Membongkar Kode Istana Atlantis di Museum TMII

Atlantis IndonesiaSebuah tulisan yang luar biasa dengan didasari pemikiran yang terbuka. Ditulis oleh seorang blogger Indonesia bernama Hazmi Srondol dengan gaya yang ringan namun cerdas.

Dari pada saya nikmati sendiri, eh.. maaf terakhir tercatat 4627 orang pembaca di postingannya di Kompasiana, ada baiknya saya bagi dalam bentuk asli (copasDotcom). Sangat menginspirasi.

Berikut tulisan tersebut yang ia beri judul: Membongkar Kode Istana Atlantis di Museum TMII.

Terkejut luar biasa dengan sebuah penjelasan pendek tentang suku Asmat yang tertempel di dinding dekat pintu masuk Museum Asmat di TMII ini.

Lha siapa yang tidak kaget, plus rasa gembira yang luar biasa. Gembira akhirnya saya mendapatkan referensi lain yang lebih orisinil dan asli sesuai apa adanya tentang suku Asmat di Papua ini. Bukan informasi standar ala wikipedia atau kebanyakan informasi yang beredar di buku atau media massa lainnya.

Harap maklum, sudah terlalu lama bangsa Indonesia ini di kerdilkan. Bertahun-tahun kebesaran masa lampau Nusantara disembunyikan. Jikalau mendadak muncul bukti-bukti kejayaan ini, data dibelokkan persepsinya atau malah sekalian dikaburkan.

Coba cek pandangan bangsa lain tentang Indonesia sekarang ini. Pasti pandangannya ya begitu-begitu saja, dari tubuhnya yang mungil, berkulit gelap yang diidentikan dengan kotor, masyarakatnya yang primitif dan bertelanjang dada kemana-mana dan hal-hal yang negatif lainnya. Semua ini tujuannya sederhana saja—ingin membuat bangsa ini tidak percaya diri dengan kemampuannya.

Jika sudah tidak percaya diri, tentu mudah sekali menjadikan bangsa ini menjadi bangsa terjajah. Baik terjajah secara ideologi, politik, budaya maupun ekonomi. Boro-boro negosiasi—untuk berdehem saja jadi sungkan dihadapan mereka.

Dan di museum Asmat TMII ini, akhirnya saya bisa menemukan salah satu bukti kesengajaan mereka mengkerdilkan bangsa Indonesia ini. Digambarkannya suku Asmat sebagai suku primitif dan kuno. Lebih parahnya—dianggap suku kanibal, pemangsa sesama manusia.

Padahal buktinya apa? Apa hanya karena ada ada foto suku Asmat tidur beralaskan kepala tengkorak manusia? Lha apa bedanya dengan kita yang mungkin kerja atau tinggal di perumahan bekas kuburan atau pemakaman?

Informasi kanibalisme ini pun setelah aku coba telusuri, sungguh mengagetkan. Informasi ini hanya berdasarkan pada kata ‘konon’ dan ‘katanya’ saja. Konon dan katanya dari pendapat suku lainnya. Lebih menyesakkan lagi, cap kanibal ini di perkuat denga kejadian hilangnya satu anggota keluarga Rockefeller– salah satu keluarga terkaya di dunia. Keluarga yang mensponsori dan mendonasikan keuangannya untuk pendirian lembaga terbesar di dunia bernama PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Michael Clark Rockefelle yang melakukan ekpedisi di Papua sekitar akhir tahun 1961 memang hilang, tapi apakah memang betul karena di kanibal suku Asmat? Jangan-jangan hanya hilang karena dicaplok buaya atau diterkam harimau. Atau jangan-jangan malah dibunuh pemandunya yang dari belanda itu hanya gara-gara ongkos hantarnya tidak cocok?

Kalaulah memang hendak dijadikan ‘bahan makanan’, kenapa mesti berulang kali ia ke pedalaman Papua sambil wira-wiri membawa ukiran khas suku Asmat? Belum lagi, banyaknya foto mas Michael ini yang asyik bermain kamera dan dikeliling wajah orang Asmat yang tampak ramah dan tersenyum lepas?

Nah, berita hilangnya ini satu sisi memang mengangkat nama Papua dan Asmat di seluruh dunia. Namun jika dikaitkan dan menjadi cap kanibal tentu merugikan dan berlebihan. Kadang saya jadi gemas dan pengen diadakan penelusuran sejarah yang sangat menyesatkan ini oleh pihak-pihak yang netral dan kompeten.

Sedangkan kita tahu, kasus-kasus kanibalisme di dunia dan di eropa terjadi karena pelakunya menderita penyakit kejiwaan. Sarap tingkat akut. Dan mungkinkah manusia-manusia dengan kejeniusan seni, seni mengukir, ukiran tanpa sketsa namun hasilnya luar biasa? Yang menjadi koleksi hampir semua museum dan rumah seni dunia? Itu disebut sakit jiwa? Oh no, tidak saudaraku sebangsa dan setanah air. Tidaaaaak!

Oke, jika memang masih dianggap suku Asmat primitif hanya gara-gara memakai koteka—yuk kita lihat makna dan filosofi kehidupan suku Asmat yang tertempel di museum Asmat TMII ini. Disana dijelaskan bahwa:

“Orang Asmat sangat menghormati pohon. Bagi mereka, pohon adalah kehidupan. Mereka mengangap dirinya pohon dan sebaliknya, pohon adalah diri mereka. Mereka mengibaratkan akar pohon itu sebagai kaki, batang sebagai badan, ranting sebagai tangan dan buah adalah kepalanya. Itulah alasan mengapa orang Asmat menyebut dirinya sebagai as-asmat yang berarti manusia kayu atau manusia pohon atau asmat-ow, yang berarti manusia sejati.”

Hmm, tunggu. Ini sangat penting dan essensial. Hal yang sangat filosofis dan bukan main-main. Hal yang menyangkut ‘kelas’ manusia dimata Tuhannya. Manusia sejati. Dimana penjelasan tambahannya tertulis:

“Kehidupan orang asmat tidak dapat dipisahkan dengan alam sekitarnya. Mereka meyakini sejatinya manusia itu harus bersatu dengan alam. Mereka pun menyebut dirinya sebagai ‘ow Kanak Anakat’ yang artinya “Akulah Manusia Sejati”…”

Sungguh, saya sempat terdiam lama didepan penjelasan ini. Mendadak teringat Plato yang mengatakan serupa, tentang fungsi akal budi untuk menyelaraskan dengan alam dan menuju ke Sang Baik (Tuhan). Filosofi TAO juga berujung hal yang sama, bahkan filosofi ‘menyatu dengan alam semesta’ dalam ajaran Tao adalah tujuan utama manusia hidup dan menjadi sempurna sebelum bertemu Tuhannya.

Kita juga bisa melihat filosofi menyatu dengan alam ini pun menjadi filosofi utama Bushido (jalan pedang/ksatria) para Samurai (ksatria Jepang). Bagi mereka, ketika mereka sudah ‘menyatu dengan alam’ maka ia akan mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu dan jajaran para Samurai.

Tak heran jika dahulu rakyat Jepang sangat menghindari pembuatan jalan berkelok kelok dan lebih menyukai pembuatan tunnel (terowongan) untuk jalur kereta/transportasi. Mereka khawatir, pembangunan yang menyakiti pohon dengan menebangnya akan berarti menentang alam. Pilihan bijak dan terbukti sukses membawa Jepang sebagai salah satu negara dengan sistem transportasi terbaik di dunia.

Nah, bagi yang masih belum puas dengan pembanding diatas, coba cek lagi istilah ‘moksa’ atau ‘mukti’ dalam ajaran Hindu. Konsep serupa pun terlihat disana. Kondisi penyatuan atman dan brahman menuju kebebasan rohani dan jiwa tanpa keterikatan dengan dunia dan materi. Kondisi yang juga menjelaskan tentang menyatunya manusia dan alam semesta ini sebagai tanda kesempurnaan manusia.

Bahkan dalam dunia tasawuf pun, konsep ma’rifat juga mirip dengan konsep Asmat ini. Pada tingakatan pemahaman spritual manusia, tiap orang mempunyai level tersendiri. Dari terendah yaitu level syariat—dimana seremoni ritual ibadah dan pemahaman terhadap Tuhan hanya berdasarkan text book atau kata-kata yang tertuang pada ayat Al Qur’an semata. Lalu meningkat pada level pemahaman ke hakikat, yaitu pemahaman makna dibalik kata atau arti mendalam dari sebuah ayat Al Qur’an.

Dan akhirnya masuk kedalam level tertinggi yaitu ma’rifat—sebuah kondisi dimana manusia sempurna ibadah syariat-nya, jelas pemahaman hakikatnya dan akhirnya bersatu dengan alam—“berputar” seperti gerakan galaxy dan tata surya sebagai bentuk bertasbih dengan seluruh nafas dan jiwany kepada Tuhan pencipta alam semesta. Dan saat itu adalah saat yang dinanti-nantikan, saat dimana terbukanya hijab (pembatas) antara Tuhan dan mahluknya.

Nah, Jika dikaitkan dengan tingkatan itu—bisa saya artikan bahwa filosofi orang Asmat seperti melompat beberapa tingkat. Langsung ke level tertinggi.

Jadi, masih pantaskah kita yang sama-sama satu bangsa ini menganggap orang Asmat primitif dengan kedalaman filosofi hidupnya? Apakah kita masih merasa jika kita memakai jas dan mereka memakai hiasan ala pohon-pohonan berarti kita lebih canggih daripada mereka? Bisa jadi, kitalah yang masih ‘primitif’ karena dangkal pemahaman esensi kehidupannya dan mudah terbawa opini penjajah.

Sungguh, akhirnya tersisip rasa kagum dengan orang Asmat ini. Bahkan saya sempat saya bertanya-tanya, agaimana pemahaman menyatu dengan alam ini bisa sampai kepada mereka?

Rasanya tak mungkin jika mereka tahu dengan seketika. Ujug-ujug ngerti. Seperti menemukan batu di pinggir jalan saja.

Saya menduga, jauh sebelum kita dan mereka saat ini telah ada peradaban tinggi yang menguasai seluruh wilayah Nusantara ini. Termasuk di wilayah Papua dan suku Asmat didalamnya. Peradaban yang memberikan pengajaran filosofi tinggi kepada leluhur suku Asmat. Peradaban yang telah membuat Nusantara ini sudah begitu teratur dan tertib dengan adat dan istiadatnya. Bahkan kearifan lokal ini tampak mudah menyatu dengan ajaran-ajaran agama baru yang kemudian hari masuk ke wilayahnya.

Dan saya menduga, budaya dan kearifan lokal ini adalah peninggalan kebudayaan yang oleh Plato disebut dengan kebudayaan “ATLANTIS” .

Ya, saya tahu. Sepertinya terdengar bombastis.

Tapi jika melihat banyaknya penemuan baru perihal bukti-bukti keberadaan Atlantis di Nusantara ini, seperti yang tertuang dalam buku Atlantis The Lost Continent Finnaly Found karya Prof. Arisio Santos dari Brazil dan buku biru berjudul EDEN In The EAST karya Prof. Sthepen Oppenheimer dari Oxford University sepertinya memang benar bahwa Nusantara ini memang Atlantis yang hilang. Hilang dengan timeline waktu yang sangat jauh belasan ribu tahun kebelakang.

Apalagi setelah sebagian sejarawan dan arkelog Indonesia berani menggugat penjelasan standar ala penjajah perihal arti relief di Candi Borobudur di Magelang dan Candi Cetho di lereng gunung Lawu. Candi yang merupakan pengisahan ulang sejarah leluhurnya. Dimana jelas terlihat di kedua candi itu gambaran bahwa bangsa-bangsa lain seperti Mesir, Inca, Maya, Indian, Arab, Sumeria, Eropa dan lain sebagainya merupakan bekas wilayah kekuasaaan Atlantis atau Nusantara ini.

Bahkan lebih mencengangkan, banyaknya termuan benda terbang seperti pesawat dan lainnya terdapat dalam relief candi Borobudur dan sikap menghormat dan bersimpuh bangsa-bangsa lain ke nenek moyang kita di Candi Cetho. Hal semakin memperjelas bukti bahwa Nusantara pernah menguasai hampir 2/3 belahan bumi serta kecangihan teknologi bangsa ini. Kebesaran dan kecanggihan sebelum akhirnya tenggelam oleh kesombongan serta “hadiah” mencairnya es dan meletusnya gunung-gunung yang memisahkan nusantara menjadi pulau-pulau terpisah.

Saya mengerti, semakin banyak informasi kebesaran Nusantara ini akan muncul juga informasi tandingan menutupi dan mengaburkannya. Tak perlu saya jelaskan lagi alasannya. Yang pasti, Atlantis identik dengan pusat tambang logam mulia EMAS dan ini sangat berbahaya bagi bangsa lain yang berkepentingan jika sampai muncul kesadaran bersama rakyat Indonesia.

Tambang emas yang sudah terbukti dengan habisnya satu gunung di Papua dan kini sudah ditemukan lagi gunung dengan kandungan emas 10 kali lipat di kepulauan Sumatra.

Saya juga mendadak ingat saat Bung Karno—founding father bangsa ini pernah juga membahas Atlantis ini sekitar 48 tahun yang lalu di markas ALRI Tanjung Priok. Saat itu Bung Karno mengatakan, “ada kupasan yang mengatakan bahwa di selatan Pulau Jawa ini ada satu Pulau besar, yang seperti Nusa Tembini, kepulauan pulau Nusa ini, seperti Nusa Tembini diereh oleh seorang Raja Putri.”

Dimana Raja Putri itu, mempraktekkan hukum matriarchal. Namun, kerajaan Nusa Tembini tenggelam ke dasar laut yang dikenang dengan cerita Nyi Roro Kidul. Menurut bung Karno, kisah Nusa Tembini ini sangat identik dengan kepercayaan orang eropa mengenai kerajaan lautan Atlantis. Walau saat itu Bung Karno tidak ingin Indonesia menganggap kisah ini hanya menjadi cerita mistik belaka. Namun hal ini menjadi orientasi negara agar memperkuat sisi maritim dan kelautannya.

Bahkan sampai presiden penerusnya—Pak Harto mempunyai pandangan yang serupa tetapi beda gaya. Pak Harto memilih menyembunyikan pengetahuan beliau tentang keberadaan ibukota kerajaan Atlantis di Nusantara ini—tepatnya di pulau Jawa. Namun beliau tetap memberikan kisi-kisi berupa peta istana Atlantis yang ternyata berada tidak jauh dari lokasi acara di TMII hari itu (Minggu, 24 Maret 2013). Tempat itu bernama Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Seperti yang kita ketahui, cerita kemegahan istana Atlantis ini sangat menginspirasi siapa saja. Konsep berupa menara tinggi yang menembus awan dan tangga yang melingkar yang pernah menjadi inspirasi Raja Namrud untuk membuat tiruannya bernama menara Babelonia. Konsep bentuknya pun kini juga menginspirasi gedung tertinggi di dunia—Burj Khalifa di Dubai. Namun kebesarannya masih belum bisa menyamai istana Atlantis yang asli.

Menurut kode pak Harto dalam design museum Purna Bhakti Pertiwi yang mirip dengan bentuk nasi tumpengan yang membudaya di era kepemimpinannya, jika kita lihat dengan mengungakan google maps atau wikimapia–terlihat keterkaitan yang kuat antara Gunung Penanggungan di Jawa Timur dengan peta atau kode rahasia dari pak Harto ini.

Dan hal itulah yang juga menjadi dasar ketertarikan yang besar untuk menghadiri acara kunjungan ke museum TMII yang diadakan bersama blogger-blogger lain. Disamping untuk mengikis ketidak-pede-an diri Indonesia terhadap bangsa lain dan titik balik kebangkitan Nusantara. Saya menduga masih banyak kode-kode lain tentang Atlantis yang juga disembunyikan oleh pak Harto di museum-museum TMII.

Syukur-syukur bisa terlibat dalam penemuan emas yang luar biasa banyaknya. Banyak emas yang bukan sebesar gunung lagi namun sebesar pulau. Namun jika belum terbongkar rahasianya, setidaknya saya bisa banyak mengumpulkan bahan untuk membuat novel konspirasi ala Dan Brown yang International Best Seller beneran ini. Cuman masalahnya, kode sudah terlanjur di bahas di artikel ini dan jadi semakin banyak yang tahu. Hal ini berarti mesti bersiap-siap mendapat pesaing baru dalam berburu data–baik dengan penulis atau blogger lain.

Maklum, soal data tulisan novel ini—strategy siapa cepat dapat masih berlaku. Apalagi selama bulan April 2013 ini berlangsung acara besar museum-museum di TMII.

Note:

So… saya berharap apa yang memang menjadi buah pemikiran penulis tersebut khususnya tentang rencana pembuatan novel bisa terwujud. 

Kerajaan Kandis “Atlantis Nusantara”

(Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia)
Oleh: PEBRI MAHMUD AL HAMIDI
Indonesia Atlantis
Nenek moyang bangsa Indonesia diduga kuat oleh para Arkeolog adalah ras Austronesia. Ras ini mendarat di Kepulauan Nusantara, dan memulai peradaban neolitik. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukkan muncul juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar di kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian. Dikumpulkan dari cerita yang diwarisi secara turun temurun oleh Penghulu Adat Lubuk Jambi
Di Nusantara saat ini paling tidak terdapat 50 populasi etnik Mongoloid yang mendiaminya. Budaya dan bahasa mereka tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Lalu dari manakah populasi Austronesia ini berasal dan daerah manakah pertama kalinya mereka huni di Nusantara ini? Sebuah pertanyaan yang belum terjawab oleh riset sejarah selama ini. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengkajian dan analisis yang komprehensif tentang bukti sejarah yang ada dan menelusuri hubungan historis suatu daerah dengan daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah mengumpulkan cerita/tombo yang ada di masyarakat dan penelusuran fakta yang mendukung tombo tersebut.Wikipedia. Ensiklopedi Bebas. http://wikipedia.org.

