bersifat dugaan atau hipotesa untuk melakukan penelitian selanjutnya. Oleh karena itu penelitian arkeologis akan menjawab kebenaran dugaan dan kebenaran tombo/mitos yang ada ditengah-tengah masyarakat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemangku Adat Kenogorian Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo, Syamsinar Dt. Rajo Suaro, Danial Dt. Mangkuto Maharajo Dirajo, Sualis Dt. Paduko Tuan, dan Hardimansyah Dt. Gonto Sembilan), Drs. Sukarman, Mistazul Hanim, Nurdin Yakub Dt. Tambaro, Abdul Aziz Dt. Dano, Bastian Dt. Paduko Sinaro, Ramli Dt. Meloan, Marjalis Dt. Rajo Bandaro, dan Syaiful Dt. Paduko. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Meutia Hestina, Apriwan Bandaro, dan teman-teman yang membantu penulis dalam ekspedisi: Mudarman, bang Sosmedi, Yogie, Nepriadi, Zeswandi, bang Izul, Diris, Ikos, dan Yusran. Mas Sam dan Erli terima kasih atas informasinya.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.
  2. Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
  3. Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.
  4. Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.
  5. Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.
  6. Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.
  7. Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.
  8. Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.
  9. Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.
  10. Koordinator Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau
ANTARA CERITA DAN FAKTA
Sumber : http://yasirmaster.blogspot.com/2011/06/kerajaan-kandis-atlantis-nusantara.html

Bukti, Atlantis Itu Indonesia

Bukti Alantis itu Indonesia
Photo ilustrasi   | apasihitu.com

X Magazine | INDONESIA ATLANTIS | Membuka tabir yang menghubungkan Atlantis dengan Indonesia memang mengasikkan. Cerita indah tentang masa kejayaan peradaban pada suatu massa “apalagi di Indonesia” seolah mampu menyirami hati yang hampir sebagian masyarakat kita belakangan ini terpuruk karena berbagai persoalan bangsa.

Setidaknya, berdasarkan pemikiran saya, cukup memotivasi dan menambah rasa percaya diri agar berani bermimpi tentang hal-hal besar yang dalam kurun waktu panjang jarang dilakukan masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia pernah bermimpi besar dan terbukti menjadi nyata. Yakni ketika mengimpikan untuk merdeka dari tangan penjajah di saat segala sesuatunya boleh dianggap tidak memungkinkan. Dan, entah kenapa lama-kelamaan malah semakin redup.

Atau memang kita perlu sosok-sosok seperti pendahulu kita, sosok seperti Soekarno Presiden pertama Indonesia. Sosok yang berani mangajak masyarakat nya untuk bermimpi besar. Sehingga tumbuh menjadi keyakinan.

Kenapa harus tumbuh menjadi keyakinan? Karena keyakinan lah yang membuat segala sesuatu itu menjadi nyata. Keyakinanlah yang membuat sesuatu bisa menjadi pasti. Keyakinan lah yang mampu mengalahkan hukum logika.
Sekali lagi, keyakinanlah inti dari berbagai penciptaan yang dilakukan manusia. Keyakinan lah yang harus dimiliki manusia untuk mampu melakukan berbagai hal. Keyakinan lah yang memunculkan sumber daya maha tinggi sang pencipta sehingga bisa dirasakan manusia.
Keyakinan pula yang membuat buah dari pemikiran-pemikiran yang ghaib menjadi nyata. Banyak agama, banyak aliran kepercayaan, banyak ajaran-ajaran, ilmu, dan lainnya, menekankan tumbuhnya sebuah keyakinan sehingga mampu melihat dan merasakan keberadaanya.

Ah.. Jadi terlalu panjang mukadimanya. Dan intinya untuk postingan kali ini, lebih kepada menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri kita sebagai bangsa besar dan mampu untuk berbuat hal-hal besar.

Indonesia adalah pewaris masa kejayaan Atlantis dan keyakinan masyarakat Indonesia itu sendirilah yang nantinya akan mewujudkan bahwa kejayaan itu bisa kembali menjadi nyata. Syarat sebagai bangsa besar dan berjaya, pada dasarnya di miliki benar oleh alam Indonesia. Negeri makmur nan subur dengan berbagai potensi alam yang kaya dan berlimpah ruah.

Tidak akan ada sebuah bangsa, golongan, kelompok, atau persatuan yang mampu menahannya ketika keyakinan itu muncul. Bahkan, tangan tuhan pun akan muncul untuk segera membuatnya menjadi nyata.

