Arti Mimpi yang Berulang dan Mimpi Buruk

Banyak orang memiliki mimpi yang sama atau serupa berkali-kali, baik dalam waktu singkat atau seumur hidup. Mimpi yang berulang biasanya berarti ada sesuatu dalam hidup Anda yang belum Anda akui atau selesaikan, yang menyebabkan semacam stres pada diri Anda. Mimpi itu terjadi berulang kali karena Anda belum menyelesaikan masalahnya. Teori lain adalah bahwa orang yang mengalami mimpi yang berulang memiliki semacam trauma di masa lalu yang mereka coba hadapi. Dalam hal ini, mimpi cenderung berkurang seiring waktu.

Mimpi buruk adalah mimpi yang sangat menyusahkan sehingga biasanya membangunkan kita. Mimpi buruk dapat terjadi pada usia berapa pun tetapi terlihat pada anak-anak dengan frekuensi terbanyak. Mimpi buruk biasanya menyebabkan perasaan takut, sedih, atau cemas yang kuat. Penyebabnya beragam. Beberapa obat menyebabkan mimpi buruk (atau menyebabkannya jika Anda menghentikan obat secara tiba-tiba). Peristiwa traumatis juga menyebabkan mimpi buruk.

Perawatan untuk mimpi buruk yang berulang biasanya dimulai dengan menafsirkan apa yang terjadi dalam mimpi dan membandingkannya dengan apa yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Kemudian, orang tersebut menjalani konseling untuk mengatasi masalah yang mungkin menyebabkan mimpi buruk. Beberapa pusat tidur menawarkan terapi dan konseling mimpi buruk. Metode lain untuk mengobati mimpi buruk adalah melalui mimpi jernih. Melalui bermimpi jernih atau lucid dream, pemimpi dapat menghadapi penyerangnya dan, dalam beberapa kasus, mengakhiri mimpi buruk.

Night Terror (Gangguan Tidur)

Tidak seperti mimpi buruk yang terjadi selama tidur REM (Gerak mata cepat), teror malam terjadi selama tidur non- REM, biasanya pada siklus pertama dari fase tidur terdalam (dalam satu atau dua jam pertama tidur). Teror malam hari dapat berlangsung dari lima hingga 20 menit. Orang-orang yang mengalami teror malam masih tidur tetapi mungkin terlihat seperti mereka bangun. Misalnya, mereka dapat duduk di tempat tidur sambil berteriak dengan mata terbuka lebar. Ketika mereka benar-benar bangun, mereka biasanya tidak memiliki ingatan akan hal itu (meskipun beberapa orang mengingatnya). Teror malam paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi orang dewasa juga bisa mengalaminya.

Sumber Edmodo.id

Permainan Bola Tangkasnet

Game tangkasnet yang adalah nama judi online yang biasa disebut sebagai bola tangkas. Dimainkan secara online lewat gadget yang berbasis Android atau IOS. Membantu semua penggemar game taruhan bola tangkas yang kini telah populer dikalangan masyarakat.

Permainan Bola Tangkasnet

Dalam bermain Bola Tangkas sangat mudah sejak adanya Aplikasi Tangkasnet. Dimana sebelumnya semua petaruh harus pergi ketempat bandar casino yang meluangkan permainan itu. Ada pun yang menyinggung permainan bola cekatan dengan sebutan Mickey mouse. Mungkin sejumlah orang masih belum tahu dengan game bola cekatan online. Bermain bola tangkas menggunakan sarana kartu remi player akan menerima sempurna 7 kartu di setiap permainan. Untuk meyakinkan pemenangnya dari 5 kombinasi kartu terbaik. Kans menang di game ini sangat besar, seperti itu juga hadiah yang akan diterima.

Dari kombinasi kartu kalian akan menerima kemenangan yang berbeda, Dan pun akan ada Jackpot di setiap putaran. Bola tangkas ada urutan kombinasi seperti :

  • Royal Flush
  • 5 Of a Kind
  • Straight Flush
  • 4 Of a Kind
  • Full House
  • Flush
  • Straight
  • 3 Of a Kind
  • Two Pairs
  • Pair

Memperoleh lima kartu kombinasi hal yang demikian kalian akan menerima kemenangan, kian tinggi nilainya karenanya akan menerima jumlah yang besar juga. Jadi tak perlu takut kalah di permainan Bola Tangkas , asalkan anda tahu cara dan kiat dalam bermain.

Bermain game bola tangkas online android sangat menguntungkan untuk para pemainnya. Hanya perlu mengunduh aplikasinya. Untuk semua pemula juga bias mendaftar lewat Agen Tangkasnet online terpercaya yang terpercaya untuk mendapatkan ID dan Kata permainan. Karena ID hal yang demikian diterapkan Login kedalam Game Tangkasnet. Serta Akun sebagai Deposit dan Withdraw di setiap main.

Keuntungan Bermain Bola Tangkasnet

Di setiap Bermain taruhan tentu ada profit tersendiri, seperti tersebut juga di Bola Tangkas . Apa saja sih profit bermain bola tangas online lewat tangkasnet. Pastinya kalian penasarankan? Berikut profit bermain Judi Bola Tangkas :

Keuntungan yang kamu rasakan dalam bermain dengan Android merupakan bisa bermain kapan saja tanpa meyakinkan waktu. Karena web tangkasnet online terdapat 24 jam nonstop tanpa ada waktu libur. Jadi lebih nyaman untuk memenuhi waktu senggang dikala jam Istirahat.

Tak perlu jauh – jauh ke wilayah perjudian disaat ingin bermain bola tangkas. Dengan secara telah dapat dimainkan dimana saja tanpa meyakinkan wilayah untuk bermain. Hanya memerlukan sarana Dunia untuk mengakses permainan ini. Lebih mudah bukan bila ingin Bermain dan bertaruh untuk menerima duit tambahan.

Dipermainan Bola Tangkas Terpercaya akan lebih mudah menerima kemenangan, juga Bonus yang disediakan oleh semua Agen untuk setiap semua membernya. Mulai dari bonus deposit, serta jackpot dalam permainan yang secara Random akan diperoleh.

Dengan profit hal yang demikian tak akan menciptakan para pemain merasakan kerugian yang besar. Jadi tunggu apalagi, segera bergabung bareng Agen Bola Tangkas yang sudah terpercaya.