RINGKASAN

Kerajaan tertua di Pulau Jawa berdasarkan bukti arkeologis adalah kerajaan Salakanegara dibangun abad ke-2 Masehi yang terletak di Pantai Teluk Lada, Pandeglang Banten. Diduga kuat mereka berimigrasi dari Sumatra. Sedangkan Kerajaan tertua di Sumatra adalah kerajaan Melayu Jambi (Chu-po), yaitu Koying (abad 2 M), Tupo (abad ke 3 M), dan Kuntala/Kantoli (abad ke 5 M). Menurut cerita/tombo adat Lubuk Jambi yang diwarisi dari leluhur mengatakan bahwa disinilah lubuk (asal) orang Jambi, oleh karena itu daerah ini bernama Lubuk Jambi. Dalam tombo juga disebutkan di daerah ini terdapat sebuah istana kerajaan Kandis yang sudah lama hilang. Istana itu dinamakan istana Dhamna, berada di puncak bukit yang dikelilingi oleh sungai yang jernih. Penelusuran peninggalan kerajaan ini telah dilakukan selama 7 bulan (September 2008-April 2009), dan telah menemukan lokasi, artefak, dan puing-puing yang diduga kuat sebagai peninggalan Kandis dengan ciri-ciri lokasi mirip dengan sketsa Plato (347 SM) tentang Atlantis. Namun penemuan ini perlu dilakukan penelitian arkeologis lebih lanjut.

PENDAHULUAN

Nusantara merupakan sebutan untuk negara kepulauan yang terletak di kepulauan Indonesia saat ini. Catatan bangsa Tionghoa menamakan kepulauan ini dengan Nan-haiyang berarti Kepulauan Laut Selatan. Catatan kuno bangsa India menamainya Dwipantarayang berarti Kepulauan Tanah Seberang, yang diturunkan dari kata Sanskerta dwipa(pulau) dan antara (luar, seberang) dan disebut juga dengan Swarnadwiva (pulau emas, yaitu Sumatra sekarang). Bangsa Arab menyebut daerah ini dengan Jaza’ir al-Jawi(Kepulauan Jawa).
Migrasi manusia purba masuk ke wilayah Nusantara terjadi para rentang waktu antara 100.000 sampai 160.000 tahun yang lalu sebagai bagian dari migrasi manusia purba “out of Africa“. Ras Austolomelanesia (Papua) memasuki kawasan ini ketika masih bergabung dengan daratan Asia kemudian bergerak ke timur, sisa tengkoraknya ditemukan di gua Braholo (Yogyakarata), gua Babi dan gua Niah (Kalimantan). 
Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (imigrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM (Wikipedia, 2009).
Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).
Kepulauan Nusantara saat ini paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini dengan cirri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa. Bahasa mereka merupakan bahasa-bahasa Austronesia yang menunjukkan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.
Pusat Arkeologi Nasional telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-3000 tahun, yaitu penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali. Penelitian itu menunjukkan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.
Hasil penelitian Alan Wilson tentang asal usul manusia di Amerika Serikat (1980-an) menunjukkan bahwa manusia modern berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau dengan kesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil penelitian ini melemahkan teori bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin). Oleh karena itu tidak ada kaitannya manusia purba yang fosilnya ditemukan diberbagai situs di Jawa (homo erectus, homo soloensis, mojokertensis) dan di Cina (Peking Man) dengan perkembangan manusia modern (homo sapiens) di Asia Timur. Manusia purba ini yang hidup sejuta tahun yang lalu merupakan missing link dalam evolusi. 
Saat homo sapiens mendarat di Kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.
Teori kedua yang bertentangan dengan teori imigrasi Austronesia dari Yunan dan India adalah teori Harry Truman. Teori ini mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Austronesia berasal dari dataran Sunda-Land yang tenggelam pada zaman es (era pleistosen). Populasi ini peradabannya sudah maju, mereka bermigrasi hingga ke Asia daratan hingga ke Mesopotamia, mempengaruhi penduduk lokal dan mengembangkan peradaban. Pendapat ini diperkuat oleh Umar Anggara Jenny, mengatakan bahwa Austronesia sebagai rumpun bahasa yang merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah manusia. Rumpun ini memiliki sebaran yang paling luas, mencakup lebih dari 1.200 bahasa yang tersebar dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di Timur. Bahasa tersebut kini dituturkan oleh lebih dari 300 juta orang. Pendapat Umar Anggara Jenny dan Harry Truman tentang sebaran dan pengaruh bahasa dan bangsa Austronesia ini juga dibenarkan oleh Abdul Hadi WM (Samantho, 2009).
Teori awal peradaban manusia berada di dataran Paparan Sunda (Sunda-Land) juga dikemukan oleh Santos (2005). Santos menerapkan analisis filologis (ilmu kebahasaan), antropologis dan arkeologis. Hasil analisis dari reflief bangunan dan artefak bersejarah seperti piramida di Mesir, kuil-kuil suci peninggalan peradaban Maya dan Aztec, peninggalan peradaban Mohenjodaro dan Harrapa, serta analisis geografis (seperti luas wilayah, iklim, sumberdaya alam, gunung berapi, dan cara bertani) menunjukkan bahwa sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun Santos menyimpulkan bahwa Sunda Land merupakan pusat peradaban yang maju ribuan tahun silam yang dikenal dengan Benua Atlantis.
Dari kedua teori tentang asal usul manusia yang mendiami Nusantara ini, benua Sunda-Land merupakan benang merahnya. Pendekatan analisis filologis, antropologis dan arkeologis dari kerajaan Nusantara kuno serta analisis hubungan keterkaitan satu dengan lainnya kemungkinan besar akan menyingkap kegelapan masa lalu Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri peradaban awal Nusantara yang diduga adalah kerajaan Kandis.

Nusantara dalam Lintasan Sejarah (TINJAUAN PUSTAKA)

Kepulauan Nusantara telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya. Sejarah Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi lima fase, yaitu zaman pra sejarah, zaman Hindu/Budha, zaman Islam, zaman Kolonial, dan zaman kemerdekaan. 
Kalau dirunut perjalanan sejarah tersebut zaman kemerdekaan, kolonial, dan zaman Islam mempunyai bukti sejarah yang jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Zaman Hindu/Budha juga telah ditemukan bukti sejarah walaupun tidak sejelas zaman setelahnya. 
Zaman sebelum Hindu/Budha masih dalam teka-teki besar, maka dalam menjawab ketidakjelasan ini dapat dilakukan dengan analisa keterkaitan antar kerajaan. 
Urutan tahun berdiri kerajaan di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.
No
Nama Kerajaan
Lokasi Situs
PerkiraanTahun Berdiri
1.
Kerajaan Kandis*
Lubuk Jambi, Riau
Sebelum Masehi
2.
Kerajaan Melayu Jambi
Jambi
Abad ke-2 M
3.
Kerajaan Salakanegara
Pandeglang, Banten
150 M
4.
Kepaksian Skala Brak Kuno
Gunung Pesagi, Lampung
Abad ke-3 M
5.
Kerajaan Kutai
Muara Kaman, Kaltim
Abad ke-4 M
6.
Kerajaan Tarumanegara
Banten
Abad ke-4 M
7.
Kerajaan Koto Alang
Lubuk Jambi, Riau
Abad ke-4 M
8.
Kerajaan Barus
Barus, Sumatra Utara
Abad ke-6 M
9.
Kerajaan Kalingga
Jepara, Jawa Tengah
Abad ke-6 M
10.
Kerajaan Kanjuruhan
Malang, Jawa Timur
Abad ke-6 M
11.
Kerajaan Sunda
Banten-Jawa Barat
669 M
12.
Kerajaan Sriwijaya
Palembang, Sumsel
Abad ke-7 M
13.
Kerajaan Sabak
Muara Btg. Hari, Jambi
730 M
14.
Kerajaan Sunda Galuh
Banten-Jawa Barat
735 M
15.
Kerajaan Tulang Bawang
Lampung
771 M
16.
Kerajaan Medang
Jawa Tengah
820 M
17.
Kerajaan Perlak
Peureulak, Aceh Timur
840 M
18.
Kerajaan Bedahulu
Bali
882 M
19.
Kerajaan Pajajaran
Bogor, Jawa Barat
923 M
20.
Kerajaan Kahuripan
Jawa Timur
1009 M
21.
Kerajaan Janggala
Sidoarjo, Jawa Timur
1042 M
22.
Kerajaan Kadiri/Panjalu
Kediri, Jawa Timur
1042 M
23.
Kerajaan Tidung
Tarakan, Kalimantan Timur
1076 M
24.
Kerajaan Singasari
Jawa Timur
1222 M
25.
Kesultanan Ternate
Ternate, Maluku
1257 M
26.
Kesultanan Samudra Pasai
Aceh Utara
1267 M
27.
Kerajaan Aru/Haru
Pantai Timur, Sumatra Utara
1282 M
28.
Kerajaan Majapahit
Jawa Timur
1293 M
29.
Kerajaan Indragiri
Indragiri, Riau
1298 M
30.
Kerajaan Panjalu Ciamis
Gunung Sawal, Jawa Barat
Abad ke-13 M
31.
Kesultanan Kutai
Kutai, Kalimantan Timur
Abad ke-13 M
32.
Kerajaan Dharmasraya
Jambi
1341 M
33.
Kerajaan Pagaruyung
Batu Sangkar, Sumbar
1347 M
34.
Kesultanan Aceh
Banda Aceh
1360 M
35.
Kesultanan Pajang
Jawa Tengah
1365 M
36.
Kesultanan Bone
Bone, Sulawesi Selatan
1392 M
37.
Kesultanan Buton
Buton
Abad ke-13 M
38.
Kesultanan Malaka
Malaka
1402 M
39.
Kerajaan Tanjung Pura
Kalimantan Barat
1425 M
40.
Kesultanan Berau
Berau
1432 M
41.
Kerajaan Wajo
Wajo, Sulawesi Selatan
1450 M
42.
Kerajaan Tanah Hitu
Ambon, Maluku
1470 M
43.
Kesultanan Demak
Demak, Jawa Tengah
1478 M
44.
Kerajaan Inderapura
Pesisir Selatan, Sumbar
1500-an M
45.
Kesultanan Pasir/Sadurangas
Pasir, Kalimantan Selatan
1516 M
46.
Kerajaan Blambangan
Banyuwangi, Jawa Timur
1520-an M
47.
Kesultanan Tidore
Tidore, Maluku Utara
1521 M
48.
Kerajaan Sumedang Larang
Jawa Barat
1521 M
49.
Kesultanan Bacan
Bacan, Maluku
1521 M
50.
Kesultanan Banten
Banten
1524 M
51.
Kesultanan Banjar
Kalimantan Selatan
1526 M
52.
Kesultanan Cirebon
Jawa Barat
1527 M
53.
Kesultan Sambas
Sambas, Kalimantan Barat
1590-an M
54.
Kesultanan Asahan
Asahan
1630 M
55.
Kesultanan Bima
Bima
1640 M
56.
Kerajaan Adonara
Adonara, Jawa Barat
1650 M
57.
Kesultanan Gowa
Goa, Makasar
1666 M
58.
Kesultanan Deli
Deli, Sumatra Utara
1669 M
59.
Kesultanan Palembang
Palembang
1675 M
60.
Kerajaan Kota Waringin
Kalimantan Tengah
1679 M
61.
Kesultanan Serdang
Serdang, Sumatra Utara
1723 M
62.
Kesultanan Siak Sri Indrapura
Siak, Riau
1723 M
63.
Kasunanan Surakarta
Solo, Jawa Tengah
1745 M
64.
Kesltn. Ngayogyakarto Hadiningrat
Yogyakarta
1755 M
65.
Praja Mangkunegaran
Jawa Tengah-Yogyakarta
1757 M
66.
Kesultanan Pontianak
Kalimantan Barat
1771 M
67.
Kerajaan Pagatan
Tanah Bumbu, Kalsel
1775 M
68.
Kesultanan Pelalawan
Pelalawan, Riau
1811 M
69.
Kadipaten Pakualaman
Yogyakarta
1813 M
70.
Kesultanan Sambaliung
Gunung Tabur
1810 M
71.
Kesultanan Gunung Tabur
Gunung Tabur
1820 M
72.
Kesultanan Riau Lingga
Lingga, Riau
1824 M
73.
Kesultanan Trumon
Sumatra Utara
1831 M
74.
Kerajaan Amanatum
NTT
1832 M
75.
Kesultanan Langkat
Sumatra Utara
1877 M
76.
Republik Indonesia
Kepulauan Nusantara
17-8-1945
Sumber: http://www.wikipedia.com (dengan olahan), *Tahun berdiri berdasarkan tombo adat


Dalam catatan sejarah terdapat informasi yang terputus antara zaman pra sejarah dengan zaman Hindu/Budha. Namun dari Tabel 1 diatas dapat diperoleh gambaran bahwa peradaban Nusantara kuno bermula di Sumatra bagian tengah dan ujung barat pulau Jawa. Dari abad ke-1 sampai abad ke-4 daerah yang dihuni meliputi Jambi (kerajaan Melayu Tua), Lampung (Kepaksian Skala Brak Kuno), dan Banten (kerajaan Salakanegara). Untuk mengetahui peradaban awal Nusantara kemungkinan besar dapat diketahui melalui analisa keterkaitan tiga kerajaan tersebut.

Kerajaan Melayu Tua di Jambi

Di daerah Jambi terdapat tiga kerajaan Melayu tua yaitu, Koying, Tupo, dan Kantoli. Kerajaan Koying terdapat dalam catatan Cina yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao. 
Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api dan kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Jambi). Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ada pulau bernama P’u-lei atau Pulau. Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, dengan kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito atau Melayu Tua yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera (Wikipedia, 2009).
Menurut data Cina Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah wilayah Sumatra Selatan dan Ranau wilayah Lampung telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin atau Tongkin dan Vietnam atau Fu-nan dalam abad itu juga. Malahan keramik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu.
Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo atau Thu-po, Tchu-po, Chu-po dan kedudukannya di muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa dan Muara Tembesi atau Fo-ts’I, San-fo-tsi’, Che-li-fo-che sebelum seroang sampai di Jambi Tchan-pie, Sanfin, Melayur, Moloyu, Malalyu. Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri di luar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.
Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negara sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya atas kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama.
Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.

Kerajaan Kepaksian Sekala Brak

Sekala Brak adalah sebuah kerajaandi kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) yang menjadi cikal-bakal suku bangsa/etnis Lampung saat ini. Asal usul bangsa Lampung adalah dari Sekala Brak yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat. Dari dataran Sekala Brak inilah bangsa Lampung menyebar ke setiap penjuru dengan mengikuti aliran Way atau sungai-sungai yaitu Way Komring, Way Kanan, Way Semangka, Way Seputih, Way Sekampung dan Way Tulang Bawang beserta anak sungainya, sehingga meliputi dataran Lampung dan Palembang serta Pantai Banten.
Dalam catatan Kitab Tiongkok kuno yang disalin oleh Groenevelt kedalam bahasa Inggris bahwa antara tahun 454 dan 464 Masehi disebutkan kisah sebuah Kerajaan Kendali yang terletak di antara pulau Jawa dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa pada abad ke 3 telah berdiri Kerajaan Sekala Brak Kuno yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan Sekala Brak menjalin kerjasama perdagangan antar pulau dengan Kerajaan Kerajaan lain di Nusantara dan bahkan dengan India dan Negeri Cina.

Kerajaan Salakanegara

Kerajaan Salakanagara (Salaka=Perak) atau Rajatapura termasuk kerajaan Hindu. Ceritanya atau sumbernya tercantum pada Naskah Wangsakerta. Kerajaan ini dibangun tahun 130 Masehi yang terletak di pantai Teluk Lada (wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten). Raja pertamanya yaitu Dewawarman yang memiliki gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Rakja Gapura Sagara yang memerintah sampai tahun 168 M.
Dalam Babad suku Sunda, Kota Perak ini sebelumnya diperintah oleh tokoh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya atau Aki Tirem, waktu itu kota ini namanya Pulasari. Aki Tirem menikahkan putrinya yang bernama Pohaci Larasati dengan Dewawarman. Dewawarman ini sebenarnya Pangeran yang asalnya dari negri Palawa di India Selatan. Daerah kekuasaan kerajaan ini meliputi semua pesisir selat Sunda yaitu pesisir Pandeglang, Banten ke arah timur sampai Agrabintapura (Gunung Padang, Cianjur), juga sampai selat Sunda hingga Krakatau atau Apuynusa (Nusa api) dan sampai pesisir selatan Swarnabumi (pulau Sumatra). Ada juga dugaan bahwa kota Argyre yang ditemukannya Claudius Ptolemalus tahun 150 M itu kota Perak atau Salaknagara ini. Dalam berita Cina dari dinasti Han, ada catatan dari raja Tiao-Pien (Tiao=Dewa, Pien=Warman) dari kerajaan Yehtiao atau Jawa, mengirim utusan/duta ke Cina tahun 132 M.