Untuk sekedar menambah keyakinan itu, saya kutip dari http://sosbud.kompasiana.com/ sebuah artikel yang berjudul “Cendana, Cengkeh, Pala sebagai Pembuka Tabir Misteri Geografis Atlantis yang Hilang”

Artikel yang di tulis oleh Chris Boro Tokan ini cukup memikat dan membuat pemikiran kita seolah menjelajah kembali kemasa silam. Sebenarnya, jika kita ingin sekali lagi melihat di sekeliling kita, bukti nyata syarat bangsa Indonesia menjadi besar itu sebenarnya lengkap.

Chris Boro Tokan menulis bahwa:

Adalah seorang Munandjar Widiyatmika menegaskan bahwa atas dasar pemberitaan tertulis perdagangan cendana yang berlangsung sekitar awal abad Masehi, secara tidak langsung merupakan bukti mulainya masa sejarah Nusa Tenggara Timur. Cendana yang sangat laku di pasaran dunia adalah hasil dari bumi Nusa Tenggara Timur. Memang cendana juga dihasilkan oleh beberapa pulau di wilayah Oceania, namun cendana dari wilayah tersebut baru masuk pasar internasional setelah orang barat mencapai wilayah tersebut (Dalam Karyanya LINTASAN SEJARAH BUMI CENDANA, Thn 2007), hal 18-19.

Begitupun Cengkeh dan Pala terkenal di dunia sebagai rempah-rempah yang dicari orang Barat (Eropa), merupakan komoditi yang tidak ada dua-nya di bumi ini, menjadi ciri wilayah kepulauan Maluku. Membuat para petualangan rempah-rempah terkecoh dengan Semenanjung Malaya (Malasya) yang saat itu hanya sebagai bandar perdagangan, menamakan Malaka untuk Selat yang meghubungkan Pulau Sumatra dengan Semenanjung Melayu.

Sesungguhnya nama Malaka itu milik Maluku (Indonesia), karena nama itu asalnya dari kata Mollucas yang berarti Rempah-rempah (Bandingkan Arysio Santos : ATLANTIS The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005), diindonesiakan (2009) plus subjudul: INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA, hal. 236).

Spanyol vs Portugis, Portugis vs Belanda

Sedemikian masyurnya cendana putih dari NTT dan rempah-rempah dari Maluku, sehingga konon para pedagang Melayu suka berkata, “Tuhan menciptakan NTT untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkeh”. Karena kemasyuran Cengkeh dan Pala membuat di antara bangsa Barat (Spanyol dan Portugis) bertikai untuk memperebutkan wilayah ini yang melibatkan Vatikan (Sri Paus) turun tangan melerai. Begitupun kewangian Cendana, juga Cengkeh dan Pala yang tidak ada dua-nya di dunia, belakangan membuat bangsa Belanda bertikai dengan bangsa Portugis di bumi Maluku berujung di bumi NTT.

Tercatat dua orang Paus di era masing-masing mereka menduduki Takhta Suci Vatikan, memediasi Perjanjian untuk mengakhiri konflik Spanyol versus Portugis (Dalam Rene Albrecht-Carrie, Europe 1500 – 1848, Copyright 1962 By Liitlefield, Adams & Co, Paterson, New Jersey, hal. 43). Adalah Paus Pius Alexander VI turun tangan menengahi melalui Perjanjian Trodisillas 1494, berisi: 1, Bangsa Portugis mendapat dunia kafir sebelah Timur, sedangkan dunia kafir sebelah Barat diserahkan kepada Spanyol. 2, Garis demarkasi kedua daerah ini ialah garis meridian 370 mil sebelah Barat pulau-pulau Tanjung Verde (Tanjung Hidjau).

Campur tangan Sri Paus untuk melerai pertikaian atas dua negera kolonial katolik ini, dapat diapahami dalam misi yang diemban oleh masing-masing negara antara lain tugas suci (ghospel). Tugas suci untuk menyebarkan agama Kristen kepada penduduk dunia, selain meningkatkan kedigdayaan negara dengan menaklukan dan menemukan daerah baru (glory), serta memperoleh emas dan rempah-rempah (gold) dari daerah baru yang ditemui dan ditaklukan. Belakangan muncul bangsa Belanda dalam pertikaian di wilayah cendana dan rempah-rempah versus bangsa Portugis.

Dengan demikian dapat terpahami, bahwa usaha bangsa Barat melakukan petualangan pelayaran yang melegenda seperti Amerigo Verpuci, Marco Polo, Magelhaens, Vasco da Gama, Christoforus Columbus untuk menemukan daerah baru, menaklukan/menjajah wilayah bangsa lain, senantiasa untuk tugas suci keagamaan (Ghospel). Selain demi keharuman nama negara masing-masing (Glory), juga untuk urusan menemukan sumber ekonomi yakni emas dan rempah-rempah (Gold), diakronim dengan sebutan: 3G. Rempah-rempah dan emas, antara lain menjadi pembuka tabir geografis pencarian surga empirik yang hilang (Atlantis yang hilang). Karena sesungguhnya petualangan pelayaran dalam mengelilingi dunia oleh Bangsa Barat itu hendak menemukan surga empirik yang hilang itu.