Wisata Kuliner yang Wajib Dicoba di Sulawesi

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia seakan tidak pernah kehabisan berbagai hal utuk dieksplorasi. Salah satu kepulauan yang berpotensi sangat besar dalam hal pariwisata tidak lain adalah Pulau Sulawesi. Wisata Sulawesi menawarkan berbagai macam tempat pariwisata mulai dari pegunungan,perbukitan,pantai,dan lain-lain. Tetapi kali ini kita akan fokus membahas mengenai wisata kuliner di Sulawesi.

Bagi anda yang ingin berencana untuk liburan ke pulau Sulawesi, Berikut wisata kuliner di Pulau Sulawesi yang wajib kalian kunjungi!!

Coto Makassar

Coto Makassar, Nama makanan ini pasti tidak terdengar terlalu asing di telinga para pembaca sekalian,Coto Makassar seperti namanya adalah makanan tradisional yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini dibuat dari jeroan sapi dan daging sapi yang direbus lama hingga lembut. Rebusan jeroan dan daging sapi ini kemudian dipotong potong lalu diracik dengan resep khusus.

Coto ini kemudian dihidangkan dalam mangkuk dan biasanya tidak lengkap rasanya jika tidak disantap ditemani ketupat. Salah satu warung makan yang menyajikan Coto Makassar terbaik ialah Coto Paraikatte yang berlokasi di Jalan A. P. Pettarani No. 125 Makassar/ dekat SPBU Pettarani yang buka dari jam 8 pagi sampai 10 malam waktu Indonesia tengah.

Harga makanan yang disajikan juga sangat aman buat dompet dengan harga kisaran 10.000 untuk tiap menu, dijamin engga bakal rugi!

Pallu Kaloa

Hidangan Pallu Kaloa ini adalah makanan yang berupa sup ikan yang diracik dengan rempah bernama kaloa. Jika diartikan pallu artinya masakan, sedangkan kaloa adalah keluwak. Oleh karena itu, sekilas hidangan pallu kaloa ini tampak seperti rawon yang berasal dari jawa karena sama sama menggunakan keluwak.

Pallu kaloa  menggunakan bahan utama ikan sehingga terkadang wisatawan menyebutnya dengan rawon ikan. Akan tetapi kita tidak bisa menyamakan kedua hidangan tersebut karena pallu kaloa juga punya keunikannya tersendiri, yaitu menggunakan kelapa gongseng.

Kelapa gongseng adalah kelapa parut yang disangrai, kemudian di pukul hingga keluar minyaknya. Salah satu warung makanan yang cukup terkenal menghidangkan hidangan yang satu ini  adalah warung H. Wasid.

Warung yang satu ini terletak di Jalan Tentara Pelajar No. 104, Melayu, Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90173 dan mulai buka dari jam setengah 9 pagi sampai 11 malam waktu Indonesia tengah. Warung ini sudah ada sejak tahun 1970-an dan pastinya gaperlu dipertanyakan lagi deh kenikmatannya.

Pisang epe

Ga lengkap rasanya membahas wisata kuliner di sulawesi tanpa bicara soal pisang epe. Pisang epe adalah jajanan unik yang sering dijumpai di daerah Makassar, Sulawesi Selatan.

Makanan khas Makassar berupa pisang ini sangat cocok untuk menemani diri ketika sedang dipantai ataupun hanya bersantai di sore hari. Kata “epe” diambil dari bahasa Makassar yang memiliki arti “jepit”. Jadi, secara simpelnya pisang epe ini adalah pisang bakar yang dijepit sehingga terlihat gepeng.

Cara memasak pisang epe ini juga cukup unik karena pisang dipress terlebih dahulu sampai gepeng dengan alat yang bernama pangepena dan kemudian pisang yang telah dipress tersebut dipanggang diatas bara api. Pisang epe yang sudah gepeng dan dibakar tersebut biasanya dihidangkan dengan semacam saus sebagai topingnya agar lebih nikmat.

Pada umumnya saus ini terbuat dari gula merah yang dicairkan tapi seiring waktu jenis saus yang dipakai untuk menyiram pisang epe ini semakin bervariasi mengikuti perkembangan jaman. Penjual pisang epe yang terkenal di Makassar ialah Pisang Epe Tamala’jua.  Warung ini terletak di Jl. Ali Malaka, Maloku, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Pisang epe Tamala’jua uka dari jam 5 sore sampai jam 4 pagi waktu Indonesia timur, dan hanya dengan Rp 10.000 anda sudah bisa menikmati pisang epe yang mantap ini.

Mi Hengki

Mi Henki merupakan sajian mie kering khas kota Makassar yang juga merupakan kuliner khas kota Makassar. Mie Hengki Makassar ini merupakan semacam olahan mie China yang tidak kalah dengan olahan olahan mie biasanya.

Mie Henki Makassar ini disajikan dengan berbagai macam olahan, mulai dari potongan daging ayam, cumi-cumi, hati, bahkan jamur. Mi kering ini dicetuskan oleh Angko Cao dan sudah melegenda dari tahun 1980-an loh, dengan cita rasa yang enggak pernah berubah sejak awal dibuka. Warung Mi Henki ini masih berlokasi sama sejak pertama kali dibuka, yaitu di Jalan Nusantara No.358, Butung, Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Warung ini bisa dibilang buka ketika matahari mulai terbenam, jadi pastikan ketika anda berniat untuk berkunjung anda datang sekitaran jam 6 sore sampai 1 pagi waktu Indonesia timur. Dengan kisaran harga Rp 30.000 anda sudah bisa menikmati wisata kuliner sulawesi yang satu ini.

Keseruan Batu Dengan Paket Wisata Batu

Batu merupakan salah satu kawasan yang memiliki keseruan di Daerah Malang dan juga menyajikan banyak pesona wisata menarik. Kota yang terkenal dengan ikon Apelnya ini memang banyak memberikan spot wisata yang menakjubkan dan mengesankan. Bahkan tidak heran jika tempat tempat di wilayah Batu Malang ini bisa kita jadikan list spot liburan bersama keluarga dan orang tersayang.