Mitologi Minangkabau

Orang Minangkabau mengakui bahwa mereka merupakan keturunan Raja Iskandar Zulqarnaen (Alexandre the Great) Raja Macedonia yang hidup 354-323 SM. Dia seorang raja yang sangat besar dalam sejarah dunia. Sejarahnya merupakan sejarah yang penuh dengan penaklukan daerah timur dan barat yang tiada taranya. Dia berkeinginan untuk menggabungkan kebudayaan barat dengan kebudayaan timur.
Dalam Tambo disebutkan bahwa Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga anak, yaitu Maharajo Alif, Maharajo Dipang, dan Maharajo Dirajo. Maharajo Alif menjadi raja di Benua Ruhun (Romawi), Maharajo Dipang menjadi raja di negeri Cina, sedangkan Maharajo Dirajo menjadi raja di Pulau Emas (Sumatera).
Kalau kita melihat kalimat-kalimat tambo sendiri, maka dikatakan sebagai berikut: “…Tatkala maso dahulu, batigo rajo naiek nobat, nan surang Maharajo Alif, nan pai ka banda Ruhum, nan surang Maharajo Dipang nan pai ka Nagari Cino, nan surang Maharajo Dirajo manapek ka pulau ameh nan ko…” (pada masa dahulu kala, ada tiga orang yang naik tahta kerajaan, seorang bernama Maharaja Alif yang pergi ke negeri Ruhum (Eropa), yang seorang Maharajo Dipang yang pergi ke negeri Cina, dan seorang lagi bernama Maharajo Dirajo yang menepat ke pulau Sumatera).
Dalam versi lain diceritakan, seorang penguasa di negeri Ruhum (Rum) mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Iskandar Zulkarnain menikah dengan putri tersebut. Dengan putri itu Iskandar mendapat tiga orang putra, yaitu Maharaja Alif, Maharaja Depang, dan Maharaja Diraja. Setelah ketiganya dewasa Iskandar berwasiat kepada ketiga putranya sambil menunjuk-nunjuk seakan-akan memberitahukan ke arah itulah mereka nanti harus berangkat melanjutkan kekuasaannya. Kepada Maharaja Alif ditunjuk kearah Ruhum, Maharaja Depang negeri Cina, Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Nusantara).
Setelah Raja Iskandar wafat, ketiga putranya berangkat menuju daerah yang ditunjukkan oleh ayahnya. Maharaja Diraja membawa mahkota yang bernama “mahkota senggahana”, Maharaja Depang membawa senjata bernama “jurpa tujuh menggang”, Maharaja Alif membawa senjata bernama “keris sempana ganjah iris” dan lela yang tiga pucuk. Sepucuk jatuh ke bumi dan sepucuk kembali ke asalnya jadi mustika dan geliga dan sebuah pedang yang bernama sabilullah.
Berlayarlah bahtera yang membawa ketiga orang putra itu ke arah timur, menuju pulau Langkapuri. Setibanya di dekat pulau Sailan ketiga saudara itu berpisah, Maharaja Depang terus ke Negeri Cina, Maharaja Alif kembali ke negeri Ruhum, dan Maharaja Diraja melanjutkan pelayaran ke tenggara menuju sebuah pulau yang bernama Jawa Alkibri atau disebut juga dengan Pulau Emas (Andalas atau Sumatra sekarang). Setelah lama berlayar kelihatanlah puncak gunung merapi sebesar telur itik, maka ditujukan bahtera kesana dan berlabuh didekat puncak gunung itu. Seiring menyusutnya air laut mereka berkembang di sana.
Dari keterangan Tambo itu tidak ada dikatakan angka tahunnya hanya dengan istilah “Masa dahulu kala” itulah yang memberikan petunjuk kepada kita bahwa kejadian itu sudah berlangsung sangat lama sekali, sedangkan waktu yang mencakup zaman dahulu kala itu sangat banyak sekali dan tidak ada kepastiannya. Kita hanya akan bertanya-tanya atau menduga-duga dengan tidak akan mendapat jawaban yang pasti. Di kerajaan Romawi atau Cina memang ada sejarah raja-raja yang besar, tetapi raja mana yang dimaksudkan oleh Tambo tidak kita ketahui. Dalam hal ini rupanya Tambo Alam Minangkabau tidak mementingkan angka tahun selain dari mementingkan kebesaran kemasyuran nama-nama rajanya.

Mitologi Lubuk Jambi

Pulau Perca adalah salah satu sebutan dari nama Pulau Sumatera sekarang. Pulau ini telah berganti-ganti nama sesuai dengan perkembangan zaman. Diperkirakan pulau ini dahulunya merupakan satu benua yang terhampar luas di bagian selatan belahan bumi. Karena perubahan pergerakan kulit bumi, maka ada benua-benua yang tenggelam ke dasar lautan dan timbul pulau-pulau yang berserakan. Pulau Perca ini timbul terputus-putus berjejer dari utara ke selatan yang dibatasi oleh laut. Pada waktu itu Pulau Sumatera bagaikan guntingan kain sehingga pulau ini diberi nama Pulau Perca. Pulau Sumatera telah melintasi sejarah berabad-abad lamanya dengan beberapa kali pergantian nama yaitu: Pulau Perca, Pulau Emas (Swarnabumi), Pulau Andalas dan terakhir Pulau Sumatra.
Pulau Perca terletak berdampingan dengan Semenanjung Malaka yang dibatasi oleh Selat Malaka dibagian Timur dan Samudra Hindia sebelah barat sebagai pembatas dengan Benua Afrika. Pulau Perca berdekatan dengan Semenanjung Malaka, maka daerah yang dihuni manusia pertama kalinya berada di Pantai Timur Pulau Perca karena lebih mudah dijangkau dari pada Pantai bagian barat. Pulau Perca yang timbul merupakan Bukit Barisan yang berjejer dari utara ke selatan, dan yang paling dekat dengan Semenanjung Malaka adalah Bukit Barisan yang berada di Kabupaten Kuantan Singingi sekarang, tepatnya adalah Bukit Bakau yang bertalian dengan Bukit Betabuh dan Bukit Selasih (sekarang berada dalam wilayah Kenagorian Koto Lubuk Jambi Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Propinsi Riau), sedangkan daratan yang rendah masih berada di bawah permukaan laut.
Nenek moyang Lubuk Jambi diyakini berasal dari keturunan waliyullah Raja Iskandar Zulkarnain. Tiga orang putra Iskandar Zulkarnain yang bernama Maharaja Alif, Maharaja Depang dan Maharaja Diraja berpencar mencari daerah baru. Maharaja Alif ke Banda Ruhum, Maharaja Depang ke Bandar Cina dan Maharaja Diraja ke Pulau Emas (Sumatra). Ketika berlabuh di Pulau Emas, Maharaja Diraja dan rombongannya mendirikan sebuah kerajaan yang dinamakan dengan Kerajaan Kandis yang berlokasi di Bukit Bakar/Bukit Bakau. Daerah ini merupakan daerah yang hijau dan subur yang dikelilingi oleh sungai yang jernih.
Maharaja Diraja sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan Istana Dhamna. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil). Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih.
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti damar, rotan, dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah.
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu. Dari Malaka ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu.
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut.
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang).
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi kerajaan Kancil Putih, setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi.
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping kerajaan Koto Alang diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke Gunung Merapi (Sumatra Barat) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi Dt. Perpatih nan Sabatang dan Temenggung berganti nama menjadi Dt. Ketemenggungan.
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang).

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dikelompkkan menjadi dua, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan terdiri dari mengumpulkan cerita/tombo/mitologi di daerah Lubuk Jambi dengan melakukan wawancara dengan pemangku adat setempat. Kemudian melakukan analisis topografi untuk mencari titik lokasi yang diduga kuat sebagai lokasi kerajaan. Tahap berikutnya adalah melakukan ekspedisi/pencarian lokasi. Penelitian lanjutan adalah penelitian arkeologis untuk membuktikan kebenaran cerita/tombo. 
Data yang didapatkan di lokasi dianalisis dan dicari keterkaitannya dengan bukti sejarah dan cerita di daerah sekitarnya (Jambi dan Minangkabau). Penelitian pendahuluan mulai dilaksanakan pada bulan September 2008 sampai April 2009, sementara penelitian lanjutan belum dilaksanakan karena keterbatasan sumberdaya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Kerajaan Kandis

Analisis topografi yang dilakukan pada peta satelit yang diambil dari google earth, ditemukan lokasi yang dicirikan di dalam tombo/cerita (bukit yang dikelilingi oleh sungai). Daerah tersebut berada pada titik 0042’58 LS dan 101020’14 BT (Gambar 1) atau berada hampir di titik tengah pulau Sumatra (perbatasan Sumatra Barat dan Riau). Lokasinya berada di tengah hutan adat Lubuk Jambi, oleh pemerintah dijadikan sebagai kawasan hutan lindung yang dinamakan dengan hutan lindung Bukit Betabuh. Jarak lokasi dari jalan lintas tengah Sumatra lebih kurang 10 km ke arah barat, dengan topografi perbukitan.
Gambar 1 Hipotesa Lokasi Istana Dhamna
Pencarian lokasi/ekspedisi dilakukan dengan peralatan navigasi darat sederhana, yaitu menggunakan peta, kompas, dan teropong binokuler. Pada lokasi yang dituju, ditemukan hal-hal yang mencirikan bukit tersebut sebagai peninggalan peradaban manusia. Lebih kurang 2 km sebelum Bukit Bakar ditemukan batu karst/karang laut yang berjejer, batu ini diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan (Gambar 2)
Gambar 2 Batu Karst
 diduga sebagai pagar lingkar luar kerajaan
Pada bukit yang dikelilingi oleh sungai yang sangat jernih, pada bagian puncaknya ditemukan batu karst yang memenuhi puncak bukit (Gambar 2). Batu karst itu pada lereng bagian timur dan utara tersingkap, sedangkan lereng selatan dan barat tertimbun. Lereng tenggara ditemukan seperti tiang batu yang diduga bekas menara istana. 
Gambar 3 Batu Karst
yang memenuhi puncak bukit
Pada lereng timur bukit sebelah atas kira-kira 1200 m dari sungai ditemukan mulut goa yang diduga pintu istana, akan tetapi pintu ini pada bagian dalam sudah tertutup oleh reruntuhan batu. Pintu goa ini tingginya 5 meter dengan ruangan di dalamnya sejauh 3 meter, dan dalam goa tersebut terlihat seperti ada ruangan besar di dalamnya namun sudah tertutup (Gambar 3).
Gambar 3 Mulut goa
yang diduga pintu masuk istana
Pada lereng bukit bagian selatan sampai ke barat ditemukan teras sebanyak tiga tingkat, diduga bekas cincin air.  Sementara lereng utara sampai timur sangat curam dan terlihat seperti terjadi erosi yang parah. Teras ini lebarnya rata-rata 4 m, jarak antara sungai dengan teras pertama kira-kira 200 m, teras pertama dengan teras kedua kira-kira 400 m, teras kedua dengan teras ketiga kira-kira 500 m dan panjang lereng diperkirakan 1500 m. Berdasarkan analisa di peta bukit ini dari timur ke barat berdiameter 3000 m, dan dari utara ke selatan berdiameter 3000 m, beda elevasi antara sungai dengan puncak bukit 245 m. Pada lereng barat daya, kira-kira pada ketinggian lereng 800 m ditemukan mata air yang mengalir deras. Ukuran ini berdasarkan perkiraan di lapangan dan pengukuran di peta satelit. Untuk mendapatkan ukuran sebenarnya perlu pengukuran dilapangan.
Gambar 4 Sketsa Lokasi situs kerajaan Kandis
Melihat ciri-ciri atau karakter lokasi, lokasi ini sangat mirip dengan sketsa kerajaan Atlantis yang ditulis dalam mitologi Yunani “Timeus dan Critias” karya Plato (360 SM). Mitologi ini menyebutkan “Poseidon mengukir gunung tempat kekasihnya tinggal menjadi istana dan menutupnya dengan tiga parit bundar yang lebarnya meningkat, bervariasi dari satu sampai tiga stadia dan terpisah oleh cincin tanah yang besarnya sebanding”. Bangsa Atlantis lalu membangun jembatan ke arah utara dari pegunungan, membuat rute menuju sisa pulau. 
Mereka menggali kanal besar ke laut, dan di samping jembatan, dibuat gua menuju cincin batu sehingga kapal dapat lewat dan masuk ke kota di sekitar pegunungan; mereka membuat dermaga dari tembok batu parit. Setiap jalan masuk ke kota dijaga oleh gerbang dan menara, dan tembok mengelilingi setiap cincin kota. Tembok didirikan dari bebatuan merah, putih dan hitam yang berasal dari parit, dan dilapisi oleh kuningan, timah dan orichalcum (perunggu atau kuningan). Ada kemiripan mitologi ini dengan mitologi yang ada di Lubuk Jambi.
Ini hanya sebuah dugaan yang belum dibuktikan secara ilmiah, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Survei arkeologi yang dilakukan ke lokasi belum bisa menyimpulkan lokasi ini sebagai peninggalan kerajaan karena belum cukup barang bukti untuk menyimpulkan seperti itu. Namun sudah dapat dipastikan bahwa daerah tersebut pernah dihuni atau disinggahi manusia dulunya.

Analisa Mitologi Minangkabau vs Mitologi Lubuk Jambi

Terlepas dari benar tidaknya sebuah mitologi, kesamaan cerita dalam mitos tersebut akan mengantarkan pada suatu titik terang. Tambo Minangkabau begitu indah didengar ketika pesta nikah kawin dalam bentuk pepatah adat menunjukkan kegemilangan masa lalu. Tambo Minangkabau dan Tombo Lubuk Jambi, dua cerita yang bertolak belakang. Minangkabau mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Sultan Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain yang berlabuh di puncak gunung merapi. Air laut semakin surut keturunan Maharaja Diraja berkembang di sana hingga menyebar kebeberapa daerah di Sumatra. 
Lain halnya dengan tambo Lubuk Jambi, tambo itu mengatakan bahwa nenek moyangnya adalah Maharaja Diraja putra Iskandar Zulkarnain, berlabuh di Bukit Bakar dan membangun peradaban di sana. Dari Lubuk Jambi keturunan-keturunannya menyebar ke Minangkabau dan Jambi. Namun tambo tidak menyebutkan tahun. Itulah sebabnya daerah ini dinamakan Lubuk Jambi yang berarti asalnya (lubuk) orang-orang Jambi. Menurut ceritanya, Kandis sejak kalah perang dalam ekspedisi Sintong dan penyembunyian peradaban mereka ceritanya disampaikan secara rahasia dari generasi ke generasi oleh Penghulu Adat atau dikenal dalam istilahnya ”Rahasio Penghulu”. Namun kebenaran cerita rahasia ini perlu dibuktikan.
Dari kedua tambo tersebut di atas, dapat ditarik benang merah yaitu ”sama-sama menyebutkan bahwa nenek moyang mereka adalah Iskandar Zulkarnain”. Tapi dalam catatan sejarah yang diketahui Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great/ Alexander Agung) tidak mempunyai keturunan.

Plato-Atlantis-Iskandar Zulkarnain-Kandis

Plato, filosof kelahiran Yunani (Greek philosopher) yang hidup 427-347 Sebelum Masehi (SM). Plato adalah salah seorang murid Socrates, filosof arif bijaksana, yang kemudian mati diracun oleh penguasa Athena yang zalim pada tahun 399 SM. Plato sering bertualang, termasuk perjalanannya ke Mesir. Pada tahun 387 SM dia mendirikan Academy di Athena, sebuah sekolah ilmu pengetahuan dan filsafat, yang kemudian menjadi model buat universitas moderen. Murid yang terkenal dari Academy tersebut adalah Aristoteles yang ajarannya punya pengaruh yang hebat terhadap filsafat sampai saat ini.
Dengan adanya Academy, banyak karya Plato yang terselamatkan. Kebanyakan karya tulisnya berbentuk surat-surat dan dialog-dialog, yang paling terkenal mungkin adalah Republic. Karya tulisnya mencakup subjek yang terentang dari ilmu pengetahuan sampai kepada kebahagiaan, dari politik hingga ilmu alam. Dua dari dialognya “Timeus dan Critias” memuat satu-satunya referensi orisinil tentang pulau Atlantis.
Bagaimana hubungannya dengan Iskandar Zulkarnain, Iskandar adalah anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Iskandar. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Iskandar untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.
Iskandar Zulkarnain murid dari Aristoteles, dan Aristoteles murid dari Plato. Dari hubungan ini dapat diduga bahwa keturunan Iskandar Zulkarnain yang sampai ke Lubuk Jambi terinspirasi untuk membangun sebuah peradaban/Negara yang ideal seperti Atlantis. Maka mereka membangun sebuah istana dhamna “sebuah replika Atlantis”. Namun semua ini masih perlu pengkajian yang lebih mendalam.
KESIMPULAN
Dari penelitian pendahuluan ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
  • Bukit yang terletak pada 0042’58 LS dan 101020’14 BT diduga sebagai situs peninggalan Kandis yang dimaksudkan didalam tombo/cerita adat.
  • Kerajaan Kandis diduga sebagai peradaban awal di nusantara.
  • Kerajaan Kandis merupakan replika dari kerajaan Atlantis yang hilang.
 Kesimpulan ini masih bersifat dugaan atau hipotesa untuk melakukan penelitian selanjutnya. Oleh karena itu penelitian arkeologis akan menjawab kebenaran dugaan dan kebenaran tombo/mitos yang ada ditengah-tengah masyarakat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemangku Adat Kenogorian Lubuk Jambi Gajah Tunggal (Mahmud Sulaiman Dt. Tomo, Syamsinar Dt. Rajo Suaro, Danial Dt. Mangkuto Maharajo Dirajo, Sualis Dt. Paduko Tuan, dan Hardimansyah Dt. Gonto Sembilan), Drs. Sukarman, Mistazul Hanim, Nurdin Yakub Dt. Tambaro, Abdul Aziz Dt. Dano, Bastian Dt. Paduko Sinaro, Ramli Dt. Meloan, Marjalis Dt. Rajo Bandaro, dan Syaiful Dt. Paduko. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Meutia Hestina, Apriwan Bandaro, dan teman-teman yang membantu penulis dalam ekspedisi: Mudarman, bang Sosmedi, Yogie, Nepriadi, Zeswandi, bang Izul, Diris, Ikos, dan Yusran. Mas Sam dan Erli terima kasih atas informasinya.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Datoek Toeah. 1976. Tambo Alam Minangkabau. Pustaka Indonesia. Bukit Tinggi.
  2. Graves, E. E. 2007. Asal-usul Elite Minangkabau Modern. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
  3. Hall, D. G. E. tanpa tahun. Sejarah Asia Tenggara. Usaha Nasional. Surabaya.
  4. Kristy, R (Ed). 2007. Alexander the Great. Gramedia. Jakarta.
  5. Kristy, R (Ed). 2006. Plato Pemikir Etika dan Metafisika. Gramedia. Jakarta.
  6. Marsden, W. 2008. Sejarah Sumatra. Komunitas Bambu. Depok.
  7. Olthof, W.L. 2008. Babad Tanah Jawi. Penerbit Narasi. Yogyakarta.
  8. Samantho, A. Y. 2009. Misteri Negara Atlantis mulai tersingkap?. Majalah Madina Jakarta. Terbit Mei 2009.
  9. Suwardi MS. 2008. Dari Melayu ke Indonesia. Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta.
  10. Koordinator Tim Penelusuran Peninggalan Kerajaan Kandis di Lubuk Jambi Negeri Gajah Tunggal, Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau
ANTARA CERITA DAN FAKTA
Sumber : http://yasirmaster.blogspot.com/2011/06/kerajaan-kandis-atlantis-nusantara.html

ATLANTIS INDONESIA

x magazine
X MAGAZINE 
| ATLANTIS INDONESIA | 

Situs ini adalah milik EXPO 2012 Online dibawah perusahaan GLOBAL INDO AURA, didalamnya memuat berbagai artikel tentang atlantis. Dimana dalam hal ini mengkhususkan diri untuk menulis artikel tentang Atlantis, lemuria, kejawen, dan berbagai hal yang dianggap berhubungan dengan Atlantis Indonesia.
Kenapa harus menulis tentang ATLANTIS INDONESIA? Atau menghubungkan Atlantis dengan Indonesia? Atlantis memang sebuah cerita yang seperti dongeng pengantar tidur dimana menggambar sebuah negeri sorgawi yang mengalamai masa kejayaan. Negeri itu, seolah menggambarkan tentang kondisi alam Indonesia yang kaya-raya gemah ripah loh jenawi. 
Ini semua agar memotivasi dan menumbuhkan keyakinan dihati seluruh anak negeri Indonesia bahwa INDONESIA adalah negara besar yang mempunyai berbagai persyaratan untuk berjaya. Berjaya sebagaimana Negeri yang digambarkan oleh Plato dan bersusah payah dibuktikan oleh seorang peneliti dari Brazil Aryo Santos “Terimakasih Besar Pak SANTOS. Atas jasa dan keingin tahuannya yang besar melakukan penelitian hingga puluhan tahun hanya untuk membuktikan bahwa INDONESIA ITU ALTANTIS.  