Perjanjian Trodisillas bagi kedua bangsa yang bertikai, belum menjamin kepastian kekuasaan mereka di Wilayah kepulauan Maluku. Masing-masing mereka (Spanyol dan Portugis) mengklaim berhak atas wilayah rempah-rempah itu. Memaksa Paus Clemens VII memediasi melalui Perjanjian Saragoza tahun 1529, bahwa: 1, Bangsa Spanyol tidak boleh menginjak kepulauan Maluku lagi. 2, Sebagai ganti rugi bangsa Spanyol mendapat 350.000 crusados. 3, Kepulauan Filipina dikuasakan kepada orang Spanyol.

Namun kurang lebih se abad kemudian, yakni 25 Februari 1605, Bangsa Belanda menduduki Benteng Porutgis di Pulau Ambon (Maluku), memaksa orang-orang Portugis berpindah. Sebagian berpindah ke Philipina, dan sebagiannya menuju benteng pertahanan mereka di pulau Solor. Belakangan menjadi pertikaian bangsa Portugis dengan bangsa Belanda memperebutkan wilayah wewangian cendana bumi NTT. Pertikaian ini diatasi melalui Traktat Lisabon tanggal 20 April 1859, berisi: 1, Portugis menyerahkan haknya atas kepulauan Solor dan Kepulauan Qalliau. 2, Portugis melepaskan haknya atas Pulau Timor, kecuali bagian Timurnya. 3, Portugis mendapat pergantian kerugian sebesar 200.000 gulden dari negeri Belanda. 4. Belanda harus menjamin perawatan rochani umat Kristen Katolik di kepulauan Solor, Kepulauan Qalliau dan pulau Timor bagian Barat (Bandingkan Martinus Luli Hada dalam Skripsi ADONARA MENENTANG IMPERIALIS, 1974, hal. 13-14, dan 28).

Pertikaian bangsa Spanyol vs bangsa Portugis memperebutkan wilayah Maluku, pertikaian bangsa Portugis vs bangsa Belanda memperebutkan wilayah Maluku dan NTT, menandakan betapa penting ke dua wilayah ini bagi bangsa Eropa. Pertikaian disebabkan oleh Cendana, Cengkeh dan Pala, selain itu juga strategisnya wilayah ini dalam pelayaran samudra tempo dulu. Strategisnya perairan laut Maluku menjadi pintu masuk dari samudra Pasifik, sedangkan perairan NTT dalam posisi pintu masuk dari samudra Hindia. Dengan demikian jalur kepulauan Maluku menjadi penghubung dari Timur (gerbang masuk dari samudra Pasifik) untuk menuju ke Barat (melalui samudra Hindia). Begitupun sebaliknya kepulauan NTT menjadi penghubung dari Barat (gerbang masuk dari samudra Hindia) menuju ke Timur (melalui samudra Pasifik).

Pembuka Tabir Misteri Atlantis yang Hilang, tempat Matahari Terbit dan Terbenam

Misteri tentang Atlantis yang Hilang dalam polemik berabad-abad melalui kajian para pengarang yang berlandaskan warisan gagasan Filsuf Besar Yunani, Plato (dalam Timaeus dan Critias), terbuktikan berada di wilayah Indonesia. Pembuktian itu melalui kajian Arysio Santos (hal. 68-280, 533-554), yang menegaskan bahwa dari sekian wilayah di dunia yang diselidiki sebagai lokasi Atlantis yang hilang (surga empirik yang hilang) itu, ternyata wilayah Indonesia yang memenuhi persayaratan.

Meneguhkan penandasan Arysio Santos mengenai wilayah Indonesia yang sesungguhnya menjadi wilayah Atlantis yang Hilang, tentunya posisi geografis Kepulauan Nusa Tenggara (NTB dan NTT) dan Kepulauan Maluku menjadi sangat penting, sebagai pembuka tabir misteri Surga Empirik yang hilang itu. Seperti elaborasi Arysio Santos terhadap sebutan Pulau versi Plato, yakni nesos dalam bahasa Yunani, sesungguhnya merujuk kepada pulau-pulau versi dunia di Indonesia. Kata nesos berarti tanah yang tenggelam dari kata dvipa yang digunakan oleh orang-orang Hindu, berarti juga benua (hal. 22).