Dalam berwisata di kota Batu, kita bisa melakukannya dengan solo traveler dan bisa juga dengan menyewa Paket Wisata Batu. Jika kita menggunakan paket wisata Batu akan jauh lebih mudah dan terorganisir ketika liburan. Tapi tidak peduli baik solo traveler ataupun menggunakan jasa paket wisata Batu. Satu hal yang jelas, kota yang satu ini harus kita kunjungi ketika kita melewati daerah Malang. Lantas yang menjadi keseruan dan pertanyaan besar kita adalah ada apa aja sih di Kota Batu ini.

Daftar Harga Tiket Wisata Di Batu

Batu Night Festival (30.000-40.000)

Jika kita berkunjung ke wilayah Batu, jangan lupa untuk menikmati salah satu pesona wisata yang ditawarkan oleh Batu Night Festival. Tempat ini merupakan pasar malam yang spektakuler. Dimana tempat yang satu ini sangat cocok dijadikan sebagai tujuan wisata bersama dengan keluarga ketika berkunjung ke sini. Di objek wisata yang terletak di Jalan Hayam Wuruk Oro-oro Ombo ini, kita bisa menikmati berbagai wahana yang seru. Misalnya saja wahana komisi putar yang akan mengajak anda untuk terbang dan menikmati indahnya kota Batu. Anda juga bisa menantang adrenalin dengan mengunjungi rumah hantu. Tidak berhenti sampai di situ, kita juga bisa menikmati berbagai permainan lain yang tidak kalah menarik. Jika ingin berkunjung maka datanglah pada pukul 3 sore sampai pukul 11 malam.

Eco Green Park (55.000-75.000)

Nikmati paket wisata Batu dengan berkunjung ke Eco Green Park. Seperti namanya, Eco Green Park merupakan taman yang isinya adalah tanaman hijau yang asti dan nyaman. Di tempat ini anda bisa menikmati pemandangan alam yang sangat asri. Tidak hanya itu, anda juga bisa bermain dan berinteraksi dengan satwa yang lucu misalnya dengan memerah sapi, melihat berbagai jenis burung sampai menikmati keseruan indahnya taman bunga beraneka ragam.

Jika anda ingin berkunjung ke tempat ini maka bisa berkunjung ke Jalan Oro-oro Ombo No 9A tepatnya di kecamatan Batu Kelurahan Sisir, kota Jawa Timur. Harga masuknya cukup terjangkau, anda hanya perlu membayar 55ribu di hari biasa dan 75ribu di akhir pekan. Datanglah di pukul 9 pagi sampai jam 5sore.

Museum D’Topeng (50.000-75.000)

Kota Batu menyimpan pesona sejarahnya dalam paket wisata Batu yaitu di Museum D’topeng. Museum ini merupakan salah satu yang menarik dan berbeda dengan museum lainnya. Seperti kita tahu Topeng adalah salah satu bentuk peninggalan kebudayaan Nusantara. Di tempat inilah kebudayaan tersebut dilestarikan. Tempat ini dibuka pada Mei 2014 silam. Karena dibuka sudah hampir lama maka di tempat ini telah banyak menyimpan ribuan koleksi topeng. Mulai dari topeng khas, topeng tradisional dan lainnya.

Bahkan koleksinya ada yang dari zaman prasejarah sampai dengan topeng antik dari zaman kerajaan Majapahit. Di tempat ini anda juga bisa melihat topeng kuno yang sarat akan suasana mistis serta berkekuatan sejarah yang cukup tinggi. Jika anda ingin ke tempat ini datanglah ke Jalan Terusan Sultan Agung , Ngaglik Kecamatan Batu Jawa Timur. Jangan lupa untuk datang pada jam 12 sampai jam 8 malam.

Omah Kayu

Secara bahasa omah kayu berarti rumah yang terbuat dari kayu sebagaimana diartikan dadi bahasa jawa. Akan tetapi ditempat ini omah kayu disulap menjadi tempat wisata yang penuh pesona dan sangat mengesankan. Omah kayu ini adalah salah satu wisata yang bertemakan alam. Jadi ini pastinya akan membawa keseruan untuk teman teman semua.

Disini anda tidak hanya bisa menikmati keindahan pesona alamnya. Di tempat ini anda juga bisa melihat tempat berburu foto yang instagramable. Anda bisa berfoto foto di kabin-kabin kayu yang sangat eksotis di tengah hutan. Bahkan jika anda ingin menyiapkan biaya ekstra maka anda bisa menikmati sensasi bermalam di kabin kayu itu.

Instalasi Pengolahan Air Untuk Kesehatan

Definisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) (wastewater treatment plant, WWTP), adalah sebuah struktur. Struktur ini dirancang untuk membuang limbah biologi dan kimiawi dari air. Sehingga ini memungkinkan air tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain.

Fungsi Instalasi pengolahan air limbah ini mencakup pengolahan air limbah pertanian, perkotaan dan industri. Maka dari itulah semakin banyak kegiatan dalam sektor tersebut. Ini juga meningkatkan limbah yang dihasilkan oleh masyarakat umum.

Tahun 2020 ini kita di guncang banyak peristiwa, mulai dari banjir hingga COVID-19. Dengan adanya COVID-19 ini beberapa sektor harus berhenti untuk mengikuti protocol pemerintah mengenai #dirumahaja. Hal ini tentu sangat berdampak pada rendahnya limbah yang diproduksi oleh beberapa sektor.

Rendahnya limbah tersebut dapat dilihat dari sungai Vanesia di Italia, Sungai Gangga di India dan Sungai Jeram Tinggi Jementah di Segamat. Semua sungai sangat jernih akibat penurunan aktivitas. Namun siapa sangka kondisi tersebut sangat berbalik arah dengan tingginya aktivitas medis. Tingginya permintaan dan kebutuhan masyarakat akan kesehatan yang terganggu akibat virus. Ini menyebabkan Rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya penuh.

Apa Saja Jenis dan Sumber air limbah yang harus diolah?

Air limbah adalah seluruh air buangan yang berasal dari hasil proses kegiatan sarana pelayanan kesehatan yang meliputi : air limbah domestik (air buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian), air limbah klinis ( air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit, misalnya air bekas cucian luka, cucian darah dll), air limbah laboratorium dan lainnya.