Global Indo Aura

UNTUK ITU
UNTUK INDONESIA ATLANTIS

KAMI berharap, komentar, saran, dan masukannya sehingga kedepan blog ini dapat lebih baik lagi. Sehingga dapat berkontsribusi terhadap Bangsa INDONESIA membangun pemikiran-pemikiran yang penuh rasa percaya diri dan mempunyai keyakinan yang kuat untuk maju dan berjaya.
Karena, pada dasarnya hanya rasa percaya diri dan keyakinan yang kuatlah yang dibutuhkan oleh bangsa   INDONESIA untuk berjaya menjadi negeri yang besar. Alam yang kaya merupakan jelmaan tangan Tuhan telah mendukung untuk itu. Untuk INDONESIA BERJAYA.
| NOTE |
Beberapa artikel dan tulisan yang ada di blog XMAGAZINE ini telah dimuat pada MAJALAH EXPO 2012 secara offline. 
Salam hormat saya:
DEDI ARIKO

Bukti, Atlantis Itu Indonesia

Bukti Alantis itu Indonesia
Photo ilustrasi   | apasihitu.com

X Magazine | INDONESIA ATLANTIS | Membuka tabir yang menghubungkan Atlantis dengan Indonesia memang mengasikkan. Cerita indah tentang masa kejayaan peradaban pada suatu massa “apalagi di Indonesia” seolah mampu menyirami hati yang hampir sebagian masyarakat kita belakangan ini terpuruk karena berbagai persoalan bangsa.

Setidaknya, berdasarkan pemikiran saya, cukup memotivasi dan menambah rasa percaya diri agar berani bermimpi tentang hal-hal besar yang dalam kurun waktu panjang jarang dilakukan masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia pernah bermimpi besar dan terbukti menjadi nyata. Yakni ketika mengimpikan untuk merdeka dari tangan penjajah di saat segala sesuatunya boleh dianggap tidak memungkinkan. Dan, entah kenapa lama-kelamaan malah semakin redup.

Atau memang kita perlu sosok-sosok seperti pendahulu kita, sosok seperti Soekarno Presiden pertama Indonesia. Sosok yang berani mangajak masyarakat nya untuk bermimpi besar. Sehingga tumbuh menjadi keyakinan.

Kenapa harus tumbuh menjadi keyakinan? Karena keyakinan lah yang membuat segala sesuatu itu menjadi nyata. Keyakinanlah yang membuat sesuatu bisa menjadi pasti. Keyakinan lah yang mampu mengalahkan hukum logika.
Sekali lagi, keyakinanlah inti dari berbagai penciptaan yang dilakukan manusia. Keyakinan lah yang harus dimiliki manusia untuk mampu melakukan berbagai hal. Keyakinan lah yang memunculkan sumber daya maha tinggi sang pencipta sehingga bisa dirasakan manusia.
Keyakinan pula yang membuat buah dari pemikiran-pemikiran yang ghaib menjadi nyata. Banyak agama, banyak aliran kepercayaan, banyak ajaran-ajaran, ilmu, dan lainnya, menekankan tumbuhnya sebuah keyakinan sehingga mampu melihat dan merasakan keberadaanya.

Ah.. Jadi terlalu panjang mukadimanya. Dan intinya untuk postingan kali ini, lebih kepada menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri kita sebagai bangsa besar dan mampu untuk berbuat hal-hal besar.

Indonesia adalah pewaris masa kejayaan Atlantis dan keyakinan masyarakat Indonesia itu sendirilah yang nantinya akan mewujudkan bahwa kejayaan itu bisa kembali menjadi nyata. Syarat sebagai bangsa besar dan berjaya, pada dasarnya di miliki benar oleh alam Indonesia. Negeri makmur nan subur dengan berbagai potensi alam yang kaya dan berlimpah ruah.

Tidak akan ada sebuah bangsa, golongan, kelompok, atau persatuan yang mampu menahannya ketika keyakinan itu muncul. Bahkan, tangan tuhan pun akan muncul untuk segera membuatnya menjadi nyata.

Untuk sekedar menambah keyakinan itu, saya kutip dari http://sosbud.kompasiana.com/ sebuah artikel yang berjudul “Cendana, Cengkeh, Pala sebagai Pembuka Tabir Misteri Geografis Atlantis yang Hilang”

Artikel yang di tulis oleh Chris Boro Tokan ini cukup memikat dan membuat pemikiran kita seolah menjelajah kembali kemasa silam. Sebenarnya, jika kita ingin sekali lagi melihat di sekeliling kita, bukti nyata syarat bangsa Indonesia menjadi besar itu sebenarnya lengkap.

Chris Boro Tokan menulis bahwa:

Adalah seorang Munandjar Widiyatmika menegaskan bahwa atas dasar pemberitaan tertulis perdagangan cendana yang berlangsung sekitar awal abad Masehi, secara tidak langsung merupakan bukti mulainya masa sejarah Nusa Tenggara Timur. Cendana yang sangat laku di pasaran dunia adalah hasil dari bumi Nusa Tenggara Timur. Memang cendana juga dihasilkan oleh beberapa pulau di wilayah Oceania, namun cendana dari wilayah tersebut baru masuk pasar internasional setelah orang barat mencapai wilayah tersebut (Dalam Karyanya LINTASAN SEJARAH BUMI CENDANA, Thn 2007), hal 18-19.

Begitupun Cengkeh dan Pala terkenal di dunia sebagai rempah-rempah yang dicari orang Barat (Eropa), merupakan komoditi yang tidak ada dua-nya di bumi ini, menjadi ciri wilayah kepulauan Maluku. Membuat para petualangan rempah-rempah terkecoh dengan Semenanjung Malaya (Malasya) yang saat itu hanya sebagai bandar perdagangan, menamakan Malaka untuk Selat yang meghubungkan Pulau Sumatra dengan Semenanjung Melayu.

Sesungguhnya nama Malaka itu milik Maluku (Indonesia), karena nama itu asalnya dari kata Mollucas yang berarti Rempah-rempah (Bandingkan Arysio Santos : ATLANTIS The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization (2005), diindonesiakan (2009) plus subjudul: INDONESIA TERNYATA TEMPAT LAHIR PERADABAN DUNIA, hal. 236).

Spanyol vs Portugis, Portugis vs Belanda

Sedemikian masyurnya cendana putih dari NTT dan rempah-rempah dari Maluku, sehingga konon para pedagang Melayu suka berkata, “Tuhan menciptakan NTT untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkeh”. Karena kemasyuran Cengkeh dan Pala membuat di antara bangsa Barat (Spanyol dan Portugis) bertikai untuk memperebutkan wilayah ini yang melibatkan Vatikan (Sri Paus) turun tangan melerai. Begitupun kewangian Cendana, juga Cengkeh dan Pala yang tidak ada dua-nya di dunia, belakangan membuat bangsa Belanda bertikai dengan bangsa Portugis di bumi Maluku berujung di bumi NTT.

Tercatat dua orang Paus di era masing-masing mereka menduduki Takhta Suci Vatikan, memediasi Perjanjian untuk mengakhiri konflik Spanyol versus Portugis (Dalam Rene Albrecht-Carrie, Europe 1500 – 1848, Copyright 1962 By Liitlefield, Adams & Co, Paterson, New Jersey, hal. 43). Adalah Paus Pius Alexander VI turun tangan menengahi melalui Perjanjian Trodisillas 1494, berisi: 1, Bangsa Portugis mendapat dunia kafir sebelah Timur, sedangkan dunia kafir sebelah Barat diserahkan kepada Spanyol. 2, Garis demarkasi kedua daerah ini ialah garis meridian 370 mil sebelah Barat pulau-pulau Tanjung Verde (Tanjung Hidjau).

Campur tangan Sri Paus untuk melerai pertikaian atas dua negera kolonial katolik ini, dapat diapahami dalam misi yang diemban oleh masing-masing negara antara lain tugas suci (ghospel). Tugas suci untuk menyebarkan agama Kristen kepada penduduk dunia, selain meningkatkan kedigdayaan negara dengan menaklukan dan menemukan daerah baru (glory), serta memperoleh emas dan rempah-rempah (gold) dari daerah baru yang ditemui dan ditaklukan. Belakangan muncul bangsa Belanda dalam pertikaian di wilayah cendana dan rempah-rempah versus bangsa Portugis.

Dengan demikian dapat terpahami, bahwa usaha bangsa Barat melakukan petualangan pelayaran yang melegenda seperti Amerigo Verpuci, Marco Polo, Magelhaens, Vasco da Gama, Christoforus Columbus untuk menemukan daerah baru, menaklukan/menjajah wilayah bangsa lain, senantiasa untuk tugas suci keagamaan (Ghospel). Selain demi keharuman nama negara masing-masing (Glory), juga untuk urusan menemukan sumber ekonomi yakni emas dan rempah-rempah (Gold), diakronim dengan sebutan: 3G. Rempah-rempah dan emas, antara lain menjadi pembuka tabir geografis pencarian surga empirik yang hilang (Atlantis yang hilang). Karena sesungguhnya petualangan pelayaran dalam mengelilingi dunia oleh Bangsa Barat itu hendak menemukan surga empirik yang hilang itu.

Perjanjian Trodisillas bagi kedua bangsa yang bertikai, belum menjamin kepastian kekuasaan mereka di Wilayah kepulauan Maluku. Masing-masing mereka (Spanyol dan Portugis) mengklaim berhak atas wilayah rempah-rempah itu. Memaksa Paus Clemens VII memediasi melalui Perjanjian Saragoza tahun 1529, bahwa: 1, Bangsa Spanyol tidak boleh menginjak kepulauan Maluku lagi. 2, Sebagai ganti rugi bangsa Spanyol mendapat 350.000 crusados. 3, Kepulauan Filipina dikuasakan kepada orang Spanyol.

Namun kurang lebih se abad kemudian, yakni 25 Februari 1605, Bangsa Belanda menduduki Benteng Porutgis di Pulau Ambon (Maluku), memaksa orang-orang Portugis berpindah. Sebagian berpindah ke Philipina, dan sebagiannya menuju benteng pertahanan mereka di pulau Solor. Belakangan menjadi pertikaian bangsa Portugis dengan bangsa Belanda memperebutkan wilayah wewangian cendana bumi NTT. Pertikaian ini diatasi melalui Traktat Lisabon tanggal 20 April 1859, berisi: 1, Portugis menyerahkan haknya atas kepulauan Solor dan Kepulauan Qalliau. 2, Portugis melepaskan haknya atas Pulau Timor, kecuali bagian Timurnya. 3, Portugis mendapat pergantian kerugian sebesar 200.000 gulden dari negeri Belanda. 4. Belanda harus menjamin perawatan rochani umat Kristen Katolik di kepulauan Solor, Kepulauan Qalliau dan pulau Timor bagian Barat (Bandingkan Martinus Luli Hada dalam Skripsi ADONARA MENENTANG IMPERIALIS, 1974, hal. 13-14, dan 28).

Pertikaian bangsa Spanyol vs bangsa Portugis memperebutkan wilayah Maluku, pertikaian bangsa Portugis vs bangsa Belanda memperebutkan wilayah Maluku dan NTT, menandakan betapa penting ke dua wilayah ini bagi bangsa Eropa. Pertikaian disebabkan oleh Cendana, Cengkeh dan Pala, selain itu juga strategisnya wilayah ini dalam pelayaran samudra tempo dulu. Strategisnya perairan laut Maluku menjadi pintu masuk dari samudra Pasifik, sedangkan perairan NTT dalam posisi pintu masuk dari samudra Hindia. Dengan demikian jalur kepulauan Maluku menjadi penghubung dari Timur (gerbang masuk dari samudra Pasifik) untuk menuju ke Barat (melalui samudra Hindia). Begitupun sebaliknya kepulauan NTT menjadi penghubung dari Barat (gerbang masuk dari samudra Hindia) menuju ke Timur (melalui samudra Pasifik).

Pembuka Tabir Misteri Atlantis yang Hilang, tempat Matahari Terbit dan Terbenam

Misteri tentang Atlantis yang Hilang dalam polemik berabad-abad melalui kajian para pengarang yang berlandaskan warisan gagasan Filsuf Besar Yunani, Plato (dalam Timaeus dan Critias), terbuktikan berada di wilayah Indonesia. Pembuktian itu melalui kajian Arysio Santos (hal. 68-280, 533-554), yang menegaskan bahwa dari sekian wilayah di dunia yang diselidiki sebagai lokasi Atlantis yang hilang (surga empirik yang hilang) itu, ternyata wilayah Indonesia yang memenuhi persayaratan.

Meneguhkan penandasan Arysio Santos mengenai wilayah Indonesia yang sesungguhnya menjadi wilayah Atlantis yang Hilang, tentunya posisi geografis Kepulauan Nusa Tenggara (NTB dan NTT) dan Kepulauan Maluku menjadi sangat penting, sebagai pembuka tabir misteri Surga Empirik yang hilang itu. Seperti elaborasi Arysio Santos terhadap sebutan Pulau versi Plato, yakni nesos dalam bahasa Yunani, sesungguhnya merujuk kepada pulau-pulau versi dunia di Indonesia. Kata nesos berarti tanah yang tenggelam dari kata dvipa yang digunakan oleh orang-orang Hindu, berarti juga benua (hal. 22).

Telusuran lebih jelas tentang kata insula dari bahasa Latin dan kata nesos dari bahasa Yunani, pada dasarnya dari kata incu bahasa Dravida, berarti tanah yang berair, rawa. Menurut Diodorus Siculus, atlantis yang tenggelam dalam rawa Tritonides, sekaligus menegaskan bahwa Atlantis adalah benua yang tenggelam. Berikut kiasan untuk surga atalantis yang hilang dikenal dengan Taman Hesperides (atau Atlantides) sesungguhnya bermakna taman yang memiliki dua perairan dari bahasa Dravida yang merujuk makna kata dvipa=dvi-ap, berarti memiliki air di kedua sisi(hal 22-23).

Tercermati makna dua perairan dari kata dvipa=dvi-ap (bahasa Dravida) itu merujuk kepada perairan samudra Pasifik dengan samudra Hindia. Dua perairan yang menjadi gerbang masuk dari Timur menuju Barat atau dari Barat menuju Timur. Gerbang masuk, oleh Plato menegaskan sebagai salah satu indikator geografis terletak Benua Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang). Merujuk keyakinan Buddha Amitabha menandaskan bahwa itu wilayah sesungguhnya Surga Buddha tempat Matahari Terbit, yakni di Barat (Arysio Santos, hal. 36).

Dapat termaklumi bahwa Barat yang dimaksudkan sebagai tempat Surga Buddha itu, sesungguhnya Barat Terjauh (Kepulauan Nusa Tenggara), dan di situ juga Timur Terjauh (Kepulauan Maluku). Kedua wialayah ini terletak pada poros bumi, dua ujung terjauh dunia bertemu: yakni penyatuan ujung Timur dan ujung Barat dari Bumi. Timur Terjauh dan Barat Terjauh menunjuk kepada satu wilayah/ satu lokasi dalam pengertian purba. Mengingat Bumi berbentuk bulat, sehingga ujung Timur Terjauh dan ujung Barat Terjauh itu menyatu menjadi satu tempat/satu wilayah (Arysio Santos, hal.27-28). Wilayah itu adalah terbit dan terbenamnya Matahari, lokasi Surga Empirik yang Hilang, tempat Taman Eden (Kebun Firdaus yang Hilang), ibukota kekaiseran Atlantis yang Hilang.