Telusuran lebih jelas tentang kata insula dari bahasa Latin dan kata nesos dari bahasa Yunani, pada dasarnya dari kata incu bahasa Dravida, berarti tanah yang berair, rawa. Menurut Diodorus Siculus, atlantis yang tenggelam dalam rawa Tritonides, sekaligus menegaskan bahwa Atlantis adalah benua yang tenggelam. Berikut kiasan untuk surga atalantis yang hilang dikenal dengan Taman Hesperides (atau Atlantides) sesungguhnya bermakna taman yang memiliki dua perairan dari bahasa Dravida yang merujuk makna kata dvipa=dvi-ap, berarti memiliki air di kedua sisi(hal 22-23).

Tercermati makna dua perairan dari kata dvipa=dvi-ap (bahasa Dravida) itu merujuk kepada perairan samudra Pasifik dengan samudra Hindia. Dua perairan yang menjadi gerbang masuk dari Timur menuju Barat atau dari Barat menuju Timur. Gerbang masuk, oleh Plato menegaskan sebagai salah satu indikator geografis terletak Benua Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang). Merujuk keyakinan Buddha Amitabha menandaskan bahwa itu wilayah sesungguhnya Surga Buddha tempat Matahari Terbit, yakni di Barat (Arysio Santos, hal. 36).

Dapat termaklumi bahwa Barat yang dimaksudkan sebagai tempat Surga Buddha itu, sesungguhnya Barat Terjauh (Kepulauan Nusa Tenggara), dan di situ juga Timur Terjauh (Kepulauan Maluku). Kedua wialayah ini terletak pada poros bumi, dua ujung terjauh dunia bertemu: yakni penyatuan ujung Timur dan ujung Barat dari Bumi. Timur Terjauh dan Barat Terjauh menunjuk kepada satu wilayah/ satu lokasi dalam pengertian purba. Mengingat Bumi berbentuk bulat, sehingga ujung Timur Terjauh dan ujung Barat Terjauh itu menyatu menjadi satu tempat/satu wilayah (Arysio Santos, hal.27-28). Wilayah itu adalah terbit dan terbenamnya Matahari, lokasi Surga Empirik yang Hilang, tempat Taman Eden (Kebun Firdaus yang Hilang), ibukota kekaiseran Atlantis yang Hilang.

Timur Terjauh menjadi wilayah kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah (Cengkeh dan Pala), komoditi yang tidak ada duanya di bumi. Barat Terjauh dalam hal ini Nusa Tenggara Timur wilayah penghasil Kayu Cendana yang kualitas kewangiannya sampai kekinian tidak tertandingi di dunia. Wilayah penghasil rempah-rempah dan bahan wewangian antara lain menjadi bagian fakta flora penegasan gagasan Plato tentang ciri Benua Atlantis yang Hilang (Arysio Santos,hal. 134). Dengan demikian fakta flora dan fakta letak geografis tentang Benua Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang), seperti yang digagaskan Plato dan dielaborasi Arysio Santos, sulit terbantahkan untuk menempatkan Nusa Tenggara dan Maluku sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus sebagai bukti nyata bahwa Atlantis yang Hilang itu menjadi pewaris yang syah: adalah Indonesia.

Memang, jasa almarhum Arysio Santos untuk membuktikan Indonesia sebagai ahli waris syah wilayah Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang), tidak dapat tertandingi dan sulit untuk dibantah oleh siapapun. Namun penegasan lokasi Selat Sunda dan Pulau Sumatra menjadi penunjuk poros tentang ibukota kekaiseran Atlantis yang Hilang itu (hal. 533-554), terletak di Pulau Sumatra atau Taprobane (sebutan purba untuk pulau Sumatra), tentu masih harus dikaji secara cermat. Pengkajian secara cermat, demi pembuktian lokasi Matahari Terbit dan Matahari Terbenam, yakni Timur Terjauh dan Barat Terjauh. Karena di tempat Matahari Terbit dan Matahari Terbenam itu, sesungguhnya poros Taman Eden (Kebun Firdaus), sekaligus ibukota Kekaiseran Surga Empirik yang Hilang (Atlantis yang Hilang).***  Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, Tanggal 2 Mei 2011. 

Oke terimakasih Chris Boro Tokan telah menyibukkan diri, berpikir, dan meluangkan waktunya untuk membaca lalu menulis. Mencari pembuktian dan pembenaran tentang Indonesia sebagai pewaris kejayaan Atlantis.

Tidak lah layak lagi kita untuk memungkiri tentang hubungan Atlantis dengan Indonesia. Malah yang perlu dilakukan adalah berupaya mempercayainya dan menumbuhkan keyakinan di diri kita tentang hal itu. Sehingga kebesaran yang pernah hilang itu bisa muncul lagi.

Sekali lagi, yang kita butuhkan hanyalah keyakinan. Bahkan keyakinan bisa melampaui logika. Contoh kasarnya, seberapa banyak masyarakat Indonesia yang mampu melampaui logika, seperti kebal dari senjata tajam atau lainnya.