Prosentase terbesar dari air limbah adalah limbah domestik sedangkan sisanya adalah limbah yang terkontaminasi oleh infectious agents kultur mikroorganisme, darah, buangan pasien pengidap penyakit infeksi, dan lain-lain.

Air limbah yang berasal dari buangan domestik maupun buangan limbah cair klinis umumnya mengandung senyawa pencemar organik yang cukup tinggi dan dapat diolah dengan proses pengolahan secara biologis.

Air limbah yang berasal dari laboratorium biasanya banyak mengandung logam berat yang apabila dialirkan ke dalam proses pengolahan secara biologis dapat mengganggu proses pengolahannya., sehingga perlu dilakukan pengolahan awal secara kimia-fisika, selanjutnya air olahannya dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah.

Jenis air limbah yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dikelompokkan sebagai berikut: Air limbah domestic, Air limbah klinis, Air limbah laboratorium klinik dan kimia dan Air limbah radioaktif (tidak boleh masuk ke IPAL, harus mengikuti petunjuk dari BATAN)

Adapun sumber-sumber yang menghasilkan air limbah, antara lain : Unit Pelayanan Medis, yang terdiri dari : rawat inap, rawat jalan, rawat darurat, rawat intensif,  haemodialisa, bedah sentral dan rawat isolasi.

Unit Penunjang Pelayanan Medis yang terdiri dari : laboratorium, radiologi, farmasi, sterilisasi dan kamar Jenasah. Unit Penunjang Pelayanan Non Medis, yang terdiri dari : logistik, cuci (laundry), rekam medis, fasilitas umum : Masjid / Musholla dan kantin, kesekretariatan / administrasi, dapur gizi dan lain lain. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Kenapa Instalasi Pengolahan Air Limbah itu Penting?

Air limbah yang dihasilkan oleh aktivitas dan kegiatan di rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan yang lain merupakan salah satu sumber pencemaran air yang sangat potensial karena mengandung senyawa organik yang cukup tinggi, serta senyawa kimia lain yang berbahaya serta mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan.

Hal itu dikarenakan komposisi, alat dan bahan medis yang sangatlah bervariasi. Maka dari itu air limbah tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah bagi lingkungan maupun masalah kesehatan masyarakat. Terlebih lagi saat ini sangat rentan dengan masalah kesehatan.

Dengan tingginya pasien akibat CIVID-19 ini sangat berdampak dengan tingginya kebutuhan mengenai fasilitas rumah sakit. Mulai dari ruangan, alat medis dan hal – hal lainnya. Maka dari itulah semakin meningkatnya jumlah fasilitas pelayanan kesehatan maka mengakibatkan semakin meningkatnya potensi pencemaran lingkungan, karena kegiatan pembuangan limbah khususnya air limbah akan memberikan konstribusi terhadap penurunan tingkat kesehatan manusia.

Upaya Pengendalian Pencemaran Lingkungan

Untuk menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman dan berkelanjutan maka harus dilaksanakan upaya-upaya pengendalian pencemaran lingkungan pada fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan dasar tersebut, maka fasilitas pelayanan kesehatan diwajibkan menyediakan instalasi pengolahan air limbah atau limbah cair.

Akibat potensi dampak terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat sangat besar maka berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1204/Menkes/SK/X2004 mengenai Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit maka setiap fasilitas pelayanan kesehatan diwajibkan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Sedangkan baku mutu air limbah mengacu pada Keputusan Menteri Negara Hidup No.58 Tahun1995 tanggal 21 Desember 1995 mengenai Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit.

Dalam sektor medis ini terdapat teknologi pengolahan air limbah yang cukup terkenal untuk memfiltrasi limbah yang dihasilkan. Pemilihan teknologi pengolahan air limbah harus mempertimbangkan beberapa hal. Yakni antara lain jumlah air limbah yang akan diolah, kualitas air hasil olahan yang diharapkan, kemudahan dalam hal pengelolaan. Ketersediaan lahan dan sumber energi juga harus dipertimbangkan, serta biaya operasi dan perawatan diupayakan serendah mungkin

Setiap jenis teknologi pengolahan air limbah mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Oleh karena itu dalam hal pemilihan jenis teknologi tersebut perlu diperhatikan aspek teknis, aspek ekonomis dan aspek lingkungan, serta sumber daya manusia yang akan mengelola fasilitas tersebut. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Proses Biologis dalam Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit

Teknologi digunakan untuk mengolah limbah yang khusus. Polutan tersebut

Dalam proses pengolahan air limbah terkhusus yang mengandung polutan senyawa organik, teknologi yang digunakan sebagian besar menggunakan aktifitas mikro-organisme untuk menguraikan senyawa polutan organik tersebut. Proses pengolahan air limbah dengan aktifitas mikro-organisme biasa disebut dengan “Proses Biologis”.

Proses pengolahan air limbah secara biologis tersebut dapat dilakukan pada kondisi aerobik (dengan udara). Ini juga bisa dilakukan di kondisi anaerobik (tanpa udara) atau kombinasi anaerobik dan aerobik. Proses biologis aeorobik biasanya digunakan untuk pengolahan air limbah. Ini digunakan dengan beban BOD yang tidak terlalu besar. Sedangkan proses biologis anaerobik digunakan untuk pengolahan air limbah dengan beban BOD yang sangat tinggi.

Pengolahan air limbah secara bilogis secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga. Yakni proses biologis dengan biakan tersuspensi (suspended culture), proses biologis dengan biakan melekat (attached culture) dan proses pengolahan dengan sistem lagoon atau kolam.

Proses biologis dengan biakan tersuspensi adalah sistem pengolahan dengan menggunakan aktifitas mikro-organisme. Ini digunakan untuk menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air. Setelah itu, mikro-organime yang digunakan dibiakkan secara tersuspesi di dalam suatu reaktor.

Beberapa contoh proses pengolahan dengan sistem ini antara lain : proses lumpur aktif standar atau konvesional (standard activated sludge). Ada juga step aeration, contact stabilization, extended aeration, oxidation ditch (kolam oksidasi sistem parit) dan lainya. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Pengolahan Air Limbah Dengan Proses Biofilter Tercelup ada Berapa Jenis?