Timur Terjauh menjadi wilayah kepulauan Maluku penghasil rempah-rempah (Cengkeh dan Pala), komoditi yang tidak ada duanya di bumi. Barat Terjauh dalam hal ini Nusa Tenggara Timur wilayah penghasil Kayu Cendana yang kualitas kewangiannya sampai kekinian tidak tertandingi di dunia. Wilayah penghasil rempah-rempah dan bahan wewangian antara lain menjadi bagian fakta flora penegasan gagasan Plato tentang ciri Benua Atlantis yang Hilang (Arysio Santos,hal. 134). Dengan demikian fakta flora dan fakta letak geografis tentang Benua Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang), seperti yang digagaskan Plato dan dielaborasi Arysio Santos, sulit terbantahkan untuk menempatkan Nusa Tenggara dan Maluku sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sekaligus sebagai bukti nyata bahwa Atlantis yang Hilang itu menjadi pewaris yang syah: adalah Indonesia.

Memang, jasa almarhum Arysio Santos untuk membuktikan Indonesia sebagai ahli waris syah wilayah Atlantis yang Hilang (Surga Empirik yang Hilang), tidak dapat tertandingi dan sulit untuk dibantah oleh siapapun. Namun penegasan lokasi Selat Sunda dan Pulau Sumatra menjadi penunjuk poros tentang ibukota kekaiseran Atlantis yang Hilang itu (hal. 533-554), terletak di Pulau Sumatra atau Taprobane (sebutan purba untuk pulau Sumatra), tentu masih harus dikaji secara cermat. Pengkajian secara cermat, demi pembuktian lokasi Matahari Terbit dan Matahari Terbenam, yakni Timur Terjauh dan Barat Terjauh. Karena di tempat Matahari Terbit dan Matahari Terbenam itu, sesungguhnya poros Taman Eden (Kebun Firdaus), sekaligus ibukota Kekaiseran Surga Empirik yang Hilang (Atlantis yang Hilang).***  Dataran Oepoi, Kota Karang Kupang, Tanah Timor, Tanggal 2 Mei 2011. 

Oke terimakasih Chris Boro Tokan telah menyibukkan diri, berpikir, dan meluangkan waktunya untuk membaca lalu menulis. Mencari pembuktian dan pembenaran tentang Indonesia sebagai pewaris kejayaan Atlantis.

Tidak lah layak lagi kita untuk memungkiri tentang hubungan Atlantis dengan Indonesia. Malah yang perlu dilakukan adalah berupaya mempercayainya dan menumbuhkan keyakinan di diri kita tentang hal itu. Sehingga kebesaran yang pernah hilang itu bisa muncul lagi.

Sekali lagi, yang kita butuhkan hanyalah keyakinan. Bahkan keyakinan bisa melampaui logika. Contoh kasarnya, seberapa banyak masyarakat Indonesia yang mampu melampaui logika, seperti kebal dari senjata tajam atau lainnya.

Keyakinan seperti itulah yang kita butuhkan untuk mampu bangkit keluar dari logika seperti mewujudkan mimpi kita mampu bebas dari penjajah zaman dulu. Bermimpilah.. Yakinilah… Niscaya tangan tuhan akan mewujudkannya…

Indonesia Truly Atlantis

INDONESIA TRULY ATLANTIS
INDONESIA TRULY ATLANTIS

xmagazine—Ingat iklan pariwisata Malaysia yang cantik itu ? Malaysia, Truly Asia…

Banyak orang kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih banyak dijumpai di pelbagai wilayah Indonesia dari pada di Malaysia. Bahkan lebih dari itu!Yah, kita selalu ‘keduluan’ oleh mereka.

Hal lain yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah manakala ada yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika atau di luar negeri yang tidak mengenal Indonesia. Katanya, mereka tahu Bali, tapi Indonesia itu dimana?…., ‘konon tanya mereka’.

Tapi perkembangan terbaru sebenarnya sangat berbeda; mempromosikan Indonesia akhir-akhir ini mestinya ibarat mendayung perahu ke hilir, yang didorong arus sungai dari belakang. Banyak kemudahan yang didapat secara gratis.

Atau bisa juga di ibaratkan, mendorong mobil di jalan yang menurun. Tinggal dorong dengan jari telunjuk, langsung meluncur dengan cepat. Kenapa bisa begitu? Kenapa Indonesia bisa mendunia?

Sekali lagi bukan karena banyaknya bencana alam atau huru-hara. Apalagi teroris. Hal ini dapat terjadi terutama karena ulah Prof. Arysio N. dos Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.

Di buku phenomenal hasil penelitian saintis asal Brazil itu secara tegas menyatakan bahwa; Atlantis negeri eden nan penuh misteri yang hilang itu sudah ditemukan. Benua bernuansa dongeng yang pertama kali di ucapkan Plato tersebut, menurut Arsio Santos itu ternyata Indonesia!

Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa.

Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan, guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis pada masa itu.

Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Caribea, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata. Atau misteri yang abadi.

Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah.

Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya. Dia mengatakan, bahwa ia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini.

Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.

Yang jelas, Santos telah di untung oleh penemuan versi nya ini. Bahkan, beberapa waktu lalu, dalam sebuah situs disebut bahwa bukunya saat ditanya di ‘Amazon.com’ pernah habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah situs di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visits. Bahkan terus bertambah.

Indonesia sendiri, sebagai objek penelitian Santos sebenarnya juga dapat diuntungkan dalam hal tersebut. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana besar.

Sebagaimana dapat diikuti dari websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World).

Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.

Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.

Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.

Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis ‘Wallace’.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .

Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Lihat Gambar 1.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat.. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.

Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.

Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian.

Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.
Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu.

Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.

Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!).

Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.

Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.

Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi suci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.  Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia.

Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.

Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik.

Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain.

Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.

Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia.
Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.

Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas. 

Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.

Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.

Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.

Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ?

Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini? Dan akan membuat Indonesia menjadi perhatian dunia!

Apatis
Rata-rata para pakar Indonesia malah cenderung tidak mau atau belum mau mempercayai hal tersebut. Beberapa diantaranya, menyatakan perlu pembuktian lebih lanjut. Bahkan sebagian dari masyarakat Indonesia kemungkinan besar cenderung mencemooh penemuan tersebut.

Demikian juga dengan pemerintah Indonesia, belum ada tanda-tanda menyambut baik dan memanfaatkan moment tersebut. Apalagi melakukan langkah-langkah nyata menjadikan Atlantis sebagai icon Indonesia yang kemudian mengklaim hal tersebut.

Atau minimal mencoba merenung penyebab Atlantis dulu hancur: penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya seperti sekarang ini. Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti, kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

Khususnya bagi warga Minang atau Sumatera Barat, ada juga ‘utak-atik’ yang bisa dilakukan.

Santos mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa berbagai kisah tentang negara bak ‘surga’ yang kemudian menjadi hilang, bencana banjir besar, letusan gunung berapi, dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah berbagai bangsa di seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya.

Apa pula kata Tambo Minangkabau tentang ranah Minang zaman dulu?“….Pada maso sabalun babalun balun, urang balun pinangpun balun, samaso tanah ameh ko sabingkah jo Simananjuang, kok gunuang baru sabingkah batu, tanah darek balun lai leba……, lah timbua gunung Marapi” (Pada masa serba belum, orang belum pinangpun belum, semasa tanah emas ini masih menyatu dengan Semenanjung, gunung baru sebingkah batu, tanah daratan belum lebar, sudah timbul gunung Merapi).
Ada lagi “…waktu bumi basintak naiak, lauik basintak turun…” (Sewaktu daratan bergerak naik, laut bergerak turun). ‘………Samaso tanah ameh sabingkah jo Simananjuang’ , ini adalah masa sewaktu Atlantis masih exist.

Konon kabarnya pula, sejumlah menhir yang berjumlah 800an buah di Mahat posisinya menghadap kearah matahari terbit, atau kearah Timur. Arah Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa bumi.
Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam kisah Atlantis, yang disebut sebagai Taprobane.
Dulu Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat ukuran besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah Sumatera yang dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang termasuk gajah. Itulah kira-kira teori Santos secara sangat ringkas.

Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Santos http://atlan. org/ atau membeli bukunya yang kemungkinan besar telah dicetak ulang oleh penerbit ‘Amazon.com’.

Potensi Indonesia
Jelas sudah bangsa Indonesia jauh lebih hebat dibandingkan bangsa Yahudi, Arab, Eropa dan semua bangsa karena alasan inilah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam warna kulit dan amat sangat besar. Dimana jika bersatu dan mampu memanfaatkan setiap potensi yang ada, baik sumber daya alam maupun berbagai warisan budaya, seni dan lainnya, maka sangat ditakuti dan menjadi super power dunia.

Sejarah mencatat, nenek moyang Indonesia atau nusantara ini, jauh sebelumnya pernah mencapai masa kejayaannya. Selain situs-situs prasejarah yang banyak ditemui, juga terdapat bukti nyata dan tercatat sebagai salah satu ke ajaiban dunia adalah candi borobudur.
Masihkah masyarakat Indonesia tidak mau mempercayainya?
Note Xmagazine:
Dunia adalah alam dongeng dan impian. Dimana segala sesuatunya dapat menjadi kenyataan jika ada keyakinan. Dan Nusantara, atau saat ini di sebut sebagai Indonesia, pendudukanya adalah manusia yang mampu melampaui berbagai ketidak mungkinan. Bahkan mampu melawan logika manusia.

Diberbagai negara maju, beberapa dekade ini, menyatakan bahwa telah mampu membuat penemuan-penemuan baru secara saintis. Neotech, quantum teleporter, dan lainnya.

Neotech, bagi Indonesia adalah ilmu ‘klenik’ yang pernah dimiliki oleh para leluhur bangsa ini. Dan saat ini cenderung telah ditinggalkan. Bahkan, bagi bangsa Indonesia, beberapa ketidak mungkinan secara logika-bagi bangsa Barat, adalah kebudayaan dan semacam permainan yang menghibur.

Sebut saja salah satu contohnya, seni kebudyaan ‘debus’, kebal senjata tajam, kulit atau anggota tubuh yang mempu ditembus benda tajam dan tidak menimbulkan luka. Bagi bangsa luar yang merupakan hal tidak mungkin secara logika, bagi Indonesia adalah biasa.

Quantum teleporter, bagi bangsa-bangsa maju dan dinyatakan temuan baru. Bagi bangsa Indonesia itu adalah memindahkan benda atau sesuatu ketempat lain tanpa di sentuh. Lalu masyarakat Indonesia bisa saja menyebutnya semacam ‘santet’.

Kencendrungan bagi sebagian besar masyarakat bangsa Indonesia adalah belajar dan berkiblat dengan bangsa lain. Berpikir dan meyakini bahwa bangsa lain lebih hebat dari bangsanya sendiri. Berupaya penuh untuk meniru dalam banyak hal.

Kecendrungan  ini telah terjadi sejak lama sekali. Sehingga secara perlahan Bangsa besar dengan wilayah yang besar tersebut secara perlahan kehilangan jadi diri sendiri.

Bangsa Indonesia seolah mengadopsi ilmu demokrasi dari luar. Padahal, sejatinya, demokrasi telah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya. Hal ini  terbukti dengan tumbuhnya berbagai macam agama-agama dan besar di Nusantara.

Indonesia kaya dengan budaya dan aneka ragam pemikiran. Indonesia telah bebas berpikir dan menentukan cara berpikir jauh-jauh sebelumnya.  Indonesia adalah Pancasila.

Namun, kemudian, mayoritas dari masyrakat bangsa Indonesia saat ini, tidak berani bermimpi. Dan cenderung kehilangan keyakinan sebagai bangsa yang mampu menerobos ketidak mungkinan bagi bangsa lain dan mungkin bagi bangsa Indonesia. Jati diri Indonesia. Bahkan malah merasa rendah diri atau tidak percaya diri.

Indonesia Truly Atlantis
Teori dan hasil penemuan Santos, mungkin ada benarnya jika merujuk pada jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya. Atau jika pun itu hanya dongeng Plato yang kemudian oleh profesor asal Brazil itu dikait-kaitkan dengan Nusantara dan kemudian di cari pembenarannya, apakah akan timbul persoalan?

Yang jelas Indonesia sebenarnya bisa sangat diuntungkan oleh hal tersebut. Mata dunia bisa saja akan tertuju kepada Indonesia. Bisa mengakui atau tidak.

Namun Indonesia bisa melakukan ‘klaim’ dan menjadikan Atlantis sebagai icon promo berbiaya murah. Seperti bagaimana negara luar menjual sejuta misteri “Segi Tiga Bermuda” atau lainnya.

Atau seperti klaim yang dilakukan negeri tetangga kita,  Malaysia, Truly Asia…  negeri serumpun yang seringkali selangkah lebih cepat dari Indonesia. Dan sayangnya bagi bangsa Malaysia, Santos tidak melakukan penelitian dan mencari pembenaran teorinya di sana.

Mungkin saja Atlantis adalah dongeng atau mimpi. Namun Indonesia sebenarnya mampu membuat mimpi itu menjadi kenyataan dengan kekayaan alam dan keanekaragamannya. Disisi lain, bukankah jati diri bangsa Indonesia adalah mampu menerobos hal yang tidak mungkin?

Artinya, negeri mimpi Plato yang dicari pembenarannya oleh Santos di Indonesia tersebut adalah hal yang sangat mungkin diwujud menjadi nyata di republik ini.  

Saat ini maukah Indonesia melangkah dengan keyakinannya? Atau mungkin, adakah, perusahaan penerbangan, daerah, kota, pulau, yang akan memulai dengan iklan: INDONESIA, Truly Atlantis…

Link terkait
http://www.atlan.org/copyright/
http://kadaikopi.com/?p=1668

Hubungan Kejawen dengan Atlantis

Hubungan Kejawen dengan Atlantis Nusantara
Jika seandainya, kita yang sebagai pewaris masa kejayaan ATLANTIS mau membuka diri tentang ajaran-ajaran budaya tingkat tinggi (KEJAWEN) yang sebelumnya pernah kita miliki, maka banyak hal yang harus dipelajari bangsa lain tentang kehidupan pada Indonesia. 

Termasuk tentang demokrasi yang malah seolah kita adopsi dari luar.  Padahal itu milik kita yang sudah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya.

X MAGAZINE —– Banyak orang, menghubungkan kata “KEJAWEN” dengan hal-hal yang berkaitan dengan mistis. Bahkan sebagian menganggap Kejawen cenderung mengarah pada klenik. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kata kejawen sendiri menjadi suatu bagian dari hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Padahal sebenarnya lebih dari itu.
Namun secara pribadi, “walau saya sebenarnya bukan orang jawa” sangat tertarik dengan Kejawen. Ada banyak hal yang dapat kita pahami maupun kita cerna seputar ilmu budaya dengan nuansa kental “jawa” ini.
Sekali lagi, bagi saya, Kejawen, adalah sebuah pemantaban perilaku dan tata cara berfikir maupun berkehendak dimana didalam hal ini terdapat banyak sekali pengetahuan yang sebenarnya jika kita gali dan kita kaji secara mendalam akan membuahkan sebuah pengertian bahwa dalam budaya jawa seseorang dituntut untuk berperilaku maupun bertindak selaras dengan hati maupun pikiran,karena tanpa disadari perilaku seperti ini memiliki dampak kepekaan antar individu khususnya dalam sebuah komunitas sosial, dimana perilaku tersebut dapat menjadikan keberadaan sebuah individu menjadi lebih aman dan mengerti tentang apa yang harus yang pantas dilakukan dan apa yang tidak.
Kesadaran seperti ini akan sulit sekali kita pahami jika kita tidak memulai menjadikan segala sesuatu berakar dari dirinya sendiri (SEBAB AKIBAT) seperti hal-nya sebuah filosofi jawa “tepo seliro” yang berarti belajar memahami segala sesuatu dari apa yang kita perbuat kepada orang lain,bahwasanya setiap manusia memiliki watak maupun kepentingan yang berbeda dengan kita,oleh karena itu patutlah kita menghargainya.
Dari seklumit tentang budaya jawa ini, maka, dapatlah disimpulkan bahwa, jika belajar untuk memulai menata keselarasan antara pikiran dan prilaku kita maka, dengan sendirinya akan terbentuk kemampuan pemahaman yang sangat dinamis dalam kehidupan sehari-hari.
Selain etika bersosialisasi dalam budaya jawa juga terdapat banyak sekali pengetahuan yang dapat kita pelajari, salah satunya adalah tentang kesehatan,baik kesehatan jiwa maupun jasmani. Semuanya dapat kita pelajari dalam budaya jawa.
Manunggaling Kawula Ghusti, merupakan makna yang dalam bagi Seorang Kejawen. Oleh karenanya, terkadang makna oleh bebarapa pihak yang non Kejawen, sering terpelintir esensi dari makna Manunggaling Kawula Ghusti itu sendiri.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan, untuk memuluskan pemasaran ajaran import yang dibawanya ke dalam Masyarakat Jawa yang sengkretis.  Manunggaling Kawula Ghusti sama sekali bukan bermakna bersatunya kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Makna sebenarnya dari Manunggaling Kawula Ghusti adalah, bahwa hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh agama-agama Rasul.

Dalam pemahaman Kejawen, hubungan setiap orang kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hubungan yang unik, karena pada awalnya setiap orang yang lahir di muka bumi adalah TitipanTuhan Yang Maha Esa.

Analogi lain: Jika kita mencintai dan menyayangi Ibu kandung kita, dan mengatakan bahwa Ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan Ibu kita ada dalam badan kita?

Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Ghusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih.

Hubungan Kejawen dengan Peradaban Atlantis

Sistem peradaban masa kejayaan zaman Atlantis kemampuan manusia lebih diukur dari sisi kematangan jiwa spiritualnya. Pendidikan sejak masih bayi pun lebih mengedepankan keluhuran budi dan pementukan mental dan karakter.  

Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan (Meditasi). Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain (Dasar-dasar demokrasi). Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.

