Batas Jam Sholat Dhuha, Awas Ada Waktu Haramnya

Batas Jam Sholat Magrib Agar Tidak Ketinggalan Dalam Beribadah

Batas jam sholat maghrib setiap bulan bahkan setiap hari pun mengalami perbedaan. Waktu sholat hari ini belum tentu akan sama dengan minggu depan bahkan bulan depan. Maka dari itu, banyak kalender yang menambahkan catatan jam sholat pada berbagai kota setiap harinya.

Perbedaan batas waktu sholat wajib di berbagai daerah di Indonesia disebabkan perbedaan posisi bumi terhadap matahari. Adapun batas jam sholat maghrib berdasarkan kedudukan matahari tanpa perlu melihat jam adalah sebagai berikut ini.

Awal Waktu Sholat Magrib

Kata Maghrib dalam bahasa Arab artinya adalah arah dan waktu matahari tenggelam. Maka dari itu, awal waktu sholat maghrib adalah ketika matahari telah tenggelam.

Namun, penentuan jadwal sholat juga sering bergeser karena perbedaan letak matahari yang berubah dalam koordinat horizon. Perbedaan waktu sholat juga bergantung pada ketinggian tempat dan jarak puncak (zenit).

Secara astronomis, penentuan awal batas jam sholat maghrib adalah tepat ketika matahari terbenam, kemudian ditambahkan waktu dua menit. Hal tersebut dilakukan karena adanya larangan untuk melakukan sholat tepat di waktu matahari terbit, tenggelam, maupun kulminasi (di atas garis khatulistiwa) atas.

Awal waktu sholat maghrib dimulai ketika posisi matahari -01° di bawah ufuk bagian barat. Atau, juga dapat ditandai ketika matahari berada pada 91° yang diukur berdasarkan garis meridian bumi. Garis meridian adalah suatu garis khayal yang digunakan untuk menghubungkan 2 kutub, yaitu  kutub utara dan selatan.

Pada beberapa daerah  pun kadang tidak diberikan kesempatan diantara adzan dan waktu iqamah untuk melakukan sholat sunah. Hal tersebut didasarkan pada sebagian ulama menganggap bahwa waktu sholat maghrib hanya satu waktu, yaitu saat matahari tenggelam. Biasanya jam digital masjid juga menyediakan jadwalnya.

Akhir Waktu Sholat Magrib

Terdapat beberapa pendapat mengenai penetapan akhir waktu sholat Magrib. Menurut pendapat yang disetujui oleh Imam Syafi’i, dan Malikiyah awal waktu sholat maghrib hanya satu waktu saja. Untuk bersuci, menutup aurat, azan, iqamah, dan menunaikan sholat maghrib.

Hal tersebut didasarkan pada hadits dimana Jibril yang datang dua kali dalam waktu sholat. Yaitu di awal waktu dan di akhir waktu.

Sementara pada waktu sholat maghrib, Jibril hanya datang di waktu yang sama ketika mengajarkan sholat maghrib pada Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan pendapat ini, jam sholat Magrib pun sangat terbatas.

Namun, beberapa ulama berpendapat bahwa waktu sholat Magrib lebih dari yang disebutkan di atas. Pendapat kedua mengenai batas jam sholat maghrib adalah ketika mega merah telah hilang. Dalam suatu hadits disebutkan bahwa waktu sholat maghrib adalah cahaya merah dari matahari yang tenggelam masih terlihat.

Secara astronomis, matahari tenggelam ditandai dengan cahaya warna merah yang telah memudar di ufuk bagian barat. Hal tersebut menunjukkan telah memasuki waktu malam. Pada ilmu astronomi, dinamakan dengan astronomical twilight, yaitu berakhirnya senja secara astronomi.

Meskipun waktu maghrib lebih lama, namun waktu terbaik untuk menunaikan sholat maghrib adalah di awal waktu. Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan Ahmad, dimana umat Nabi Muhammad senantiasa dalam kebaikan selama tidak menunaikan sholat maghrib di akhir waktu hingga muncul bintang di langit.

Itulah batas jam sholat maghrib berdasarkan pendapat beberapa ulama dan berdasarkan ilmu astronomi. Tidak perlu berpatokan pada jam, cukup melihat cakrawala maka akan mengetahui waktu sholat Magrib.

 

Comments (

0

)