Proses pengolahan air limbah dengan proses biofilter tercelup ini terdiri dari dua proses. Pertama ialah Proses Biofilter. Kedua adalah proses biofilter aenorob. Berikut adalah penjelasannya.

Proses Biofilter

Proses pengolahan air limbah dengan proses biofilm atau biofilter. Proses ini dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam reaktor biologis. Di dalamnya diisi dengan media penyangga untuk pengebangbiakan mikroorganisme dengan atau tanpa aerasi. Untuk proses anaerobik dilakukan tanpa pemberian udara atau oksigen. Posisi media biofilter tercelup di bawah permukaan air.

Mekanisme proses metabolisme di dalam sistem biofilm secara aerobik. Secara sederhana, proses ini akan menunjukkan suatu sistem biofilm yang yang terdiri dari medium penyangga. Selain itu, ada juga lapisan biofilm yang melekat pada medium dan lapisan alir limbah dan lapisan udara yang terletak diluar.

Senyawa polutan yang ada di dalam air limbah, misalnya senyawa organik. Ini bisa berupa (BOD, COD), amonia, fosfor dan lainnya akan terdifusi ke dalam lapisan film biologis. Lapisan tersebut pun akan melekat pada permukaan medium.

Pada saat yang bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut di dalam air limbah. Senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikroorganisme yang ada di dalam lapisan biofilm. Dan energi yang dihasilkan akan diubah menjadi biomasa.

Suplai oksigen pada lapisan biofilm dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya pada sistem RBC. Ini adalah dengan cara kontak dengan udara luar pada sistem “Trickling Filter” dengan aliran balik udara. Sedangkan pada sistem biofilter tercelup, dengan menggunakan blower udara atau pompa sirkulasi. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Proses Biofilter Anaerob

Secara garis besar penguraian senyawa organik secara anaerob dapat di bagi menjadi dua. Kedua itu adalah penguraian satu tahap dan penguraian dua tahap. Penguraian satu tahap dalam penguraian anaerobik membutuhkan tangki fermentasi yang besar. Selain itu juga harus memiliki pencampur mekanik yang besar, pemanasan, pengumpul gas, penambahan lumpur, dan keluaran supernatan (Metcalf dan Eddy, 1991).

Penguraian lumpur dan pengendapan terjadi secara simultan dalam tangki. Stratifikasi lumpur dan membentuk lapisan berikut dari bawah ke atas: lumpur hasil penguraian, lumpur pengurai aktif, lapisan supernatan (jernih), lapisan buih (skum), dan ruang gas.

Dalam penguraian dua tahap proses ini membutuhkan dua tangki pengurai (reaktor). Satu tangki berfungsi mencampur secara terus-menerus dan pemanasan untuk stabilisasi lumpur. Sedangkan tangki yang satu lagi untuk pemekatan dan penyimpanan sebelum dibuang ke pembuangan.

 Proses ini dapat menguraikan senyawa organik dalam jumlah yang lebih besar dan lebih cepat. Secara sederhana proses penguraian anaerob dua tahap dapat ditunjukkan seperti pada Gambar 2.5. Terdapat Proses Mikrobiologi Dalam Penguraian Anaerob.

Kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri, terlibat dalam transformasi senyawa komplek organik menjadi metan. Lebih jauh lagi, terdapat interaksi sinergis antara bermacam- macam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah. Keseluruhan reaksi dapat digambarkan sebagai berikut (Polprasert, 1989) :

senyawaOrganik → CH4+CO2+H2+NH3+H2S

Meskipun beberapa jamur (fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam penguraian anaerobik. Bakteri bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik.

Sejumlah besar bakteri anaerobik dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium, Lactobacillus, Streptococcus) terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organik. (Kementrian Kesehatan RI, 2011)

Sumber: http://toyaartasejahtera.net/

Why Google’s latest launch is more about the brand than the tech

Simone Natale, Loughborough University; Gabriele Balbi, Università della Svizzera italiana, and Paolo Bory, Università della Svizzera italiana

Google has launched its latest flagship phones, Pixel 4 and 4XL. Although the new models feature relatively marginal improvements to their predecessors, the launch was staged with much fanfare by Google, as if it represented a major breakthrough for the company and the smartphone market – despite most of the product specs being leaked before the event. The launch was just the latest in a series of product launches by leading digital tech companies that sharply overstated recent innovations.

On September 10, for instance, Apple introduced three new iPhones, revamped Apple Watches and two new subscriptions services, TV+ and Apple Arcade. Two weeks later, Amazon presented a long list of new gadgets at its Alexa event. All these launches have something in common: the “novelties” they introduce are merely iterations of their existing product offering, yet they are presented as revolutionary.

Exaggeration does not come as a surprise in marketing and advertisement. Yet digital corporations pursue a precise strategy with their product launches. The main goal of these events is not so much introducing specific gadgets. It is to position these companies at the centre of the aura that the so-called digital revolution has acquired for billions of users – and customers – around the world.

Long history

Launching new technology devices through public events predates Silicon Valley. Alexander Graham Bell and Guglielmo Marconi, two of the most popular inventors and entrepreneurs in the late 19th and early 20th century, organised events to present the telephone and wireless telegraphy.

Alexander Graham Bell launching the long-distance telephone line from New York to Chicago in 1892. Prints and Photographs Division, Library of Congress

The audience at these events were mainly scientists or technical experts, but they were also attended by politicians, entrepreneurs, and even kings and queens. The celebrated American inventor Thomas Edison went one step further, presenting his new products in public events such as international exhibitions and tech fairs.

Like today, launches of new products helped shape public opinion and to make a name for companies such as AT&T, Marconi and Edison. They were even used to fight commercial wars. At the end of the 19th century Edison launched a campaign of public events to promote his direct current standard against the rival alternating current. He even electrocuted animals (like the elephant Topsy) in front of journalists to demonstrate that the other standard was dangerous.

More recently, Steve Jobs followed the footsteps of these inventor-entrepreneurs and codified a “genre” – the so-called keynote. Alone on stage and wearing roll neck and jeans (an informal “uniform” for geeks), Jobs launched several Apple products in front of audiences of tech-enthusiasts. These events helped build the myth of Steve Jobs and Apple.