Sementara dalam perikehidupan masyarakat Kejawen, kematangan mental dan spiritual juga menjadi bagian penting dalam tatanan kehidupan. Sehingga, dalam upaya penyadaran diri lebih ditekankan pada hakikat atau ensensi pengenalan jati diri manusia itu sendiri. Intelejensi spiritual lebih dominan dalam mengontrol prilaku manusia Kejawen.
Bagi saya, yang bukan orang jawa, dasar-dasar Kejawen, tidak seperti agama-agama yang bermunculan dewasa ini. Dimana lebih menonjolkan tentang aturan-aturan atau tata cara beragama. Sehingga agama cenderung lebih bernuansa doktrin-doktrin yang harus diyakini tanpa perlu bertanya. Baku dan terorganisir. Sehingga syariat terkadang terlihat lebih penting dari pada hakikat.
Kejawen, jika dilihat dari history proses terbentuknya Negara Indonesia, sebenarnya bukan agama Jawa, ia adalah sebuah ajaran tentang makna kehidupan yang telah ada jauh sebelum adanya cikal bakal Indonesia. Mungkin bisa kita sebut “untuk mempersatukan wilayah” adalah NUSANTARA. Atau jika ingin lebih jauh lagi adalah ATLANTIS.
KEJAWEN hadir, jauh sebelum adanya agama. Karena kecendrungan ajarannya bukan  mengarah pada system tata cara beragama, tapi lebih kepada hakikat spiritualis yang demokrasi dalam berpikir. Maka, potensi agama-agama untuk masuk dalam ranah KEJAWEN sangat besar. Terbukti di NUSANTARA agama terbilang cukup banyak berkembang dan besar. Bahkan mendominasi.
Kejawen, adalah sebutan bagi masyarakat  JAWA untuk ajaran tentang makna kehidupan. Dan sebenarnya makna kehidupan ini merupakan ajaran bagi peradaban cikal-bakal nusantara. Ia bagian dari warisan ajaran-ajaran peradaban bangsa ATLANTIS yang jaya pada masa. KEJAWEN adalah ajaran makna kehidupan yang relevan bagi semua manusia.
Kenapa ajarannya sukar untuk masuk dalam ranah kehidupan para pemeluk agama yang sudah terlanjur merasakan kebeneran-kebenaran agama, maka KEJAWEN kemudian terpelintir dan mengalami penolakan  sebelum dipelajari, dilihat, dan dirasakan.
Disisi lain, label ajarannya yang sudah melekat dan dinamai sebagai KEJAWEN, sehingga membuat orang yang merasa diluar JAWA merasa dan berpikir itu bukan untuknya.
Padahal sejatinya, ia adalah ajaran makna kehidupan yang mengajak kita untuk melakukan perjalanan spiritualis jauh lebih tinggi dalam merasakan keberadaan sesuatu yang MAHA. Atau sering kita sebut tuhan. Sesuatu yang pasti bukan karena keyakinan yang tumbuh akibat doktrin.
Jika seandainya, kita yang sebagai pewaris masa kejayaan ATLANTIS mau membuka diri tentang ajaran-ajaran budaya tingkat tinggi (KEJAWEN) yang sebelumnya pernah kita miliki, maka banyak hal yang harus dipelajari orang bangsa lain tentang kehidupan. Termasuk tentang demokrasi yang malah seolah kita adopsi dari luar.  Padahal itu milik kita yang sudah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya. 

Createdby: dediariko

Ajaran Syeh Siti Jenar

Ajaran Metafisis Filosofis Hakekat

X magazine — Nusantara memang kaya akan filosofi kehidupan. Budaya dan ajaran leluhur mungkin bagian yang membuktikan bahwa pada masanya Nusantara pernah berjaya.

Namun entah kenapa, jika saat ini kita dapat dikatakan sedikit terbelakang dalam berbagai hal dengan dunia luar. Atau mungkin karena kita lupa akan sejarah dan kemudian berkiblat kebudaya dan filosofi hidup yang bukan jati diri kita?

Jika mau jujur, saat ini kita cenderung lebih mengagung-agungkan berbagai hal yang bukan milik kita. Sebagai bangsa besar dengan catatan sejarah yang pernah jaya dengan bukti berbagai peninggalannya; Nusantara saat ini seolah bangsa kecil yang takjub dengan berbagai hal yang dipertontonkan bangsa luar dan lupa bahwa kita sendiri mempunyai sesuatu hal yang lebih besar dari itu.

AJARAN METAFISIS FILOSOFIS (HAKEKAT)

Dalam perspektif filosofis, semua hal yang ada di dunia ini memiliki aspek fisika (fisik) dan metafisika (metafisik). Demikian pula agama memiliki dua aspek tersebut. Syariat merupakan bentuk fisik dari agama, sedangkan bentuk metafisikanya ada dalam hakekat dari syariat agama. Seseorang hendaknya mengetahui fisik atau syariat yang merupakan tata caranya merncapai spiritual. Sedangkan metafisik atau hakekat sebagai bentuk pencapaian spiritualnya. Filsafat bukan mebicarakan fisik dari segala yang ada, melainkan membicarakan metafisika atau sesuatu yang ada dibalik keadaan fisik.

Ajaran Siti Syeh Jenar lebih memberikan tekanan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran dengan kata lain bukan lagi berhenti pada tataran syariat, tetapi telah melangkah pada tataran yang lebih tinggi yakni hakekat.  Hal itu berbeda dengan ajaran yang disampaikan para wali, yang lebih mengedepankan syariat. Meskipun demikian ajaran Syeh Siti jenar yang mengutamakan filsafat ketuhanan dan kebenaran mengarah kepada ajaran Islam yang umumnya disebut sebagai ilmu tasawuf. Ajarannya mengutamakan pentingnya pengolahan kalbu (istilah Gusti MN IV; sembah kalbu/cipta) dengan implementasi pada ibadah-ibadah bersifat lahiriah.

Syeh Siti Jenar mengajarkan tentang falsafah kebenaran dan berusaha merumuskannya ke dalam bentuk kearifan dan kebijaksanaan. Sehingga menciptakan suatu hukum-hukum dalam bertindak (akhlak). Di situlah muncul kesan penyimpangan ajaran Syeh Siti Jenar jika dipandang dari perspektif penganut ajaran yang lebih mengutamakan syariat baku atau bagi yang memahami Qur’an dan Hadits secara tekstual. Terlepas dari munculnya kesan di atas, ajaran Syeh memang banyak menyangkut perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pandangannya mengandung nilai metafisik mengenai baik-buruk, dan salah-benar.

PRO-KONTRA AJARAN SYEH SITI JENAR

Sejak itulah terjadi pro-kontra antara Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang berikut para muridnya dengan para wali. Kubu para wali bersikukuh menilai ajaran Syeh Lemah Abang adalah sesat. Sementara masyarakat waktu itu menganggap ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh Syeh Siti Jenar sebagai pencapaian spiritual yang tinggi. Apalagi ajarannya tetap berpegang pada pandangan Islam. Di hadapan para muridnya Syeh Lemah Bang merupakan seorang sufi, sebagaimana tokoh-tokoh sufi lainnya yang memandang bentuk kehidupan dunia ini sebagai kebusukan yang memuakkan. Sehingga seorang sufi menghindari kehidupan duniawi dan memilih kesederhanaan. Dunia dipandang sebagai kematian, sebab kehidupan yang sesungguhnya adalah sesudah seseorang menemui ajalnya. Jadi manusia yang hidup di dunia ibaratnya bangkai-bangkai yang bergentayangan. Pemikiran demikian sesuai dengan ajaran sufisme yang berkembang di ranah Arab.

Syeh Siti Jenar dan para muridnya sangat menyadari bahwa ajarannya seolah aneh, sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Penilaian ini muncul sejak dahulu hingga saat ini. Kenyataan ini wajar saja karena memang orang-orang sufi dan penganut ajaran tasawuf di dunia ini jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan orang yang mengikuti syariat murni. Sedangkan menurut ahli tasawuf bahwa Islam tidak sebatas syariat, melainkan ada tingkatan-tingkatan peribadatan yang wajib ditempuh yakni tarekat, hakekat dan makrifat. Seseorang dapat disebut sebagai Islam sejati apabila telah  mengamalkan tingkatan peribadatan secara utuh.

KRITIK SYEH SITI JENAR; Tugas Umat (para wali) yang Tidak Tuntas

Menurut Syeh Jenar, orang Islam kebanyakan yang masih awam ibarat sebagai kulit kelapa. Ilmunya masih sebatas berada di kulitnya saja. Padahal untuk mencapai air kelapa, seseorang harus melewati kulit, lalu dagingnya dan barulah bisa mereguk air kelapanya (makrifat). Perumpamaan Siti Jenar ini kira-kira dapar dipersonifikasi lebih jelas sebagai berikut; Syariat diumpamakan kulit kelapa, Tarekat diumpamakan tempurungnya, Hekat diumpamakan sebagai hakekatnya, Makrifat diumpamakan sebagai air kelapanya.

Maka sangat jauh dari tujuan pencapaian spiritual apabila seseorang mandeg pada tingkatan syariat saja. Sebagaimana ajaran yang lebih utuh seperti dituturkan oleh KGPAA Mangkunegoro IV dalam ajaran Kejawen tentang tata cara mencapai spiritual yang dituangkan dalam pengetahuan spiritual Catur Sembah yakni; sembah raga (syariat), sembah cipta/kalbu (tarekat), sembah jiwa (hakekat), sembah rasa (makrifat). Beliau menuturkan apabila seseorang akan meraih pencapaian spiritual, hendaknya menempuh empat macam “laku” sembahyang atau catur sembah.

Siti Jenar tidak setengah-setengah dalam mengajarkan ajaran Islam. Justru Siti Jenar menilai bahwa para wali mengajarkan Islam baru pada tahap “serabut kelapa” saja, atau kulit, syariatnya. Menurut Siti Jenar, hal itu akan membahayakan bagi umat Islam sendiri maupun umat yang lainnya dalam kancah perhelatan dunia di kelak kemudian hari. Perkataan Siti Jenar ini mungkin ada benarnya jika melihat kecenderungan umat Islam pada zaman sekarang ini.

Sumber:
http://sabdalangit.wordpress.com/2008/11/12/mengenal-garis-besar-ajaran-syeh-siti-jenar/

Teknologi dari Zaman Atlantis hingga Indonesia

Ilustrasi Atlantis
X MAGAZINE — Jujur, ada keasikan tersendiri ketika menelusuri tentang misteri Atlantis. Misteri sebuah benua yang hilang dengan sejuta pertanyaan. 
Benarkah, legenda itu ada? Atau hanya sekedar rekaan berbalut imajinasi saja. 
Ada yang menyangkal, namun tidak sedikit pula yang berupaya dengan serius untuk membuktikannya. 

Pakailah Google search engine di URL http://www.google.com/. Gunakan kata kunci ”teknologi atlantis”. Muncullah 99.200 hasil telusur untuk kata kunci itu pada hari Rabu 15 Desember 2009 jam 15.41 wib. Di urutan pertama adalah informasi dari alamat http://aravangel.blogspot.com/2009/01/benua-atlantis-dan-lemuria-yang-telah_27.htmldengan ringkasan bahwa bangsa Atlantis lebih mengandalkan fisik, TEKNOLOGI, dan gemar berperang. Bangsa ini mirip dengan bangsa Lemuria yang mempunyai tanah yang subur, masyarakat yang makmur, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang mendalam. Bangsa Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.

Menurut Edgar Cayce, spiritualis Amerika, Kuil Atlantis menempatkan sebuah kristal generator raksasa yang dikelilingi kristal-kristal lain, baik sebagai sumber tenaga, mau pun guna berbagai penyembuhan. Banyak info mengenai Atlantis diperoleh dengan dengan men-channel kristal-kristal ’old soul’ yang pernah digunakan pada zaman Atlantis. Menurut beliau, munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa di dunia, di antaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.
Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik, invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan. Karena sifat Lemuria yang menjunjung tinggi perdamaian, mereka tidak dibekali TEKNOLOGI PERANG secanggih bangsa Atlantean, sehingga dalam sekejap, Lemuria pun jatuh ke tangan Atlantis. Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak, akhirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi (diperkirakan Planet Erra /Terra di gugus bintang Pleiades). Teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju. Penguasaan TEKNOLOGI PENJELAJAHAN LUAR ANGKASA mungkin telah dapat mereka realisasikan di jauh hari sebelum perang.
Dari URL http://sariwibowoaang.wordpress.com/2009/07/15/teknologi-bangsa-rama-dan-atlantis/diperoleh informasi bahwa bangsa Atlantis dan Rama berperang menggunakan senjata pemusnah massal yaitu NUKLIR. Alkisah raja Ashoka dari kerajaan Rama membuat suatu organisasi yang berisi 9 ilmuwan terbaik kerajaan Rama, yang disebut 9 misterious men (kalo di amerika semacam MJ-12). Mereka telah menciptakan 9 buku yang saling berkaitan. Salah satu judulnya adalah RAHASIA-RAHASIA GRAVITASI. Beberapa tahun silam, sekelompok arkeolog China menemukan beberapa dokumen di daerah Lhasa. Mereka membawanya ke Universitas Chandrigradh untuk diterjemahkan. Dr.Ruth Reyna yang menerjemahkan dokumen tersebut kaget bukan kepalang. Karena isi dari dokumen itu adalah petunjuk untuk membuat suatu pesawat ruang angkasa!!! Cara pembuatan menurut dokumen tersebut adalah anti gravitasi dan berasaskan kepada suatu sistem analog yang disebut laghima, semacam sumber tenaga. Menurut seorang ahli yoga hindu, laghima adalah suatu ilmu yang dapat membuat sang penguasanya terbang!! Menurut dokumen ini,  kendaraan terbang itu disebut ASTRAS, dan astras-atras  itu yang telah membawa sebagian penduduk Rama untuk bermukim di planet lain. Dokumen tersebut bahkan memaparkan rahasia ilmu lain seperti antima (menghilang),  gerima (menjadi seberat gunung). Pada awalnya para ilmuwan India tidak terlalu menganggap serius dokumen ini, tetapi mereka terkejut ketika RRC memasukkan sebagian isi dokumen tersebut untuk proyek luar angkasanya!!!
Dokumen ini didukung oleh cerita di dalam Ramayana yang menceritakan perjalan mendetail mereka ke bulan. Kota kerajaan Rama pun diceritakan mempunyai tata landscape dan pembuangan air yang sangat modern.  Ingat cerita Nabi Sulaiman?? Menurut Al – Qur’an  istana beliau seperti mengawang di atas air, dan mukjizat Nabi yang bisa terbang???
Menurut penjelasan teks India kuno,  mereka mempunyai kendaraan terbang yang disebut VIMANA. Digambarkan bahwa vimana mempunyai dua dek,  berbentuk bulat,  mempunyai lubang di bagian bawah,  dan menara di bagian atas. Disebutkan ada 4 macam vimana, dari yang berbentuk piringan sampai dengan yang seperti silinder. Bahkan banyak ditemukan juga manual penerbangan vimana tersebut. Pada tahun 1875, ditemukan kitab berjudul Vaimanika Sastra. Di dalamnya berisi tentang manual penerbangan vimana, langkah penyelamatan, penerbangan jauh, bahkan tentang bagaimana cara selamat dari petir.
Lanjutan dari kitab Vaimanika Sastra di atas, di sana dijelaskan kelemahan dan kekurangan dari ke-empat jenis vimana tersebut.  Diterangkan pula mengenai 31 bagian dalam Vimana tersebut,  juga 16 sumber tenaga untuk menyerap panas sinar matahari untuk menggerakkan Vimana tersebut. Dokumen ini telah disunting pada tahun 1979 ke dalam bahasa Inggris oleh E.N. Joser. Tidak ada keraguan lagi bahwa Vimana memang menggunakan teknologi anti gravitasi, karena vimana mampu take off secara melintang dan mempunyai mobilitas seperti helicopter (bahkan lebih hebat lagi).  Diceritakan vimana diangkut oleh vimana griha (mungkin semacam pesawat induk), dan vimana ini dicat dengan cat berwana putih kekuningan, dan kadangkala dengan sejenis zat merkuri. Zat kekuningan ini mungkin adalah gaselin.
Anda pernah lihat film hellboy?? Di sana diceritakan tentang NAZI yang berusaha menguasai tenaga mistis yang lebih maju untuk mendapatkan kekuatan yang lebih hebat lagi. Ternyata konon hal ini emang benar terjadi. Hitler diceritakan sangat tertarik oleh peradaban kuno yang terletak di sekitar daerah India – Tibet (daerah kerajaan Rama).  Pasukan ekspedisi pun kabarnya sering dikirim ke sana sekitar tahun 30-an.Tidak mustahil tentunya jika pihak Nazi berhasil mengadopsi beberapa teknologi ini.  Contohnya pesawat pertama yang dapat take off secara melintang  juga ditemukan oleh NAZI.
Merujuk pada Dravnaparva yang merupakan bagian dari epiks Mahabrata dan Ramayana, Vimana digambarkan sebagai sebuah bujur yang mempunyai kecepatan angin yang berasal dari bahan merkuri. Di dalam kitab Samarasanganasutradhara juga dijelaskan mengenai vimana dan bahan bakarnya, merkuri. Banyak ilmuwan Rusia yang heran ketika menemukan panduan mengendarai kendaraan (bukan menunggangi kuda atau semacamnya) di gua di gurun Gobi dan Turki. Di relief itu digambarkan sebuah benda yang sedang terbang dengan lambang merkuri di dalamnya. Coba kita perhatikan cuplikan dari kitab Mahawira dan Bhawabhuti yang berasal dari abad ke-8 di bawah ini :
“…..sebuah kendaraan udara, Pushpaka membawa banyak orang ke ibukota Ayodhya. Langit dipenuhi berbagai kendaraan terbang, gelap bagai malam, namun terang karena warna kekuningan mereka……”
Deskripsi mengenai vimana dari satu kitab ke kitab lain secara garis besar adalah sama.  Jadi bisa disimpulkan bahwa vimana bukanlah khayalan. Ternyata bangsa Atlantis juga mempunyai sebuah alat terbang. Alat ini dinamakan VAILIXI. Orang India menyebutnya Astwin. Sayangnya tidak ada penjelasan mengenai vailixi ini sendiri yang bisa kita temukan di Atlantis (sekarang lokasi Atlantis-nya sudah diketemukan),  justru bukti tentang adanya vailixi ini diperoleh lagi-lagi dari kitab India kuno. Dideskripsikan vailixi berbentuk silinder panjang yang selain bisa terbang juga dapat menyelam di laut!!! Menurut Eklal Kueshshana, dalam bukunya “the ultimate frontier” pada tahun 1966, vailixi yang pertama dibuat sekitar 20.000 tahun lalu.  Bentuk yang paling umum adalah piringan dengan tiga ruang mesin. 