Keyakinan seperti itulah yang kita butuhkan untuk mampu bangkit keluar dari logika seperti mewujudkan mimpi kita mampu bebas dari penjajah zaman dulu. Bermimpilah.. Yakinilah… Niscaya tangan tuhan akan mewujudkannya…

Indonesia Truly Atlantis

INDONESIA TRULY ATLANTIS
INDONESIA TRULY ATLANTIS

xmagazine—Ingat iklan pariwisata Malaysia yang cantik itu ? Malaysia, Truly Asia…

Banyak orang kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih banyak dijumpai di pelbagai wilayah Indonesia dari pada di Malaysia. Bahkan lebih dari itu!Yah, kita selalu ‘keduluan’ oleh mereka.

Hal lain yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah manakala ada yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika atau di luar negeri yang tidak mengenal Indonesia. Katanya, mereka tahu Bali, tapi Indonesia itu dimana?…., ‘konon tanya mereka’.

Tapi perkembangan terbaru sebenarnya sangat berbeda; mempromosikan Indonesia akhir-akhir ini mestinya ibarat mendayung perahu ke hilir, yang didorong arus sungai dari belakang. Banyak kemudahan yang didapat secara gratis.

Atau bisa juga di ibaratkan, mendorong mobil di jalan yang menurun. Tinggal dorong dengan jari telunjuk, langsung meluncur dengan cepat. Kenapa bisa begitu? Kenapa Indonesia bisa mendunia?

Sekali lagi bukan karena banyaknya bencana alam atau huru-hara. Apalagi teroris. Hal ini dapat terjadi terutama karena ulah Prof. Arysio N. dos Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.

Di buku phenomenal hasil penelitian saintis asal Brazil itu secara tegas menyatakan bahwa; Atlantis negeri eden nan penuh misteri yang hilang itu sudah ditemukan. Benua bernuansa dongeng yang pertama kali di ucapkan Plato tersebut, menurut Arsio Santos itu ternyata Indonesia!

Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa.

Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan, guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis pada masa itu.

Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Caribea, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata. Atau misteri yang abadi.

Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah.

Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya. Dia mengatakan, bahwa ia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini.

Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.

Yang jelas, Santos telah di untung oleh penemuan versi nya ini. Bahkan, beberapa waktu lalu, dalam sebuah situs disebut bahwa bukunya saat ditanya di ‘Amazon.com’ pernah habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah situs di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visits. Bahkan terus bertambah.

Indonesia sendiri, sebagai objek penelitian Santos sebenarnya juga dapat diuntungkan dalam hal tersebut. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana besar.

Sebagaimana dapat diikuti dari websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World).

Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.

Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.

Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.

Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .

Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Lihat Gambar 1.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat.. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.

Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.

Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian.

Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.
Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu.

Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.

Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!).

Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.

Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.

Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi suci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.  Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia.

Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.

Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik.

Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain.

Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.

Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia.
Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.

Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas. 

Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.

Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.

Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.

Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ?

Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini? Dan akan membuat Indonesia menjadi perhatian dunia!

Apatis
Rata-rata para pakar Indonesia malah cenderung tidak mau atau belum mau mempercayai hal tersebut. Beberapa diantaranya, menyatakan perlu pembuktian lebih lanjut. Bahkan sebagian dari masyarakat Indonesia kemungkinan besar cenderung mencemooh penemuan tersebut.

Demikian juga dengan pemerintah Indonesia, belum ada tanda-tanda menyambut baik dan memanfaatkan moment tersebut. Apalagi melakukan langkah-langkah nyata menjadikan Atlantis sebagai icon Indonesia yang kemudian mengklaim hal tersebut.

Atau minimal mencoba merenung penyebab Atlantis dulu hancur: penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya seperti sekarang ini. Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti, kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

Khususnya bagi warga Minang atau Sumatera Barat, ada juga ‘utak-atik’ yang bisa dilakukan.

Santos mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa berbagai kisah tentang negara bak ‘surga’ yang kemudian menjadi hilang, bencana banjir besar, letusan gunung berapi, dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah berbagai bangsa di seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya.

Apa pula kata Tambo Minangkabau tentang ranah Minang zaman dulu?“….Pada maso sabalun babalun balun, urang balun pinangpun balun, samaso tanah ameh ko sabingkah jo Simananjuang, kok gunuang baru sabingkah batu, tanah darek balun lai leba……, lah timbua gunung Marapi” (Pada masa serba belum, orang belum pinangpun belum, semasa tanah emas ini masih menyatu dengan Semenanjung, gunung baru sebingkah batu, tanah daratan belum lebar, sudah timbul gunung Merapi).
Ada lagi “…waktu bumi basintak naiak, lauik basintak turun…” (Sewaktu daratan bergerak naik, laut bergerak turun). ‘………Samaso tanah ameh sabingkah jo Simananjuang’ , ini adalah masa sewaktu Atlantis masih exist.