What product launches are really about

Jobs’ talent was more in the marketing and promoting of new devices than in developing technology. Since the 1980s, Apple’s founder recognised the power of a new vision surrounding digital technologies. This vision saw the personal computer and later the internet as harbingers of a new era.

It was a powerful cultural myth centred around the idea that we are experiencing a digital “revolution”, a concept traditionally associated with political change that now came to describe the impact of new technology. In this context, Jobs carefully staged his launches in order to present Apple as the embodiment of this myth.

Take, for instance, Apple’s famous 2007 iPhone launch. Jobs started his talk arguing that “every once in a while, a revolutionary product comes along that changes everything”. His examples included key moments from Apple’s corporate history: the Macintosh reinvented “the entire computer industry” in 1984, the iPod changed the “entire music industry” in 2001, and the iPhone was about to “reinvent the phone”.

This is a narrow account of technological change, to say the least. Believing that one single device brought about a digital revolution is like seeing a crowd of people in Times Square and assuming they turned up because you broadcast on WhatsApp that everyone should go there. It is, however, a convenient point of view for huge corporations such as Apple or Google. To keep their position in the digital market, these companies not only need to design sophisticated hardware and software, they also need to nurture the myth that we live in a state of incessant revolution of which they are the key engine.

In our research, we call this myth “corporational determinism” because like other forms of determinism, it poses the idea that one single agent is responsible for all changes. The way that digital media companies like Amazon, Apple, Facebook and Google communicate to the public is largely an attempt to propagandise this myth.

So you should not be worried if Google’s latest launch did blow you away. The key function of product launches is not actually to launch products. It is for companies to present themselves as the smartest agents in contemporary society, the protagonists of technological change and, ultimately, the heroes of the digital revolution.

Simone Natale, Senior Lecturer in Communication and Media Studies, Loughborough University; Gabriele Balbi, Associate Professor in Media Studies, Università della Svizzera italiana, and Paolo Bory, Lecturer in Media Studies, Università della Svizzera italiana

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.

Digital platforms: making the world a more complicated place

Robert Demir, Lancaster University; Christian Sandström, Chalmers University of Technology, and Christofer Laurell, Stockholm School of Economics

Digital platforms, the websites and apps which compete for our precious screen time, have successfully invaded the traditional territory of many sectors of the “old economy”. They have become the preferred – expected, even – domains for many kinds of human behaviour, from banking and property buying, to dating and entertainment.

In doing so, Airbnb, Amazon, Uber and (many) others have swiftly managed to shift economic behaviour from the world of physical bricks and mortar to a digital world powered by algorithms.

These companies are often praised for apparently providing consumers with ever more choice. But in fact, the fundamental idea behind the algorithms which power these platforms is to reduce the variation of options available.

This is because digital platforms are meticulously designed to appeal to individual users at both ends – sellers or providers, and consumers or users. In theory, this reduces the complexity of decision-making, and increases the speed of digital interaction.

Yet in many regards, digital technology has simply made things more complicated. And there are three main ways in which they have managed to do this.

First, while the boundaries between physical and digital space have become blurred, so too has the distinction between producer and consumer.

This is because social media platforms have given consumers a new and stronger voice. Likes, shares, dislikes, comments and reviews all provide information that was not available in a pre-digital age.

This voice informs both well-known brands and start-up entrepreneurs about how their products are being perceived. Consumers become part of the marketing operation in a way that was not possible before, complicating the way we value products and services.

Second, the ways in which business initiatives attract funding has also altered considerably. Specifically, crowdfunding has become a popular way of raising finance for new ideas or projects, attracting donations through collaborative contributions. And recent analysis suggests that crowdfunding is fuelling a wide array of ideas that go well beyond what would be possible in the context of traditional funding (from banks or wealthy investors).

As new business ventures gain funding and momentum more easily through the digital landscape, they increase the overall complexity of the marketplace. The speed (and scope and scale) at which markets are redefined is accelerated by entrepreneurs who create new offerings.

Third, the digital media landscape has given rise to a plethora of platforms enabled by information and communications technology for the exchange of goods and services. Specifically, the “sharing”, “access” and “community-based” economies represent new ways in which exchanges of goods and services take place on platforms such as Airbnb, Uber and Couchsurfing.

The sharing economy, however, has recently been shown to be expanding into various new sectors including fashion and sports, adding complexity by going beyond the previously dominant sectors of transportation and accommodation.

Simple? Shutterstock/BEST-BACKGROUNDS

In light of all these rapid developments, which change the conventional view of what a market-based economy is, there are several serious challenges facing society.

A simply complex situation

These concern how we all – consumers, producers, investors – manage communication, privacy and cyber security. Given the nature of the algorithmic world, voices are increasingly raised about the risks of artificial intelligence (AI) for humankind.

But before we even reach this level, the risks are great for the idea of human liberal thought, when the ways in which we are being persuaded are unclear to so many of us.

Consumers, firms and policymakers are already feeding AI-enabled online robots with ever more information aimed at improving automated digital solutions for everyday decisions, issues and concerns.

Can we balance the value generated from such digital platforms with the potential risks? Probably. But concerted action from governments and businesses is needed to enhance transparency about the risks of algorithmic solutions and decisions. That’s the only way we can all be expected to understand this brave new digital world.

Robert Demir, Lecturer in Strategic Management, Lancaster University; Christian Sandström, Associate Professor of Technology Management and Economics, Chalmers University of Technology, and Christofer Laurell, Docent, Stockholm School of Economics

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.

Don’t just blame YouTube’s algorithms for ‘radicalisation’. Humans also play a part

YouTube uses a wide range of tools to keep viewers watching. Shutterstock

Ariadna Matamoros-Fernández, Queensland University of Technology and Joanne Gray, Queensland University of Technology

This is the second article in a series looking at the attention economy and how online content gets in front of your eyeballs. Read part 1 here.


People watch more than a billion hours of video on YouTube every day. Over the past few years, the video sharing platform has come under fire for its role in spreading and amplifying extreme views.

YouTube’s video recommendation system, in particular, has been criticised for radicalising young people and steering viewers down rabbit holes of disturbing content.

The company claims it is trying to avoid amplifying problematic content. But research from YouTube’s parent company, Google, indicates this is far from straightforward, given the commercial pressure to keep users engaged via ever more stimulating content.