Menurutnya “Mereka menggunakan satu peralatan mekanikal yang anti gravitasi yang memiliki tenaga sekitar 80.000 ekor kuda”.

Atlantis – The Lost Continent Finally Found –

This site presents a new theory on Atlantis by a Brazilian scientist, Prof. Arysio Santos, which he discovered in the Indian Ocean. www.atlan.org 

Atlantis, The Lost Continent Finally Found, released on August 2005, is Prof. Arysio Santos’ latest work. Following the same line of thought that made his homonymous website become the most popular in its category, having received more than 2.5 million visits within the past few years, he explains in this book his Theory on Atlantis, using an infinitude of arguments, which range from the strictly scientific (such as Geology, Linguistics, and Anthropology) to the more arcane and occult ones.


A professional scientist with a PhD in Nuclear Physics and Free-Docency in Physical-Chemistry, the author has dedicated himself intensely to the study of the Atlantis problem, for about 30 years now. Being the first one to ever link the catastrophic events of the end of the last Ice Age (11.600 years ago) with the world-wide traditions of the universal Flood and the destruction of Atlantis, Prof. Santos managed to find a perfect site for the location of the Lost Continent. Such site strives unrivaled as being the most logical one ever proposed, matching all the features mentioned by the Greek philosopher Plato, as well as those cited by other sources.

The reader will be confronted with strongly based evidence of all sorts to the existence of Atlantis, written by a reputed scientist, enough to shake the beliefs of the most hard-core skeptic. This book should also please the fans of the occult and symbolic disciplines, as the author frequently interconnects them with Atlantis and explains their meaning. Illustrated with over 30 line-art figures and printed in high quality white paper, Prof. Santos’ book is a must for everyone interested in the subject of Atlantis and lost civilizations.
Dikatakan di buku itu Indonesia adalah True Site of Eden. Indonesian adalah Atlantis and the Four Rivers of Paradise. Indonesia adalah the Remnants of Sunken Atlantis. Ini amat mengejutkan. Dari URL http://www.atlan.org/articles/checklist/

17) SUPERIOR SCIENCE AND TECHNOLOGY


The only hard evidence given by Plato of a superior technology utilized by the Atlanteans consists in the use of ORICHALC, the mysterious metal which “flashed like fire” and which they used to clad the walls of their citadel. As we adduced above (see item 16) orichalc — or aurichalcum, that is “golden copper”, as Pliny wrote — is BRASS, an alloy of copper and zinc of a beautiful golden colour and superior mechanical properties. The MANUFACTURE OF BRASS was a technological feat that could only be repeated in modern times due to the difficulties inherent in the process. The fact that the Atlanteans could mass produce this alloy is a direct proof of their superior science and technology. So is, for that matter, the fact that they could mass produce metals and gemstones in quantity sufficient to supply the ancient nations with these items so difficult to procure and to process in the primitive conditions that were then prevalent.

The proofs of a superior science and technology possessed by the Atlanteans are of a twofold nature: traditional and factual. In the traditional account we have the legends and myths like those on wonderful flying machines like the VIMANAS and the VAHANAS of the Ramayana and the Mahabharata. These holy books talk of airships capable of carrying entire armies; of weapons (agniastras) that can only have been firearms and of explosives that, like the atomic weapons, were able to wipe out entire cities. They tell of TALKING MACHINES capable of making forecasts and of allowing the viewing of distant persons. They also speak of teleportation, of telepathy, of levitation, of transmutation of the metals, of the effortless erection of megalithic buildings and structures such as the Great Pyramid. Such “magical means” bespeak of a superior science and technology. Furthermore, those sacred traditions even suggest the use of GENETIC ENGINEERING to create the domesticated plants and animals, if not a sub-species of men intended for specific purposes like that of “serving the gods”.

Superior metallic alloys such as stainless steel, bronze and brass (“orichalc”) have existed from remotest antiquity. And no one has been able so far to give a satisfactory account of the epoch of their invention or of their place of origin. Where else but in Atlantis, the true site of the Garden of Eden? Crucial inventions like the domesticated plants and animals, the alphabet, scripture, paper, gunpowder, metal-casting and smelting, brewing and distillation, medicinal drugs, ELECTROPLATING, lenses, telescopes and eyeglasses, stone cutting and shaping, and a myriad such “magical creations” apparently came to us from nowhere. In the official accounts, they came from an unlikely “China”. But China was itself civilized, as were most ancient nations, by the Hindus. The Hindus, in turn, claim to have been civilized by the Atlantean Nagas. Are they all indeed telling a lie or the truth? And why would the ancients all be lying?

In our opinion, the greatest achievement of the ancient Atlanteans lay in THE SOCIAL AND METAPHYSICAL SCIENCES: Religion, Philosophy, Ethics, Law, Mythology, Psychology and so on. Whoever studies in depth the true scope of Greek philosophy — as expounded by philosophers such as Plato, Pythagoras, Aristotle, Epicurus, Zeno, Thales, Anaxagoras and several others — will not fail to realize that their esoteric doctrines all root in the Hindu darshanas (philosophical systems). The profundity of these Indian sciences so far surpass the ones of the Occident that it is only as the result of being blinded by ethnocentrism that our experts have failed to realize the fact that our religions and our philosophical systems all came to us from the ORIENT. Now, this could only have happened in the dawn of times, precisely as our Holy Books and our sacred traditions maintain. All these “Hindu” doctrines, in turn, root in ancient treatises ascribed to legendary authors of antediluvian times which can be none other than those of Atlantis itself.

Religion too — perhaps the greatest of all creations of Man — can only have originated in Paradise, that is, in Atlantis itself. This is easy to see not only in the ancient traditions of its revelation by gods or angels or superior beings (Atlanteans), but also by the fact that all religions stem from a single source, the Urreligion (or “Primeval Religion”) envisaged by certain specialists of genius such as Mircea Eliade and René Guénon. Mythology is yet another Atlantean creation that provides the archetypes and the exemplary models of behavior and mentality that we all follow rather blindly and instinctively during our lifetime. Most myths deal with Atlantis and Atlantean matters, and enmesh serendipitously with the eschatological doctrines of our religions.

Where else but in destroyed Atlantis could myths such as those of the Flood or that of the Millennium and THE REBIRTH OF THE CELESTIAL JERUSALEM (ATLANTIS) have originated? Who else but the Atlanteans could have diffused myths such as these to the whole world, including the remotest corners of the Amazon jungle and those of INDONESIA AND SOUTH ASIA? The fact is that all supreme inventions — the ones that turned Man into something more than an ape or a ravening beast — came to us from Atlantis, in the dawn of times. The one invention which allowed all others was that of agriculture, the supreme legacy of the ancient Atlanteans to us. It was agriculture that allowed the fixation of Man to the ground, and guaranteed the availability of food with far less labor than that required in hunting and gathering foodstuffs.

Agriculture created the surplus time for thinking and for the development of inventions and creations that allowed us to rise over the other beasts of the field. But when we talk of agriculture and of animal domestication we cannot forget that these activities were only rendered possible by the artificial creation of species and strains of a very particular nature. Such developments require the use of advanced GENETIC ENGINEERING quite like or even superior to the modern ones. With its peculiar arrogance, modern science has been utterly incapable of creating even a single example of domesticated plant or animal beyond the ones we inherited from the dawn of times, the epoch of our Atlantean forefathers. Many of these plants and animals — in particular the dog, the pig, the goat, maize, wheat, barley, cotton, coconuts, pineapples, yam, potatoes, bananas, grapes and many others — existed both in the Old and in the New World.

Moreover, many of these responded by the same name on both sides of the world. Who else but the Atlantean Sons of God could have created them and brought them to the other distant nations of the world? This is precisely what the holiest traditions of all peoples claim, the world over. Why would they all lie such a crucial issue as this one? Moreover, when we seek the true place of origin of all these magnificent creations of men or gods, we verify that they have been always present and apparently came from nowhere. The specialists are hard put to tell the date and the place of their origin, and their researches push them all, evermore, towards the Far East, the true place of origin of agriculture and of civilization. Other sciences that clearly prove the existence of Atlantis are those of ASTRONOMY and GEODESY. Some ancient maps of the world, such as those of Piri Reis and of Oronteus Finaeus, embody an uncanny knowledge of the whole world that could not have been obtained at all without a sophisticate system of cartography and geodesy.

And this, in turn, requires an advanced knowledge of SPHERICAL TRIGONOMETRY, of logarithms, of projective geometry and of related sciences. Moreover, this precision mapping requires the use of very accurate instruments like chronometers, telescopes, sextants, armillary spheres, and so on, for the determination of the stellar coordinates and of the position of the observer at the time of observation. The creation of such INSTRUMENTS again requires an ADVANCED SCIENCE AND TECHNOLOGY in fields such as optics, metallurgy and materials science. Who else but the Atlanteans could have possessed this technology so early in time? The same amazing precision and superior science obtains in the case of Astronomy.

The ancients knew — but clearly lacked the capability for having discovered such facts — about the two moons of Mars, the twelve of Jupiter, the ten of Saturn. Moreover, they knew of the heliocentricity of the Solar System, of the nine planets, and the rings of Saturn, as well as of the fact that Sirius, the largest star in the sky, has a invisible twin of extremely high density. These and many other astronomical facts can only be observed with very large telescopes and very refined observational techniques. Such instruments and techniques could only have been developed by the Atlanteans and by no other nation, barring extra-terrestrials and angelic powers.

The ancients were also capable of calculating and effecting stellar alignments of an amazing precision. Their accuracy sometimes exceeds what modern astronomers can do, even with THE BEST OF COMPUTER PROGRAMS. They had an almost superior ability to predict astronomical dates and ephemerides both in the distant past and in the distant future. These dates they unequivocally indicated by means of accurate alignments embedded in the Great Pyramid and in other artifacts that many traditions attribute to the Atlanteans. Likewise, the Great Pyramid also embodies such geodetical measurements as the lengths of the Polar Meridian and the Equatorial Circle to a precision that favorably compares to those obtained recently by geodetical satellites. We discuss these matters in detail in our book on Atlantis, to which we refer the interested reader.

KOMPUTER

Prof. Arysio Santos sudah menyatakan adanya program komputer terbaik untuk kalkulasi dan efek presisi mengagumkan dari stellar alignments. Wujud komputer yang kita kenali sekarang terdiri atas logam, plastik, kaca, keramik, dan lain-lain. Apakah komputer zaman Atlantis serupa? Baiklah mari kita lanjutkan pembahasan.
Logam yang berasal dari zaman Atlantis adalah orichalc atau brass. Orichalc adalah metal yang ber-flash seperti api, disebut juga sebagai aurichalcum (golden copper). Brass adalah alloy dari tembaga dan seng, berwarna keemasan indah dan properti mekanikal superior.

Dari berbagai sumber, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah:

  • Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).
  • Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.
  • Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
  • Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.
  • Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
  • Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
  • Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.
Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.
Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebar luas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua miliar tahun, setelah adanya bukti data geologi, dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir. Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia.

Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya. Hal yang patut membuat orang termenung dalam-dalam ialah bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini? Permulaan sebelum dua miliar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian ini menuju ke binasaan?

Jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip?
Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam.
Teknologi mesir jaman dulu saja sudah mampu menciptakan lampu pijar.

Bagi kalian yang sudah membaca buku Best Seller “Chariots of the Gods” karya Erich Von Daniken, pastinya sudah tidak asing lagi dengan beberapa hipotesa maupun teori-teori spektakuler mengenai “ancient visitor /ancient astronout” dan “search for ancient technology” yang secara gamblang dikemukakan oleh Daniken.


Menurut pandangan masyarakat umum, masa peradaban-peradaban kuno ribuan bahkan jutaan tahun lalu, merupakan masa peradaban yang sangat jauh dari kesan kecanggihan teknologi serta penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam, tidak sedalam dengan penguasaan IPTEK manusia masa kini (singkatnya: masih terbelakang alias primitif).

Namun, penemuan saintis dan ahli arkeologi sejak beberapa tahun belakangan ini seolah-olah menghilangkan pandangan umum bahwa peradaban-peradaban masa silam adalah peradaban-peradaban yang terbelakang, penguasaan ilmu pengetahuan yang masih payah dan memiliki kesan yang jauh dari teknologi.


Malahan, para saintis kini semakin kebingungan memikirkan penemuan artifak-artifak purba yang menjurus kepada kenyataan bahwa peradaban-peradaban kuno sebenarnya sudah begitu maju dari segi sains dan teknologi malah mungkin lebih futuristik daripada zaman sekarang!

Kenyataan itu memang sukar dipercayai karena tolak ukur era perkembangan sains dan teknologi baru bermula sekitar 200 tahun lalu dan teknologi komputer berasaskan elektronik baru mulai sekitar tahun 1940-an.

Akan tetapi, artifak purba serta catatan kuno yang berhasil ditemukan para arkeolog justru menceritakan sebaliknya – masyarakat zaman purba sudah memiliki teknologi hebat serta maju dalam berbagai bidang terutama sains.
Penemuan-penemuan arkeologis yang mengagumkan seperti penemuan jantung buatan yang berhasil ditemukan pada suatu mummi dari masa peninggalan peradaban Mesir kuno contohnya, bukankah itu merupakan suatu bukti kongkrit bahwa peradaban mesir kuno pada ribuan tahun silam telah menguasai ilmu sains dan kedokteran setinggi itu.
padahal kita ketahui, sejarah ilmu kedokteran pada masa kini baru bisa memperkenalkan konsep jantung buatan pada beberapa puluh tahun lalu, tetapi dari penemuan di atas tadi diketahui jantung buatan ternyata telah diperkenalkan sejak 5000 tahun silam.

Selain itu, ada beberapa temuan yang mengindikasikan bahwa masa sebelum masehi manusia telah mengenal peralatan-peralatan listrik. Contohnya penemuan artifak “The Baghdad Battery” yang pernah dibahas di sini, bukankah itu juga merupakan salah satu peralatan elektrik masa silam yang berhasil ditemukan.

Tentunya kedua artifak tersebut mungkin belumlah cukup untuk membuktikan teori “ancient electricity” yang dikemukakan oleh beberapa pakar seperti Daniken.

Tetapi tahukah teman-teman, bahwa sudah cukup banyak temuan yang bisa dijadikan bukti bahwa peradaban manusia masa sebelum masehi telah mengenal listrik maupun peralatan listrik?

Berawal dari para arkeolog yang terkesan dengan kerapian penyusunan interior dan keindahan relief lukisan dinding-dinding di dalam piramid Mesir. Lalu kemudian mereka menyadari, bahwa tanpa adanya alat penerangan maka bagaimana para pekerja maupun senimannya dapat melakukan pekerjaannya?


Jika demikian, maka seharusnya ada alat penerangan. Tetapi yang membingungkan mereka adalah tak pernah ditemukan adanya jelaga atau bekas-bekas sisa pembakaran api sebagaimana lazimnya alat penerangan kuno (obor, lilin, lampu minyak). Lantas teknik penerangan apa yang mereka gunakan pada masa itu?

Di dalam suatu ruang di bawah Kuil Dendera, sebuah kuil yang terletak di sebelah selatan Luxor (Mesir) dan dibangun oleh firaun Mesir untuk memuja Dewi Hathor pada 4.200 tahun yang lalu, terdapat relief-relief yang menggambarkan semacam alat penerangan berupa bola lampu lonjong berukuran besar.

Bagian kepala bola lampu disangga oleh dudukan dengan per pegas yang tampaknya dapat berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan arah (sorotan) lampu. Sedangkan bagian ujung lainnya terhubung dengan semacam pipa melengkung ke kotak dasar alat penerangan tersebut. Walaupun seandainya gambar tersebut merupakan simbol, tetapi bagaimana masyarakat pada masa itu dapat membuat desain teknis semacam itu?

Yang cukup hebat adalah ketika Erich Von Daniken bersama beberapa tim saintis lainnya berhasil menciptakan sebuah replika bola lampu yang benar-benar ditiru dari desain relief di temple Dendera itu.


Ekspresimen ini mereka lakukan untuk mengetahui kegunaan sebenarnya dari benda yang dipegang oleh Sang Fir’aun tersebut, apakah benar-benar merupakan semacam alat penerangan, atau hanya sebatas simbol semata.

Sebelumnya, mereka terlebih dahulu harus bisa mengidentifikasi beberapa simbol obyek dalam relief-relief itu sebagai penuntun dalam pembuatannya.

Dari beberapa sumber, inilah hasil identifikasi dari setiap obyek-obyek dalam relief tersebut :

Ket:
1.
Priest
2. ionised fumes
3. electric discharge (snake)
4. Lamp socket (Lotos)
5. Cable (Lotos stem)
6. Air god
7. Isolator (Djed-Pillar)
8. Light bringer Thot with knifes
9. Symbol for “current”
10. Inverse polarity (Haarpolarität +)
11. Energy storage (electrostatic Generator?)


Beberapa Temuan “Mirip” Lainnya :

Tahun 1601, seorang pendeta dan pencatat perjalanan para pelaut penjelajah Spanyol bernama Barco Centenera memberitakan tentang sebuah kota di tengah belantara Amerika Selatan yang dihuni penduduk Inca bernama El Gran Moxo, dekat hulu Rio (sungai) Paraguai, bagian tengah Matto Grosso (kini adalah sebelah barat kota Diamantino) yang memiliki sebuah ‘bulan’ (bola lampu) menakjubkan di atas sebuah tiang setinggi 7,75 meter. Bola lampu ini berdiameter sekitar 10 kaki dan bersinar sangat terang.