Konon kabarnya pula, sejumlah menhir yang berjumlah 800an buah di Mahat posisinya menghadap kearah matahari terbit, atau kearah Timur. Arah Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa bumi.
Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam kisah Atlantis, yang disebut sebagai Taprobane.
Dulu Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat ukuran besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah Sumatera yang dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang termasuk gajah. Itulah kira-kira teori Santos secara sangat ringkas.

Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Santos http://atlan. org/ atau membeli bukunya yang kemungkinan besar telah dicetak ulang oleh penerbit ‘Amazon.com’.

Potensi Indonesia
Jelas sudah bangsa Indonesia jauh lebih hebat dibandingkan bangsa Yahudi, Arab, Eropa dan semua bangsa karena alasan inilah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam warna kulit dan amat sangat besar. Dimana jika bersatu dan mampu memanfaatkan setiap potensi yang ada, baik sumber daya alam maupun berbagai warisan budaya, seni dan lainnya, maka sangat ditakuti dan menjadi super power dunia.

Sejarah mencatat, nenek moyang Indonesia atau nusantara ini, jauh sebelumnya pernah mencapai masa kejayaannya. Selain situs-situs prasejarah yang banyak ditemui, juga terdapat bukti nyata dan tercatat sebagai salah satu ke ajaiban dunia adalah candi borobudur.
Masihkah masyarakat Indonesia tidak mau mempercayainya?
Note Xmagazine:
Dunia adalah alam dongeng dan impian. Dimana segala sesuatunya dapat menjadi kenyataan jika ada keyakinan. Dan Nusantara, atau saat ini di sebut sebagai Indonesia, pendudukanya adalah manusia yang mampu melampaui berbagai ketidak mungkinan. Bahkan mampu melawan logika manusia.

Diberbagai negara maju, beberapa dekade ini, menyatakan bahwa telah mampu membuat penemuan-penemuan baru secara saintis. Neotech, quantum teleporter, dan lainnya.

Neotech, bagi Indonesia adalah ilmu ‘klenik’ yang pernah dimiliki oleh para leluhur bangsa ini. Dan saat ini cenderung telah ditinggalkan. Bahkan, bagi bangsa Indonesia, beberapa ketidak mungkinan secara logika-bagi bangsa Barat, adalah kebudayaan dan semacam permainan yang menghibur.

Sebut saja salah satu contohnya, seni kebudyaan ‘debus’, kebal senjata tajam, kulit atau anggota tubuh yang mempu ditembus benda tajam dan tidak menimbulkan luka. Bagi bangsa luar yang merupakan hal tidak mungkin secara logika, bagi Indonesia adalah biasa.

Quantum teleporter, bagi bangsa-bangsa maju dan dinyatakan temuan baru. Bagi bangsa Indonesia itu adalah memindahkan benda atau sesuatu ketempat lain tanpa di sentuh. Lalu masyarakat Indonesia bisa saja menyebutnya semacam ‘santet’.

Kencendrungan bagi sebagian besar masyarakat bangsa Indonesia adalah belajar dan berkiblat dengan bangsa lain. Berpikir dan meyakini bahwa bangsa lain lebih hebat dari bangsanya sendiri. Berupaya penuh untuk meniru dalam banyak hal.

Kecendrungan  ini telah terjadi sejak lama sekali. Sehingga secara perlahan Bangsa besar dengan wilayah yang besar tersebut secara perlahan kehilangan jadi diri sendiri.

Bangsa Indonesia seolah mengadopsi ilmu demokrasi dari luar. Padahal, sejatinya, demokrasi telah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya. Hal ini  terbukti dengan tumbuhnya berbagai macam agama-agama dan besar di Nusantara.

Indonesia kaya dengan budaya dan aneka ragam pemikiran. Indonesia telah bebas berpikir dan menentukan cara berpikir jauh-jauh sebelumnya.  Indonesia adalah Pancasila.

Namun, kemudian, mayoritas dari masyrakat bangsa Indonesia saat ini, tidak berani bermimpi. Dan cenderung kehilangan keyakinan sebagai bangsa yang mampu menerobos ketidak mungkinan bagi bangsa lain dan mungkin bagi bangsa Indonesia. Jati diri Indonesia. Bahkan malah merasa rendah diri atau tidak percaya diri.

Indonesia Truly Atlantis
Teori dan hasil penemuan Santos, mungkin ada benarnya jika merujuk pada jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya. Atau jika pun itu hanya dongeng Plato yang kemudian oleh profesor asal Brazil itu dikait-kaitkan dengan Nusantara dan kemudian di cari pembenarannya, apakah akan timbul persoalan?