But how do YouTube’s recommendation algorithms actually work? And how much are they really to blame for the problems of radicalisation?

The fetishisation of algorithms

Almost everything we see online is heavily curated. Algorithms decide what to show us in Google’s search results, Apple News, Twitter trends, Netflix recommendations, Facebook’s newsfeed, and even pre-sorted or spam-filtered emails. And that’s before you get to advertising.

More often than not, these systems decide what to show us based on their idea of what we are like. They also use information such as what our friends are doing and what content is newest, as well as built-in randomness. All this makes it hard to reverse-engineer algorithmic outcomes to see how they came about.

Algorithms take all the relevant data they have and process it to achieve a goal – often one that involves influencing users’ behaviour, such as selling us products or keeping us engaged with an app or website.

At YouTube, the “up next” feature is the one that receives most attention, but other algorithms are just as important, including search result rankings, homepage video recommendations, and trending video lists.


How YouTube recommends content

The main goal of the YouTube recommendation system is to keep us watching. And the system works: it is responsible for more than 70% of the time users spend watching videos.

When a user watches a video on YouTube, the “up next” sidebar shows videos that are related but usually longer and more popular. These videos are ranked according to the user’s history and context, and newer videos are generally preferenced.

This is where we run into trouble. If more watching time is the central objective, the recommendation algorithm will tend to favour videos that are new, engaging and provocative.

Yet algorithms are just pieces of the vast and complex sociotechnical system that is YouTube, and there is so far little empirical evidence on their role in processes of radicalisation.

In fact, recent research suggests that instead of thinking about algorithms alone, we should look at how they interact with community behaviour to determine what users see.

The importance of communities on YouTube

YouTube is a quasi-public space containing all kinds of videos: from musical clips, TV shows and films, to vernacular genres such as “how to” tutorials, parodies, and compilations. User communities that create their own videos and use the site as a social network have played an important role on YouTube since its beginning.

Today, these communities exist alongside commercial creators who use the platform to build personal brands. Some of these are far-right figures who have found in YouTube a home to push their agendas.

It is unlikely that algorithms alone are to blame for the radicalisation of a previously “moderate audience” on YouTube. Instead, research suggests these radicalised audiences existed all along.


Content creators are not passive participants in the algorithmic systems. They understand how the algorithms work and are constantly improving their tactics to get their videos recommended.

Right-wing content creators also know YouTube’s policies well. Their videos are often “borderline” content: they can be interpreted in different ways by different viewers.

YouTube’s community guidelines restrict blatantly harmful content such as hate speech and violence. But it’s much harder to police content in the grey areas between jokes and bullying, religious doctrine and hate speech, or sarcasm and a call to arms.

Moving forward: a cultural shift

There is no magical technical solution to political radicalisation. YouTube is working to minimise the spread of borderline problematic content (for example, conspiracy theories) by reducing their recommendations of videos that can potentially misinform users.

However, YouTube is a company and it’s out to make a profit. It will always prioritise its commercial interests. We should be wary of relying on technological fixes by private companies to solve society’s problems. Plus, quick responses to “fix” these issues might also introduce harms to politically edgy (activists) and minority (such as sexuality-related or LGBTQ) communities.

When we try to understand YouTube, we should take into account the different factors involved in algorithmic outcomes. This includes systematic, long-term analysis of what algorithms do, but also how they combine with YouTube’s prominent subcultures, their role in political polarisation, and their tactics for managing visibility on the platform.

Before YouTube can implement adequate measures to minimise the spread of harmful content, it must first understand what cultural norms are thriving on their site – and being amplified by their algorithms.


The authors would like to acknowledge that the ideas presented in this article are the result of ongoing collaborative research on YouTube with researchers Jean Burgess, Nicolas Suzor, Bernhard Rieder, and Oscar Coromina.

Ariadna Matamoros-Fernández, Lecturer in Digital Media at the School of Communication, Queensland University of Technology and Joanne Gray, Lecturer in Creative Industries, Queensland University of Technology

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.

Banning Huawei could cut off our nose to spite our face. Good 5G matters

Christopher Findlay, Australian National University

Productivity growth matters. In advanced economies over the past 15 years it has fallen by half.

Which is why it doesn’t make much sense to risk damaging one of the most important potential sources for future growth in productivity: the rollout of 5G.

5G is the next generation of wireless technology. Download speeds will be many times faster than what is possible under 4G.

And it’s not just speed. It’ll cut latency, which is the time it takes for signals to start travelling – something that will be critically important for the Internet of Things.


Forbes magazine


Nurtured well, 5G has the potential to become a “general-purpose technology”, analogous to electricity.

It holds open he possibility of creating new markets for goods and services that we can’t yet imagine.

The best suppliers of the gear required for 5G are in China, most notably Huawei, which has made the heaviest investments in the relevant technology but the problem is that Huawei caught up in security concerns.


Read more: What is a mobile network, anyway? This is 5G, boiled down


It has been banned from work on Australia’s national broadband network and from helping build Australia’s 5G networks.

In the US the president issued an executive order last May prohibiting transactions with providers subject to direction by foreign adversaries.

Britain has the matter under consideration, although there are signs it might allow Huawei in to some parts of the network.

Huawei is setting standards

Industry experts rank Huawei highly.

Hauwei’s Zhao Ming with new 5G phones in Beijing, Tuesday. Ma Peiyao/Imaginechina/AP

Its competitors are China’s ZTE, the Swedish multinational Ericsson, Korea’s Samsung and Finland’s Nokia.

There are none yet from the United States, although reports say Apple will release 5G phones next year.

But the main issues are in the 5G infrastructure where Huawei holds more of the critical patents than others. Globally, it appears to be winning the most contracts.

There is a risk that the rejection of Huawei by some will end up, in the longer term, dividing the world into zones committed to different standards, limiting interconnection.

Standard-setting bodies have expressed concern.

Different standards could constrain the development of global supply chains, pushing up prices. They could impede the scale of application and diffusion of new technologies, limiting what 5G is capable of achieving.

One estimate suggests that banning Huawei could push up costs 30%.

Huawei poses risks…

In announcing what amounted to bans on Huawei (and also China’s ZTE), the Australian government said 5G required a change in the way the networks operate compared to previous mobile technologies.