Pada sebuah konferensi tentang lampu jalan dan lalu lintas tahun 1963 di Pretoria (Afrika Selatan), C.S. Downey mengemukakan tentang sebuah pemukiman terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang memiliki sistem penerangan maju. Para pedagang yang dengan susah payah berhasil menembus masuk ke pemukiman ini menceritakan kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari beberapa ‘bulan’ yang ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam dan terus menyala sepanjang malam setiap hari.

The Baghdad Battery

Boleh dikatakan Bagdad Batery merupakan salah satu artifak kuno yang paling membingungkan para ilmuan maupun arkeolog.
Pada tahun 1930 silam, pada sebidang makam kuno di luar Bagdad (Khujut Rabula), beberapa arkeolog yang melakukan penggalian di sana menemukan sebuah artifak yang diduga merupakan satu set baterai kimia yang usianya telah mencapai 2000 tahun lebih!
Arifak aneh tersebut terdiri atas sebuah silinder tembaga, batang besi serta aspal yang disusun sedemikian rupa dalam sebuah jambangan kecil (tinggi 14 cm, diameter 8 cm)yang terbuat dari tanah liat. Setelah para ahli merekaulang memang benar didapati bahwa artifak tsb merupakan sebuah baterai elektrik kuno!
Para peneliti berhasil memperoleh 1.5 voltmeter dari artifak batu baterai elektrik tsb, yang bekerja nonstop selama 18 hari dengan cara memasukkan cairan asam ke dalam jambangannya.
Usia artifak baterai kuno ini diperkirakan berkisar 2.000 – 5.000 tahun, jauh sebelum Alessandro Volta (Italia) membuat baterai pertama kali pada tahun 1800 serta Michael Faraday (Inggris) menemukan induksi elektromagnetik dan hukum elektrolisis pada 1831 yang jarak penemuannya hingga kini mencapai sekitar 200 tahun lebih.
Temuan ini tentunya dapat mengubah pandangan manusia masa kini akan kemajuan teknologi yang telah dicapai oleh peradaban manusia masa lalu. Nampaknya, aktifitas elektrik telah dikenal oleh manusia pada masa-masa itu.
Tidak hanya bagdad battery saja yang menarik perhatian para ilmuan maupun arkeolog di seluruh dunia, namun terdapat beberapa artifak serupa yang diduga juga sebagai peralatan elektrik masa silam, seperti Dendeera Lamps, Assyrian Seal, maupun The coffin of Henettawy.
Sebenarnya Dendeera lamps ini merupakan sebuah relief di sebuah temple di Mesir yang menggambarkan seorang Pharaoh sedang menggenggam sebuah benda mirip dengan bola lampu lengkap dengan penggambaran kabel beserta catu dayanya.
Kutipan:
Sitting in the National Museum of Iraq is a earthenware jar about the size of a man’s fist. Its existence could require history books throughout the world to be rewritten.
-Seukuran kepalan tangan manusia
-Dapat merubah seluruh buku sejarah untuk ditulis ulang.
Kutipan:
The little jar in Baghdad suggests that Volta didn’t invent the battery, but reinvented it. The jar was first described by German archaeologist Wilhelm Konig in 1938. It is unclear if Konig dug the object up himself or located it within the holdings of the museum, but it is known that it was found, with several others, at a place called Khujut Rabu, just outside Baghdad.
-Bahwa Count Alassandro Volta (1800) tidak “menemukan” tapi “menemukan-ulang”
-Nah ini yang menarik untuk diperdebatkan apakah ini hoax:
“….It is unclear if Konig dug the object up himself or located it within the holdings of the museum, but it is known that it was found…..”
ok guys?
Kutipan:
World War II prevented immediate follow-up on the jars, but after hostilities ceased, an American, Willard F. M. Gray of the General Electric High Voltage Laboratory in Pittsfield, Massachusetts, built some reproductions. When filled with an electrolyte like grape juice, the devices produced about two volts
-Dicoba direproduksi di amrik dan menghasilkan sekitar 2 volt (dari situs lain nilainya berkisar antara 1,5 sampai 2 volt)
Kutipan:
Not all scientists accept the “electric battery” description for the jars. If they were batteries, though, who made them and what were they used for?
Lihat khan? bahkan tidak semua scientis menerima benda ini sebagi OOParts.
Saya pernah bahas tentang OOParts di thread lain, silahkan dicari. Salah satunya adalah thread saya tentang Piri Reis Map yang tenggelam
ini gunanya dan ada sedikit kata2 menarik disitu
Kutipan:
Khujut Rabu was a settlement of a people called the Parthians. While the Parthians were excellent fighters, they had not been noted for their technological achievements and some reseachers have suggested they obtained the batteries from someone else. A few people have even suggested that this someone else was a space traveler that visited Earth during ancient times.
-Masih ingat the parthians dalam three hundred? (300)
-“Space traveler”? weleh weleh
Kutipan:
What might they have been used for? German researcher Dr. Arne Eggebrecht used copies of the batteries to electroplate items. The electroplating process uses a small electric current to put a thin layer of one metal (such as gold) on to the surface of another (such as silver). Eggebrecht suggests that many ancient items in museums that are thought to be gold may actually be gold-plated silver.
Berguna untuk melapisi suatu logam dengan logam lain. Dalam arti “disepuh”
http://neros.lordbalto.com/ChapterEight.htm
OLEH: RADEN ARUM SETIA PRIADI, S.Si., M.T.

rasp_1971@yahoo.com

Kejawen Modern

X magazine — Aritkel ini saya dapat dari blog KejawenModern. Ini pula yang menjadi judul postingan ini. Kenapa saya posting kembali? Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik tentunya.

Orang bijak mengatakan; Elang akan berkumpul dengan elang, domba akan menyatu dengan domba pula. Dan ini pula yang membuat manusia sering kali terkelompok dalam sebuah komunitas. Yakni, biasanya ada sisi kesamaan yang menjadi landasan penyatuan tersebut.

Sehingga, perbedaan lain seperti ras, budaya, warna kulit, bangsa atau bahkan perbedaan alam bukan menjadi persoalan untuk penyatuan. Sederhananya, sebagai contoh, sesama hoby memancing akan menyatu dengan pemancing lain di kolam pancing. Akan terjalin sebuah hubungan emosional keakraban dengan landasan kesamaan hoby tadi. Perbedaan, termasuk status social akan hilang karenanya.

Kesatuan yang paling kuat mengikat adalah cara berpikir, visi, dan pemahaman. Ini pula yang menjadi landasan kuat sebuah organisasi, perkumpulan, kelompok, dan sejenisnya. Seperti, persaudaraan illumanti, triad, atau The New World Order sebuah frase yang membuat orang segera teringat dengan sebuah perkumpulan rahasia yang paling ternama di dunia, yaitu freemasonry.

Mereka mempunyai landasan yang kuat untuk bersatu. Yakni cara berpikir, visi dan pemahaman yang sama.

Kembali kepada Kejawen Modern yang menjadi judul dari artikel ini, ada beberapa kesamaan dalam cara berpikir yang membuat saya tertarik walau pada dasarnya mungkin terdapat ada perbedaan dalam hal lain.

Ok.. sebelumnya langsung saja saya copy paste artikel Kejawen Modern tersebut; Asli tanpa dipenggal/diedit atau ditambahkan. Termasuk cara pemaparannya yang juga menggunakan kata saya, disini maksudnya adalah saya = penulis asli.

Kejawen yang kita kenal, adalah Kejawen yang selalu memiliki bayangan, bahwa hal itu merupakan sesuatu yang kuno, mistis dan ketinggalan zaman.

Oleh karenanya, saya berkepentingan untuk mencoba urun rembug dalam hal ini.

Sebenarnya, saya pun tidak begitu setuju dengan kata Modern di belakang kata Kejawen. Namun demikian, kata Modern tersebut saya tempatkan sebagai Judul dari Blog ini, justru untuk memberikan pencerahan itu sendiri.

Karena menurut saya, kosa kata Modern merupakan sebuah kampanye/propaganda anti Akar Budaya Setempat, sehingga Kedua AS menggunakan pola “Branding” untuk men-dikotomi-kan antara Tradisional (Berdasar Akar Budaya Setempat), dengan Modern (Nilai-nilai yang mereka bawa masuk ke Negara-negara calon Jajahan Pola Pikir Mereka)

Tetapi, untuk memberikan pemahaman tersebut, saya perlu memberikan nama blog saya ini dengan Kejawen-Modern, secara terpisah, yakni untuk memberikan dikotomi, bahwa Kejawen sendiri, dan Modern sendiri.

Sekali lagi untuk berhubungan atau berkomunikasi atau berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa, kita tidak mengenal Modern atau Tradisional. Karena Tuhan Yang Maha Esa – …. ada sebelum kita semua ada, tetap ada setelah kita semua tiada ….

Jadi tidak ada Hubungannya, bahwa Agama yang lebih baru, adalah agama yang lebih baik. Dengan analogi tersebut, sama saja mengatakan Allah mereka mempunyai kemampuan yang sama dengan manusia. Dimana harus mengalami proses penyempurnaan.

Kejawen adalah Agama Lokal tertua di dunia yakhi 4425 tahun sebelum Masehi, sementara Hindu sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.

Secara sosiologis, dan sudah dibuktikan, tidak ada satu Agama pun di Dunia yang tidak berawal dari Agama Lokal. Hal ini dikarenakan, tidak ada satu pun Agama yang turun ke Bumi, yang langsung sama persis pelaksanaannya di seluruh Dunia dalam waktu yang bersamaan pula. Singkatnya, semua Agama di dunia membutuhkan waktu sosialisasi untuk pengembangan wilayah cakupan Agama tersebut.

Saya pernah membaca di sebuah Blog, yakni mengenai Sifat Ciptaan Tuhan, dimana disebut bahwa hanya Nyawa dan Nafas yang terbukti Diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa Secara Langsung. Karena Nafas di seluruh dunia seragam, mulai yang dihirup, sampai cara bernafasnya pun sama, juga yang canggih, kita tidak pernah harus belajar Nafas untuk dapat hidup di Bumi ini.

Kalau CiptaanNya Secara Tidak Langsung adalah berbagai hal yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, melalui perantaraan manusia yang di-pintar-kan, seperti tak ubahnya penemuan; Lampu (Wolfram), dan Mesin, dalam disiplin ilmu tehnik, sementara Kitab Suci, dan Agama dapat disebut sebagai disiplin ilmu sastra.

Kembali lagi pada Kejawen-Modern, jadi sesungguhnya tidak ada Kejawen Modern, yang ada adalah Kejawen yang menyesuaikan dengan prilaku manusia pada zamannya.

Catatan :

Kejawen merupakan sebutan orang yang menganut Agami Jawi, seperti juga Muslim untuk orang yang menganut agama Islam, atau Kristiani bagi penganut agama Kristen.

Ok.. kita lanjut lagi versi saya. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Sehingga ini pula yang menginspirasi saya untuk menulis.

Agama. Adalah kata sakral yang selalu menjadi bagian pembahasan yang harus penuh kehati-hatian. Sensitivitas bagi pemeluk agama sangat tinggi. Dan tidak boleh salah, karena akan dianggap menista salah satu agama.

Pada dasarnya saya sepakat dengan pemikiran bahwa; Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik. Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.

Yang perlu disadari disini dan harus diakui, sebagian besar dari setiap pemeluk agama adalah warisan dari keturunan dan lingkungan. Artinya, ia akan secara otomatis memeluk agama sesuai dengan dimana ia dilahirkan dan oleh orang tua dari pemeluk agama apa. Jika islam, ya secara otomatis akan menjadi muslim, jika lingkungan dan atau orang tuanya Kristen maka tentu ia akan menjadi kristiani. Atau agama lainnya.

Soal akan tumbuh menjadi baik atau buruk, itu bagian lain. Karakter dan proses hidup akan mengambil bagian dari pembentukan itu. Demikian juga cara berpikir manusia akan senantiasa terbentuk dari pengaruh lingkungan dan proses hidupnya.

Jika dilahirkan di Amerika maka gaya, cara, dan karakternya akan terbentuk sebagaimana orang Amerika pada umunya. Demikian juga ketika di Arab, Africa, Indonesia, atau lainnya.

Lalu yang menjadi persoalan seringkali perbedaan alami ini yang menjadi pertentangan dan cenderung merasa yang paling benar termasuk soal agama tadi. Makanya, harus hati-hati karena sangat sensitive. Dan sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Cara berpikir lah yang terkadang cenderung mempangaruhi visi dari sebuah agama itu sendiri.

Ketertarikan dengan kejawen, menurut saya–tanpa label agama—adalah; cara pandang dalam memaknai hidup. Dimana terkandung nilai-nilai luhur manusiawi dalam berperi kehidupan sosial. Nilai-nilai luhur dengan pemahaman hakikat yang menonjol sehingga menjadikannya sebagai tuntunan bagi setiap umat manusia, jika tidak dilabeli agama.

Pengkotak kan agama dan label lah yang terkadang cenderung membuat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap ajaran tidak mampu dilihat oleh kelompok lain. Karena telah terjadi penolakan sebalum melihat.

Kejawen adalah adalah warisan masa lalu tentang hakikat yang mengandung tuntunan nilai-nilai luhur yang diakui nurani kebenaranya. Kejawen adalah sebuah kata untuk menyebut ajaran-ajaran tersebut. Dan kebenaran-kebenaran yang diakui oleh nurani akan benar-benar dapat dilihati oleh setiap insan di bebagai belahan dunia ketika kebenaran-kebenaran tersebut sudah tidak mempunyai label lagi. Kebenaran antara sang khalik dan jiwa ciptaannya.

Sebagai insan Nusantara, sebagai insan Atlantis, sebagai insan Lemuria, sebagai insan sang khalik, saya bangga sebagai pewaris nilai-nilai kebenaran. Bukti kejayaan masa lalu, dapat dilihat melalui ajaran-ajaran kebenaran berbudi luhur nya, yang disebut kejawen bagi pemeluk Agami Jawi.

Budi luhur adalah manifestasi dari kerinduang insan. Kebutuhan bagi setiap ciptaan sang khalik. Bagi setiap pemeluk agama maupun bukan pemeluk agama.

Dan masa kejayaan negeri eden nan sentosa itu akan bangkit kembali, ketika setiap insan pewarisnya mampu melihat nilai-nilai kebenaran dalam bentuk hakikat dan makrifat yang dirindukan kan oleh nurani.

Era Atlantis adalah era modern, modern dalam berpikir dan melihat tanpa batas-batas tertentu.

Bersambung gan…. Sudah pagi…

5 Nama Digunakan Untuk Menyebut “Indonesia” Sebelum “Indonesia”

elgrandesconocido — Nama Indonesia berasal dari kata “Indo” dan “Nesie” (bahasa Yunani) yang artinya kepulauan Hindia. Dan orang pertama yang menggunakan nama Indonesia itu adalah James Richardson Logan (1869) dalam kumpulan karangannya yang berjudul The Indian Archipelago and Estern Asia yang terbit dalam Journal of the Asiatic Society of Bengal (1849-1859).

Pada masa jaman kolonial lalu, nama Indonesia begitu tabu untuk diperdengarkan. Makanya tak heran, beberapa sebutan atau nama telah disematkan oleh bangsa asing untuk menamai negeri kepulauan ini. Berikut 5 nama lain Indonesia yang diberikan oleh bangsa asing di masa lalu.

1. Hindia

Nama Hindia ini adalah ciptaan dari Herodotus, seorang ahli ilmu sejarah berkebangsaan Yunani (484-425 Sebelum Masehi) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Sejarah. Adapun nama Hindia ini baru dipergunakan untuk kepulauan ini, oleh Ptolomeus (100-178 SM), seorang ahli ilmu bumi yang terkenal.Dan nama Hindia ini menjadi terkenal sesudah bangsa Portugis di bawah pimpinan Vascvo da Gama mendapati kepulauan ini dengan menyusur sungai Indus, dalam tahun 1498 Masehi

2. Nederlandsch Oost-Indie

Cornelis de Houtman (Sumber: bad-bad.de)
Nama ini diberikan oleh orang-orang Belanda sesudah mereka berkuasa disini. Kemudian nama ini ditukar dengan “Nederlandsch Indie”. Seperti diketahui, bangsa Belanda untuk pertama kalinya datang ke Indonesia dalam tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman.

3. Insulinde

Nama ini diberikan oleh Eduard Douwes Dekker (multatuli) di dalam bukunya Max Havelaar dalam tahun 1860, kemudian nama ini dipopulerkan oleh Professor P.J. Veth. Multatuli membuat nama baru ini, oleh karena ia jijik mendengar nama Nederlandsch Indie yang diberikan oleh Belanda itu. Adapun asal usul perkataan tersebut ialah berasal dari perkataan “Insulair”, “Insula” dan “Indus”. Insula dalam bahasa latin yang berarti pulau. Indus berarti Hindia, sedangkan Insilinde artinya pulau Hindia.

4. Nusantara

Nama ini ditemui dalam perpustakaan India Kuno, yang menyebut negeri ini Nusantara. Adapun Nusantara atau Dwipantara artinya pulau-pulau yang berada diantara benua-benua. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan, bahwa Nusantara ialah pulau-pulau di luar tanah Jawa. Sedangkan dalam sejarah Melayu dipakai nama: Nusa Tamara. Nama inipun sesungguhnya berasal dari perkataan yang diucapkan Nusantara.

5. The Malay Archipelago

Nama ini diciptakan oleh Alfred Russel Wallace dalam tahun 1869, sesudah ia mengadakan perlawatan ke tanah air kita, dari tahun 1854 sampai dengan 1682. Adapun “Malay” artinya Melayu, “Archipel” yang berasal dari bahasa Yunani “Archipelagus” (dari asal Archi=memerintah; plagus= laut). Dengan demikian beraarti menguasai laut, atau berarti kumpulanpulau-pulau Melayu.

sumber : yugo21.blogspot.com