Yang jelas Indonesia sebenarnya bisa sangat diuntungkan oleh hal tersebut. Mata dunia bisa saja akan tertuju kepada Indonesia. Bisa mengakui atau tidak.

Namun Indonesia bisa melakukan ‘klaim’ dan menjadikan Atlantis sebagai icon promo berbiaya murah. Seperti bagaimana negara luar menjual sejuta misteri “Segi Tiga Bermuda” atau lainnya.

Atau seperti klaim yang dilakukan negeri tetangga kita,  Malaysia, Truly Asia…  negeri serumpun yang seringkali selangkah lebih cepat dari Indonesia. Dan sayangnya bagi bangsa Malaysia, Santos tidak melakukan penelitian dan mencari pembenaran teorinya di sana.

Mungkin saja Atlantis adalah dongeng atau mimpi. Namun Indonesia sebenarnya mampu membuat mimpi itu menjadi kenyataan dengan kekayaan alam dan keanekaragamannya. Disisi lain, bukankah jati diri bangsa Indonesia adalah mampu menerobos hal yang tidak mungkin?

Artinya, negeri mimpi Plato yang dicari pembenarannya oleh Santos di Indonesia tersebut adalah hal yang sangat mungkin diwujud menjadi nyata di republik ini.  

Saat ini maukah Indonesia melangkah dengan keyakinannya? Atau mungkin, adakah, perusahaan penerbangan, daerah, kota, pulau, yang akan memulai dengan iklan: INDONESIA, Truly Atlantis…

Link terkait
http://www.atlan.org/copyright/
http://kadaikopi.com/?p=1668

Hubungan Kejawen dengan Atlantis

Hubungan Kejawen dengan Atlantis Nusantara
Jika seandainya, kita yang sebagai pewaris masa kejayaan ATLANTIS mau membuka diri tentang ajaran-ajaran budaya tingkat tinggi (KEJAWEN) yang sebelumnya pernah kita miliki, maka banyak hal yang harus dipelajari bangsa lain tentang kehidupan pada Indonesia. 

Termasuk tentang demokrasi yang malah seolah kita adopsi dari luar.  Padahal itu milik kita yang sudah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya.

X MAGAZINE —– Banyak orang, menghubungkan kata “KEJAWEN” dengan hal-hal yang berkaitan dengan mistis. Bahkan sebagian menganggap Kejawen cenderung mengarah pada klenik. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kata kejawen sendiri menjadi suatu bagian dari hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Padahal sebenarnya lebih dari itu.
Namun secara pribadi, “walau saya sebenarnya bukan orang jawa” sangat tertarik dengan Kejawen. Ada banyak hal yang dapat kita pahami maupun kita cerna seputar ilmu budaya dengan nuansa kental “jawa” ini.
Sekali lagi, bagi saya, Kejawen, adalah sebuah pemantaban perilaku dan tata cara berfikir maupun berkehendak dimana didalam hal ini terdapat banyak sekali pengetahuan yang sebenarnya jika kita gali dan kita kaji secara mendalam akan membuahkan sebuah pengertian bahwa dalam budaya jawa seseorang dituntut untuk berperilaku maupun bertindak selaras dengan hati maupun pikiran,karena tanpa disadari perilaku seperti ini memiliki dampak kepekaan antar individu khususnya dalam sebuah komunitas sosial, dimana perilaku tersebut dapat menjadikan keberadaan sebuah individu menjadi lebih aman dan mengerti tentang apa yang harus yang pantas dilakukan dan apa yang tidak.
Kesadaran seperti ini akan sulit sekali kita pahami jika kita tidak memulai menjadikan segala sesuatu berakar dari dirinya sendiri (SEBAB AKIBAT) seperti hal-nya sebuah filosofi jawa “tepo seliro” yang berarti belajar memahami segala sesuatu dari apa yang kita perbuat kepada orang lain,bahwasanya setiap manusia memiliki watak maupun kepentingan yang berbeda dengan kita,oleh karena itu patutlah kita menghargainya.
Dari seklumit tentang budaya jawa ini, maka, dapatlah disimpulkan bahwa, jika belajar untuk memulai menata keselarasan antara pikiran dan prilaku kita maka, dengan sendirinya akan terbentuk kemampuan pemahaman yang sangat dinamis dalam kehidupan sehari-hari.
Selain etika bersosialisasi dalam budaya jawa juga terdapat banyak sekali pengetahuan yang dapat kita pelajari, salah satunya adalah tentang kesehatan,baik kesehatan jiwa maupun jasmani. Semuanya dapat kita pelajari dalam budaya jawa.
Manunggaling Kawula Ghusti, merupakan makna yang dalam bagi Seorang Kejawen. Oleh karenanya, terkadang makna oleh bebarapa pihak yang non Kejawen, sering terpelintir esensi dari makna Manunggaling Kawula Ghusti itu sendiri.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan, untuk memuluskan pemasaran ajaran import yang dibawanya ke dalam Masyarakat Jawa yang sengkretis.  Manunggaling Kawula Ghusti sama sekali bukan bermakna bersatunya kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Makna sebenarnya dari Manunggaling Kawula Ghusti adalah, bahwa hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh agama-agama Rasul.