These changes will increase the potential for threats to our telecommunications networks, and these threats will increase over time as more services come online.

The government had found “no combination of technical security controls that sufficiently mitigate the risks”.

Vendors likely to be subject to extrajudicial directions from foreign governments risked failure to adequately protect 5G networks from unauthorised access or interference.

Huawei said those security concerns could be managed, as do British cyber-security chiefs.

…which can be mitigated

Europe has noted the risks and is developing a risk mitigation strategy.

Southeast Asian economies are considering degrees of engagement with Huawei.

Worth continuing attention by Australia is what former US defence secretary Robert Gates calls the “small yard, high fence” approach.

It means defining exactly where the risks lie and intervening directly to manage them, something Europe is working on.

The US appeared to be struggling after Trump’s May order. The Commerce Department was given 150 days to come up with regulations to implement it. It released a draft only last week.


Read more: US ban on Huawei likely following Trump cybersecurity crackdown – and Australia is on board


There were reports of tension in the US between those who would take the risk-based approach and others who would simply keep Huawei on the banned provider list.

Commerce has, finally, proposed a case by case approach, and has not named any particular provider. But the Federal Communications Commission has banned Huawei from access to its universal services subsidies.

International cooperation could give us room to solve the problem. It could include cooperation with China. China and Australia share concerns about cybersecurity and could together in the same way as we do over other standards to facilitate trade.

Attempting to completely eliminate risk could lumber us with big costs. Some would be financial, others might come from stunting the next technological revolution.

Christopher Findlay, Honorary Professor of Economics, Australian National University

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.

The Conversation

Africa should focus on industrialisation. Free trade will follow

Michael E Odijie, University of Cambridge

The African Continental Free Trade Area is a continental agreement which came into force in May 2019. It covers trade in goods and services, investment, intellectual property rights and competition policy. Of the 55 African Union member states, only Eritrea has yet to sign it.

The immediate objective of the free trade area is principally to boost trade within Africa by eliminating up to 90% of the tariffs on goods and reducing non-tariff barriers to trade.

In 2017, the exports and imports between African countries represented only 16.6% of Africa’s total exports. This figure is low compared with exports within other regions: 68.1% in Europe, 59.4% in Asia, and 55.0% in America.

Proponents of the free trade area say that increasing intra-Africa trade will provide larger markets for African producers and encourage manufacturing. It will also help achieve a better connection between production and consumption. The United Nations Conference on Trade and Development argues that the phase of transition to the free trade area alone could boost intra-African trade by 33% and increase manufacturing in Africa.

This line of argument is that free trade leads to industrialisation and structural change. But in my view it works the other way round: industrialisation leads to free trade.

Industrialisation should come first

Low intra-Africa trade is indeed an indication that African countries do not consume what they produce. But this is a problem of production (product focus), not trade. The export products of most African countries, which follow the colonial pattern, influence the trade strategies, trade agreements and trade- related infrastructure.

For example, it is cheaper for Côte d’Ivoire to export products to the Netherlands than to some other African countries. This is simply because Côte d’Ivoire’s main export product is cocoa beans and the Netherlands (as well as France and other European countries) is the main destination for the product. Côte d’Ivoire has developed its trade strategy and infrastructure accordingly. If Côte d’Ivoire alters its production focus, its target market will be altered and it will build a trade strategy accordingly.

African countries have to change their production focus to change their trade focus. For example, Nigeria recently started to export cement products. In my research I showed how this led the government of Nigeria to invest in alternative freight schemes, upgrade terminals and create a cross-border trade facilitation committee to aid the cement industry’s export strategy. It also set up a senior trade committee to resolve the non-tariff barriers imposed by Nigeria’s neighbours and countries of interest to the cement sector.

Trade-related infrastructure is specific to the products that countries have to sell. It’s similar to traders renting their shops according to the products they sell. Developing free trade that is not product-based would be like a prospective trader renting a shop in the hope of developing a certain product in the future. The problem with such an approach is that the features of the shop confine the trader to certain lines of business.

Likewise, negotiating and signing a free trade agreement could confine a country’s efforts to industrialise.

This is important because manufacturing plays a key role in the processes of economic transformation required for high quality growth, job creation and improving incomes. Yet the share of manufacturing in GDP has been falling in sub-Saharan Africa over the past three decades.

The problem of coordination

In my research I showed how the African free trade area could impede industrial policy through a lack of coordination between the policies of different countries.

This is how industrialisation works: a government decides to promote a particular sector (as Nigeria did in 2002 for cement) and grant players in the sector several incentives. These could be a domestic market (through protection), subsidies and tax breaks to reduce the risk of investment. Industrial policy does not always succeed. But when it does, the sector will eventually be able to start exporting. At this point, the government will help the sector with trade strategies – finding and accessing a market – and create an appropriate trade infrastructure.

The free trade area could deprive states of the policy space to select and protect specific sectors. It could create numerous coordination problems when states use their ‘sensitive products’ to pursue industrialisation.

For example, industrial policies could be duplicated by countries in the free trade area. This would undermine the advantage of having a large market. There could be contradictory policies, such as one country attempting to reduce intensive agriculture while another seeks to increase it. One country might make decisions that create problems for the industrial policies of other countries. These contradictions have occurred at the regional level, but they are easier to solve when fewer countries are involved.

Industrialisation would flourish under the African free trade area if industrial policies were to be implemented at the continental level, as opposed to the state level, with no state sensitive products. But even the European Union has not attained such a high level of integration. And there are political interests that suggest it would be impossible in Africa.

There are other obvious problems with the agreement.

One is implementation. Even regional integration in Africa faces hurdles, though it involves fewer countries and less commitment. Expecting more than 50 African countries to implement free trade efficiently is idealistic. Nigeria recently closed its borders, violating both the spirit of the Africa Union agreement and the letter of its commitment to the Economic Community of West African States. Sudan, Rwanda, Kenya and Eritrea did the same earlier this year.

It is more reasonable to concentrate on building regions and industrialising before attempting the African free trade area.

Michael E Odijie, Post Doctoral Researcher, University of Cambridge

This article is republished from The Conversation under a Creative Commons license. Read the original article.