Dalam pemahaman Kejawen, hubungan setiap orang kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hubungan yang unik, karena pada awalnya setiap orang yang lahir di muka bumi adalah TitipanTuhan Yang Maha Esa.

Analogi lain: Jika kita mencintai dan menyayangi Ibu kandung kita, dan mengatakan bahwa Ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan Ibu kita ada dalam badan kita?

Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Ghusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih.

Hubungan Kejawen dengan Peradaban Atlantis

Sistem peradaban masa kejayaan zaman Atlantis kemampuan manusia lebih diukur dari sisi kematangan jiwa spiritualnya. Pendidikan sejak masih bayi pun lebih mengedepankan keluhuran budi dan pementukan mental dan karakter.  

Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan (Meditasi). Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain (Dasar-dasar demokrasi). Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Sementara dalam perikehidupan masyarakat Kejawen, kematangan mental dan spiritual juga menjadi bagian penting dalam tatanan kehidupan. Sehingga, dalam upaya penyadaran diri lebih ditekankan pada hakikat atau ensensi pengenalan jati diri manusia itu sendiri. Intelejensi spiritual lebih dominan dalam mengontrol prilaku manusia Kejawen.
Bagi saya, yang bukan orang jawa, dasar-dasar Kejawen, tidak seperti agama-agama yang bermunculan dewasa ini. Dimana lebih menonjolkan tentang aturan-aturan atau tata cara beragama. Sehingga agama cenderung lebih bernuansa doktrin-doktrin yang harus diyakini tanpa perlu bertanya. Baku dan terorganisir. Sehingga syariat terkadang terlihat lebih penting dari pada hakikat.
Kejawen, jika dilihat dari history proses terbentuknya Negara Indonesia, sebenarnya bukan agama Jawa, ia adalah sebuah ajaran tentang makna kehidupan yang telah ada jauh sebelum adanya cikal bakal Indonesia. Mungkin bisa kita sebut “untuk mempersatukan wilayah” adalah NUSANTARA. Atau jika ingin lebih jauh lagi adalah ATLANTIS.
KEJAWEN hadir, jauh sebelum adanya agama. Karena kecendrungan ajarannya bukan  mengarah pada system tata cara beragama, tapi lebih kepada hakikat spiritualis yang demokrasi dalam berpikir. Maka, potensi agama-agama untuk masuk dalam ranah KEJAWEN sangat besar. Terbukti di NUSANTARA agama terbilang cukup banyak berkembang dan besar. Bahkan mendominasi.
Kejawen, adalah sebutan bagi masyarakat  JAWA untuk ajaran tentang makna kehidupan. Dan sebenarnya makna kehidupan ini merupakan ajaran bagi peradaban cikal-bakal nusantara. Ia bagian dari warisan ajaran-ajaran peradaban bangsa ATLANTIS yang jaya pada masa. KEJAWEN adalah ajaran makna kehidupan yang relevan bagi semua manusia.
Kenapa ajarannya sukar untuk masuk dalam ranah kehidupan para pemeluk agama yang sudah terlanjur merasakan kebeneran-kebenaran agama, maka KEJAWEN kemudian terpelintir dan mengalami penolakan  sebelum dipelajari, dilihat, dan dirasakan.
Disisi lain, label ajarannya yang sudah melekat dan dinamai sebagai KEJAWEN, sehingga membuat orang yang merasa diluar JAWA merasa dan berpikir itu bukan untuknya.
Padahal sejatinya, ia adalah ajaran makna kehidupan yang mengajak kita untuk melakukan perjalanan spiritualis jauh lebih tinggi dalam merasakan keberadaan sesuatu yang MAHA. Atau sering kita sebut tuhan. Sesuatu yang pasti bukan karena keyakinan yang tumbuh akibat doktrin.
Jika seandainya, kita yang sebagai pewaris masa kejayaan ATLANTIS mau membuka diri tentang ajaran-ajaran budaya tingkat tinggi (KEJAWEN) yang sebelumnya pernah kita miliki, maka banyak hal yang harus dipelajari orang bangsa lain tentang kehidupan. Termasuk tentang demokrasi yang malah seolah kita adopsi dari luar.  Padahal itu milik kita yang sudah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya. 

Createdby: dediariko